Begini Proses Bisnis Berkembang di Instagram

Tahun lalu, Instagram melakukan lebih banyak perubahan dibandingkan sebelumnya. Pertama fitur baru Instagram Stories, yang diperkenalkan sebagai cara baru bagi bisnis untuk berbagi momen keseharian. Kedua peluncuran identitas baru Instagram. Dan ketiga, komunitas Instagram yang telah tumbuh lebih dari 600juta secara global.

instagramstoriesData internal Instagram Maret ini mendukung klaim mereka bahwa Instagram telah menjadi tempat bagi bisnis untuk berkembang dengan baik. Saat ini terdapat 8 juta pebisnis menggunakan profil bisnis di akun Instagram mereka, dengan adopsi terbanyak dari Amerika Serikat, Brazil, Indonesia, Rusia, dan Inggris. Instagram juga memiliki lebih dari 1 juta pengiklan aktif, lebih dari kelipatan ganda dalam enam bulan terakhir. September 2016 lalu Instagram mengumumkan pengiklan aktif mereka berada pada angka 500 ribu.

Catatan internal Instagram bulan Februari menambahkan bahwa lebih dari 120 juta Instagrammer telah mengunjungi situs, mendapatkan arahan, menelpon, mengirimkan surel, atau pesan untuk mengetahui lebih banyak mengenai sebuah bisnis. Orang-orang itu awalnya bergabung di Instagram karena mengikuti minat –dari travel, fashion, makanan, hibunan dan lainnya, yang kemudian diperluas menuju brand, dengan 80% dari mereka mengikuti sebuah akun bisnis. “Seiring dengan upaya kami untuk terus membangun bisnis yang mendorong hubungan ini, kami pun akan melakukan evolusi terhadap profil Instagram Business. Misalnya, kemampuan melakukan booking layanan dengan sebuah bisnis langsung dari profil mereka yang akan kami kenalkan di tahun ini ,” demikian janji yang dirilis Manajemen Instagram.

Bagaimana proses bisnis itu terjadi? Paling tidak ada dua prinsip Instagram yang disukai para Instagrammer dalam mengembangkan bisnis mereka. Pertama, simplicity matters. Perangkat fitur seperti Boomerang dan Hyperlapse membantu pengguna dan bisnis untuk menghasilkan konten yang menarik dengan cepat. Dan dengan platform mobile-first, memasang iklan juga menjadi lebih mudah. Hanya diperlukan empat pilihan untuk memasang iklan dari profil bisnis.

Kedua, aksi yang jelas. Sebagian besar pengiklan dan mereka yang menggunakan business tools merupakan bisnis berskala kecil seperti Shari Lott, CEO dan Founder SpearmintLOVE, situs yang menjual pakaian serta aksesoris bayi dan balita. “Instagram memberi kami kesempatan untuk mengembangkan bisnis. Dari awal, komunitas sesama ibulah yang membantu untuk mempromosikan, kemudian pembeli juga ikut men-tag kami di foto-foto produk yang mereka ingin untuk ada di toko kami, hingga akhirnya meningkatkan penjualan melalui iklan yang menjangkau orang-orang yang tertarik namun belum membeli,” paparnya.

Selain itu, ada juga Suann Song, founder dan creative designer dari Appointed, perusahaan barang-barang yang terbuat dari kertas, berbasis di Washington, D.C. Memiliki ketertarikan sebagai perancang, Suann terinspirasi oleh kertas-kertas yang ditemukannya ketika bepergian, dan memutuskan untuk membangun mereknya sendiri pada tahun 2015. Perusahaan ini dimulai di Instagram dengan membangun kesadaran untuk kampanye Kickstarter-nya.

Baru- baru ini, untuk merayakan peringatan dua tahunnya, Appointed mengunggah produk yang secara eksklusif hadir di Instagram dengan menggunakan multi-image post dan kemudian memasang iklan, dan hampir menjual seluruh produknya. Appointed kini menawarkan lebih dari 50 produk dan tersedia di 300 toko. “Dari seluruh perangkat fitur yang kami gunakan, Instagram selalu berperan penting dalam apapun yang kami lakukan,” ujar Song, “Dan Instagram akan memainkan peran penting dalam bagaimana kami menggandakan keuntungan  kami tahun ini,” ujarnya testimonial.

Agenda Terbaru untuk Para Instagramers

Tahun ini Instagram berencana untuk membantu pengguna terhubung dengan bisnis-bisnisyang menarik untuk mereka di Instagram. Instagram mulai dengan lebih banyak insight di stories, post yang disimpan, dan multi-post sehingga bisnis para pebisnis dapat terus mendapatkan perspektif dari pengikutnya.

instagram community

Penemu-penemu Matchaeologist, brand luxury matcha (teh bubuk) mengutarakan, “Insight memberikan kami perspektif baru terhadap pengikut kami. Tadinya kami pikir sebagian besar berlokasi di Inggris, namun kami menemukan jumlah yang signifikan di Hong Kong dan Taiwan. Kini kami mengunggah konten kami lebih awal sehingga kami bisa menjangkau pengguna sebelum mereka tidur. Sebagai hasilnya, kami mendapatkan peningkatan interaksi dan penjualan dari negara-negara tersebut, dan membantu kami untuk mengembangkan bisnis kami ke orang-orang di seluruh dunia.”

Dan bukan hanya insight yang membantu bisnis ini, perusahaan tersebut juga menerima pesan dari banyak orang melalui profil mereka. “Sejak berganti ke profil bisnis di Instagram, jumlah orang yang menghubungi kami secara langsung meningkat; baik melalui telpon, surel, atau direct message.”

Untuk membantu jutaan bisnis di seluruh dunia, Instagram berencana untuk terus mengembangkan profil bisnis Instagram. Sebagai contoh, Instagram akan meluncurkan fitur untuk memesan jasa dari bisnis secara langsung dari profil mereka tahun ini.

Engagement dengan Aplikasi Kahoot! di Media Gathering XL

Tentu karena kesan yang sangat kuat sehingga sehingga seorang peserta media gathering yang diadakan PT XL Axiata Tbk (XL) di Cirebon 23-24 Februari lalu mengganti grup What’s Apps itu dengan nama “Tragedi Kahoot! ”. Grup sementara ini, oleh tim marketing communications XL, sebelumnya dinamakan “XL Media Gath Cirebon” yang dibuat beberapa hari sebelum acara berlangsung.

Kata “Kahoot!” menjadi hits dalam rombongan media peserta gathering tersebut, sejak dikenalkan melalui quiz beregu, usai konferensi pers dalam pembukaan XL Center di Mal Super Block Cirebon pada 23 Februari siang. IMG-20170317-WA0005

Sesuai tema gathering, materi quiz tidak jauh dari konten acara. Hal ini tentu saja memaksa para jurnalis untuk menyimak presentasi yang dilakukan narasumber dengan sungguh-sungguh. “Kami berharap pesan dari perusahaan menjadi lebih mudah ditangkap karena para jurnalis menjadi benar-benar fokus terhadap informasi yang dipaparkan,” ujar Tri Wahyuningsih Harlianti, GM Corporate Communications XL yang biasa disapa para wartawan dengan panggilan Ayu.

Sekitar 30 orang wartawan bisnis dan lifetyle dari Jakarta dan Bandung diangkut ke Cirebon untuk menghadiri peresmian pusat layanan XPlor ke 11 di Super Block Cirebon pada Kamis (23/2). Service center ini resmi dibuka pada Kamis (23/2) oleh General Manager Finance and Management Services XL Axiata Central Region Taufik Hidayat, dan General Manager Sales Operation XL Axiata West Java Area Tommy Chandra Dirgantara, didampingi oleh General Manager Retail Store XL Axiata Donalfi. Selain kalangan jurnalis, XL juga mengundang para pelanggan loyal dan mitra bisnis mereka dari area tersebut. ”XPlore merupakan inovasi layanan baru kombinasi XL Centre dengan direct experience yang bisa dinikmati pelanggan,” demikian presentasi dari Taufik Hidayat, sang General Manager.

Latar Belakang

Secara korporat, ekspansi Xplor juga bertujuan untuk mengembangkan jaringan dan ekosistem 4G LTE XL di berbagai kota. Jumlah pelanggan 4G XL hingga saat ini terus meningkat menjadi sekitar 12 juta, dari sebelumnya sekitar 10 juta per akhir 2016 lalu. Xplor di Cirebon merupakan Pusat Layanan Pelanggan ke 11 yang dimiliki XL dan akan terus ditambah lagi kehadirannya di kota-kota lainnya di Indonesia.

IMG-20170316-WA0009Fungsi Xplor, papar Taufik, sebenarnya tidak jauh beda dengan XL Center dalam memberikan layanan, termasuk dalam penjualan produk layanan XL Axiata. Bedanya Xplor menyediakan fasilitas tambahan yang dapat dinikmati pelanggan secara langsung. Antara lain berupa sarana mendapatkan pengalaman dan edukasi mengenai gaya hidup digital. Di Xplor pelanggan dan masyarakat juga bisa mencoba dan mengenal berbagai perangkat digital terbaru. Termasuk juga mencoba layanana XL Axiata. “Xplor menjadi tempat one stop shopping dan memberikan solusi atas kebutuhan data dan digital pelanggan. ,” tambahnya.

Usai seremonial pembukaan outlet Xplos, wartawan secara khusus diberikan presentasi tambahan mengenai produk 4G XL dan data pasarnya di Cirebon serta ekspose mengenai kota udang tersebut. “Kami memang ingin menaikkan (publisitas) kota-kota 4G level kedua yang selama ini kurang terekspose. Orang tahunya 4G hanya ada di kota-kota besar utama di Indonesia,” jelas Ayu.

Eksekusi

Usai presentasi inilah, aplikasi Kahoot! diperkenalkan kepada wartawan dalam bentuk quiz beregu. Untuk memulai game ini, mereka diminta untuk menginstal aplikasi di perangkat Android milik masing-masing.

Selain untuk mengetahui level pemahaman target audiens (dalam hal ini para jurnalis) terhadap pesan yang ingin disampaikan XL melalui paparan sebelumnya, game Kahoot! juga diinginkan untuk meningkatkan antusiasme serta menguatkan bonding dari para peserta dalam acara yang berlangsung selama 2 hari tersebut. Terbukti, Games Kahoot! dapat mengubah suasana komunitas menjadi sebuah gameshow namun tak lepas dari pesan yang ingin disampaikan pemberi materi.

Aplikasi ini bisa digunakan untuk melakukan quis, diskusi dan survei. Untuk bergabung, peserta harus memasukkan PIN dan nickname yang kemudian akan muncul di layar. Game dimulai setelah moderator mengklik tombol start dan seluruh peserta mesti berlomba menjawab pertanyaan yang muncul berurutan. Setiap pertanyaan memiliki limit waktu jawab yang akan diikuti statistik respon dan pesertanya. Score teratas akan muncul setelah moderator mengklik tombol next. Fitur data analytic/scoring inilah yang membedakan Kahoot! dengan aplikasi mentimeter yang hanya menghasilkan data total. Aplikasi mentimeter juga sempat digunakan oleh tim XL sebelum keberangkatan rombongan ke Cirebon, sekadar untuk pemanasan dan menciptakan bonding awal antar seluruh peserta dan panitia.

Menurut Ayu, aplikasi Kahoot! sudah beberapa kali dipakai tim marcomm XL untuk meramaikan acara gathering. Baik gathering karyawan internal, maupun dengan pihak ketiga seperti jurnalis/fotografer. Waktu di Bogor dalam familiy gathering karyawan XL, game ini bahkan diikuti 2000 peserta secara serempak.

Untuk para wartawan peserta gathering Cirebon, Quiz Kahoot! menjadi bagian dari rangkaian game offline yang mereka namakan “Amazing Race, 4G Experience”. Sesuai namanya, menurut Ayu, tujuan game tersebut memang untuk menaikkan publisitas kota-kota 4G level kedua yang selama kini kurang terekspose seperti Cirebon. Secara riil, para jurnalis diajak mengeksplore lima titik wisata di kota Cirebon dengan mengendarai puluhan becak yang disewa khusus oleh XL. Dengan beberapa kata kunci tim XL dan panduan online yang harus diakses melalui layanan 4G, setiap grup jurnalis harus menemukan lokasi-lokasi tersebut untuk menjawab pertanyaan lanjutan yang disediakan panitia. Mulai dari Taman Sari Gua Sunyaragi yang unik dan penuh misteri, Masjid At Taqwa yang indah dan bersih (sampai ke mukena-mukenanya), Kraton Kasepuhan yang berwibawa, Kraton Kanoman yang gaya bangunannya banyak mengadaptasi budaya Hindu, hingga titik terakhir di Cirebon Waterland (Taman Ade Irma Suryani) yang berada di tepian Pantai Utara Pulau Jawa. IMG-20170316-WA0011

Pada setiap titik tersebut, setiap grup mendapatkan tantangan. Di Gua Sunyaragi mereka harus menjawab pertanyaan seputar sejarah situs budaya tersebut serta menemukan koin yang disembunyikan para panitia, serta mesti berfoto dengan gaya unik. Di pos masjid At Taqwa mereka harus melakukan rekaman video. Di Pos Pasar Kanoman mereka harus menemukan seorang penjual tahu gejrot dan berpose unik serta berbelanja makanan khas Cirebon sejumlah Rp 100 ribu. Di Kraton Kasepuhan mereka mendapat tantangan untuk menyelesaikan puzzle foto suasana keraton dalam potongan kecil-kecil yang butuh ketabahan. Semua foto-foto dan video ketika menyelesaikan tantagan tersebut harus diunggah ke media sosial (Instagram dan Twitter) peserta dengan hashtag #XluntukIndonesia dan #CirebonXtra. IMG-20170317-WA0003

Terakhir, di pos Cirebon Waterboom, selain menikmati sunset, para peserta juga kembali menyelesaikan quiz dari Kahoot. Pada titik ini, posisi grup yang tadinya berada di urutan teratas karena keunggulan fisiknya bisa tiba-tiba melorot, kalah beruntung dibandingkan grup lain yang berhasil mendapatkan bonus point melalui pengambilan kartu secara acak.
Bukan cuma di situ Kahoot! mengacak-acak emosi peserta. “Jetcoaster” terakhir diberikan pada quiz ketiga usai para peserta makan malam di sebuah resto seafood. Inilah penentuan akhir keberuntungan grup peserta. Seperti yang pertama, di sini para peserta mesti berlomba menjawab pertanyaan dengan benar, dan adu cepat untuk mendapatkan poin tertinggi.

Dan akhirnya…. terjadilah yang tidak terduga. Grup yang tadinya sudah mendapatkn poin tertinggi, terjun bebas pada urutan ke-6. Sementara yang berada di nomor buncit, justru melesat di posisi runner up. Alhasil, berbagai komentar expresif dari para peserta pun berlompatan di grup. “Tragedi Kahoot! memakan korban!“ (dengan emoticon tertawa lebar), “Kahoot! jadi viral”, “Kahoot! bikin bangkrut”, “Alhamdulillah kami diuntungkan oleh mas Kahoot”, hingga “What’s happen in Cirebon, stay in Cirebon ya #CirebonrasaVegas”.

Dari sisi korporat, menurut Ayu, konsep game ini sesuai dengan strategi perusahaan yang mengarah kepada digital marketing. Menurutnya, format game Kahoot! terbukti telah memberikan beberapa manfaat langsung terhadap korporat hingga mereka selalu membesutnya untuk berbagai program komunitas. Pertama untuk melihat seberapa besar level pemahaman target audiens yang menjadi peserta permainan setelah pihak korporat melakukan presentasi. Dengan pertanyaan melalui quiz seperti ini, jurnalis bisa benar-benar fokus terhadap informasi yang dipaparkan karena mereka seperti “dipaksa” menyimak materi presentasi.

IMG-20170316-WA0003

Kedua, memberikan experience kepada target. Quiz real time ini memberikan suasana seru dan fun karena peserta berlomba-lomba menjawab terlebih dahulu. Ketiga menjadi sarana untuk menciptakan interaksi yang erat di antara para peserta dengan pihak korporat, apalagi pada setiap grup tersebut selalu ada orang XL yang “ditanamkan”.

Ketiga, pelibatan semua peserta secara digital dengan materi-materi seputar Cirebon, diharapkan ikut mengangkat branding kota yang tengah bersiap menjadi destinasi pilihan masyarakat Jakarta Bogor, Depok, Tangerang Bekasi (Jabodetabek) yang dikenal memiliki spending power cukup tinggi. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari Ibukota, pilihan destinasi beragam, sajian budaya yang menarik, ragam kuliner yang eksotis, serta tawaran produk oleh-oleh yang memadai, Cirebon layak menjadi tujuan wisata selain Bandung yang sudah kini selalu macet dipenuhi mobil-mobil plat B pada akhir pekan.

Hasil
AyuIMG-20170317-WA0001 memaparkan, selama hari itu #CirebonXplor dan #XLuntukIndonesia menjadi trending topik bahkan masuk sepuluh besar di media sosial (Twitterl dan Instragram). Kedua, dari sisi publikasi, menurut Ayu, media record memperlihatkan hasil yang sesuai bahkan melampaui harapan. Baik secara kuantitas mau pun kualitas. Message mengenai 4G XL tercover, selain itu ada benefit tambahan yang diharapkan bisa menjadi kontribusi XL kepada Pemda setempat  yaitu branding kota berupa eksposure media mengenai budaya dan kuliner Cirebon. Sedikit catatan, cukup disayangkan dalam acara ini pihak Pemda sebagai stakeholder wilayah tidak dilibatkan secara langsung.

Ketiga, tim marcomm XL yang menjadi penyelenggara acara merasakan terciptanya relasi yang lebih kuat antara XL dengan jurnalis. “Nyatanya sampai sekarang sebagian besar teman wartawan belum left dari grup,” ujar Ayu seraya tertawa kecil. “Special thanks untuk pencipta aplikasi Kahoot. Manja sekaliiiih permainan iniiiih. Maaf saya hempas ke Jekarda duluaaan,” demikian kutipan pamit Wayan, wartawan yang meninggalkan Cirebon lebih awal dalam grup Tragedi Kahoot!

Keempat, setelah tiga pekan penyelenggaraan event ini, XL mendapatkan lebih dari 50 pemberitaan dengan nilai PR Value lebih dari Rp 9 miliar. (Nurur R. Bintari)

Aplikasi online Kahoot! dapat mengubah suasana komunitas menjadi sebuah gameshow namun tetap efektif untuk menyampaikan pesan dari pemberi materi. Bagaimana Tim Marcomm XL mengadaptasinya untuk mencapai tujuan korporat?

Program Internal PR Kreatif Putra Sampoerna Foundation

Hubungan perusahaan dengan publik internal sama pentingnya dengan publik eksternal. Namun seringkali program internal PR tidak dibuat serius sehingga jatuhnya generik, nyaris tanpa kreativitas. Putra Sampoerna Foundation mematahkan kebiasaan itu dengan merancang program “Fun(d) Nation” yang fun dan efektif. Seperti apa? Bagaimana hasilnya?

Dengan lebih kurang 1.000 karyawan yang terpencar-pencar di beberapa lokasi, masuk akal bukan, kalau kebanyakan karyawan Putra Sampoerna Foundation (PSF) itu tidak saling mengenal satu sama lain? Padahal, seperti banyak kita percayai, perusahaan yang berhasil adalah perusahaan yang di dalamnya terdapat hubungan kerja yang baik, baik antar sesama karyawan, maupun karyawan dengan atasannya.

Dan seperti dikatakan oleh Frank Jefkins dalam bukunya, “Public Relations”, hubungan publik internal sama pentingnya dengan hubungan publik eksternal, karena kedua bentuk hubungan tersebut diumpamakan sebagai kedua sisi mata uang yang memiliki arti sama dan saling terkait satu sama lain. Komunikasi yang dilakukan internal PR sangat penting dalam penyelesaian dan mengatasi permasalahan atau kesalahaman komunikasi yang acap terjadi dalam hubungan internal perusahaan.Maklum saja, tidak jelasnya informasi yang didapat karyawan, seringkali menjadi penyebab timbulnya ketidakharmonisan dalam sistem kerja. Banyaknya variasi kerja, latar belakang pendidikan yang bermacam-macam, adanya spesialisasi kerja dan beraneka tingkat ataupun level kerja karyawan, menciptakan potensi kesalahpahamam di dalam diri karyawan yang berbeda untuk pesan yang sama.

Untuk mencapai visi dan misi perusahaan—agar sesuai dengan yang diharapkan, seluruh awak perusahaan perlu menciptakan gerak langkah bersama.

Untuk objektif serupa itulah, pada akhir November lalu (tulisan ini dibuat tahun 2014) Cultural Development Unit  (CDU) PSF bekerjasama dengan Divisi Human Resources (HR)-nya menyelenggarakan program “Fun(d) Nation”, event akhir tahun untuk seluruh karyawan. “Maksudnya memang untuk mengakrabkan seluruh karyawan yang jumlahnya lebih dari 1.000 orang. Bagaimana caranya agar masing-masing punya bonding karena inilah yag sangat susah didapatkan,” jelas Sandra Darmosumarto, PR Manager PSF.

Maklum saja, tambahnya, ke-1.000 karyawan itu terpencar di beberapa unit kantor yang lokasinya terpisah-pisah. Ada yang sehari-hari di PSF pusat (Jl, Jenderal Sudirman, Jakarta), di Akademi Siswa Bangsa Internasional (ASBI) dan ada pula yang di Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI). Bahkan pada karyawan yang berkerja di satu lokasi kantor pun, bisa jadi jarang terjadi pertemuan karena banyak di antara mereka yang seringkali harus pergi dinas ke luar kota.

Event end year employee tahun ini memang sangat berbeda dengan model-model event tahun sebelumnya yang cenderung sekadar kumpul-kumpul dan pesta. Menurut Sandra, model kumpul-kumpul seperti itu kurang efektif untuk menjalin bonding antar karyawan karena pada akhirnya hanya orang itu-itu juga yang berperan, ditambah acara hanya berlangsung selama satu hari.

Pemrakarsa kegiatan tersebut adalah Sendy Widjaja, head cultural development unit, yang selain ingin menciptakan bonding antar karyawan juga memiliki kepentingan untuk menanamkan value-value perusahaan yang sudah ditanamkan sebagai kredo oleh pendirinya, Putra Sampoerna. internpr2

Maka “Fun(d) Nation” kemudian dirancang sebagai sebuah event kreatif yang melibatkan semua karyawan dalam kelompok-kelompok yang tercampur baur dari semua departemen. Dipisah dalam sembilan tim, setiap tim berisi lebih kurang 40 orang karyawan dari berbagai divisi dan level organisasi. Jadi pada setiap tim selalu terdapat seorang BOD (board of Director), seorang atau dua orang team leader yang sehari-hari berada pada level manager dan memiliki kemampuan managing people, official biasa, sampai level terendah semacam office boy (OB). “Member tim dari departemen yang berbeda-beda sehingga—terpaksa—saling kenal dan bekerjasama,” Sandra terkekeh ketika menyebut kata “terpaksa”. Terus terang ia mengaku, tanpa cara seperti ini kemungkinan besar ia akan tidak kenal dengan teman-temannya yang berkantor di USBI atau ASBI.

Bukan hanya untuk menjalin ikatan batin antarkaryawan, program internal PR ini juga dimaksudkan untuk menanamkan nilai-nilai (credo) perusahaan yang diciptakan pendirinya Putra Sampoerna. Secara taktis, penanaman sembilan filosofi dan culture perusahaan ini diterapkan sebagai nama sembilan tim yang terbentuk. Masing-masing adalah pertama tim profesional leadership & management; kedua tim objective & fair; ketiga teamwork & accountability; keempat, achieve full potential, dan kelima, the three hands. Lalu keenam, fiduciary responsibility to our shareholders; ketujuh, a good neighbour & corporate citizen; delapan, committed to nation building, dan terakhir, forward looking; “a company for tomorrow”.

Objective lain langsung merujuk pada judul event,“Fun(d) Nation” yaitu penggalangan dana. “Dengan dasar pemikiran bahwa kita sendiri merupakan institusi bisnis sosial, tapi kita sendiri hampir tidak pernah menggalang dana untuk programnya, maka tahun ini tim HR (human resources) sengaja membuat tema fun(d) nation,” papar Sandra.

Senyampang penanaman nilai khusus PSF –leadership, entrepreunership dan social responsibility—kepada para siswanya, lanjut Sandra, manajemen ingin agar para karyawan juga memahami, dan menerapkan ketiga pilar tersebut, serta percaya dan yakin terhadap kredo Sampoerna. Dan kegiatan penggalangan dana dipandang tepat sebagai semacam ‘laboratorium’ untuk praktik ketiga nilai tersebut karena di sana terdapat unsur kepemimpinan, kewirausahaan dan kepekaan sosial.

Apa yang kemudian dilakukan oleh tim itu? Sesuai tajuk event, selama kurun dua minggu, mereka harus mencari dana untuk disumbangkan pada dua jenis ‘produk’ filantrophy milik PSF yaitu Save the Teen dan Bait al Kamil.

Save the Teenmerupakan kampanye penggalangan dana inisiatif PSF yang dimulai sejak 2009. Tujuannya untuk mengajak setiap individu dan perusahaan yang peduli untuk menyalurkan bantuan finansial kepada generasi muda berprestasi dan berkarakter yang akan menjadi calon pemimpin bangsa di masa depan. Anak-anak terpilih dari kalangan kurang mampu (keluarga prasejahtera) itu nantinya akan diberikan beasiswa untuk bersekolah di ASBI.

Sejak dimulai, program ini telah berhasil menggandeng mitra-mitra yang turut berfungsi sebagai agen perubahan dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Untuk mereka, team dari Save a Teen membuat program atau mekanisme penggalangan dana yang disesuaikan dengan model bisnis para mitra yang bisa dilakukan melalui beragam jalur. Misalnya donasi online, pengisian lembar komitmen atau melalui program-program ritel menarik dari mitra pendukung.

Sementara Bait al Kamil adalah mitra strategis yayasan PSF yang bertindak sebagai penyalur zakat dai Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Melalui kemitraan ini, PSF menjadi lembaga swadaya masyarakat (LSM) sekuler pertama dan satu-satunya di Indonesia yang telah mendapatkan sertifikat dan ijin resmi dalam pengelolaan zakat, wakaf, infak sedekah serta dana kemanusiaan. Jadi dari awal program ini memang sudah dirancang terintegrasi dengan core product perusahaan,” tandas Sandra.

Nah, yang menarik dari event “Fun(d) Nation” adalah eksekusinya. Sejak diumumkan oleh departemen HR seminggu sebelumnya, setiap regu dipersilakan merancang program sekreatif dan semenarik mungkin untuk penggalangan dana. Maka muncullah berbagai ide kreatif yang kadang-kadang mengejutkan dari berbagai tim.

Tim community yang dikomandani Sandra misalnya, membuat program “Hug Indonate” yang terinspirasi dari program kissing booth fundraising. Jadi tiap kali berhasil memeluk target, ‘korban’ harus membayar pelukan itu dengan harga tertentu. Maka jadilah selama dua minggu itu, setiap sudut kantor dan area PSF, ASBI serta USBI serupa panggung teatrikal yang menyuguhkan adegan pelukan kejutan antar karyawan di mana-mana.

Panggung ini bahkan mereka luaskan sampai ke luar ekosistem, yakni pada occasion tengah bulanan “Car Free Day” di sepanjang Jalan Sudirman. Layaknya sebuah aktivasi yang serius, Sandra dan kawan-kawan juga menyusun sebuah struktur organisasi yang selain dihuni para eksekutor juga memiliki unsur tim sales. Dengan penampilan semenarik mungkin, para ‘penjual’ ini bertugas mewartakan kegiatan mereka kepada audience terbuka. Jika korban tidak bersedia ‘membeli pelukan’ itu, mereka memberi alternatif untuk membeli pembatas buku (bookmark) dengan lima desain menarik yang bercerita tentang kegiatan “Save the Teen”.

Tapi kebanyakan mau, sih. Bagi grup kami, aktivitas ini sekaligus merupakan kesempatan bagus untuk mengenalkan kepada masyarakat dan menimbulkan WOM (word of mouth) bahwa kami punya Save the Teen. Selama ini orang sudah aware terhadap program-program yang dimiliki organisasi semacam WWF (World Wildlife Fund), tapi jarang yang tahu program kita,” jelas Sandra panjang lebar. Tidak mengecewakan, selama dua minggu “Hug Indonate” berhasil mengumpulkan dana lebih dari Rp 2 juta.

Program penjualan bookmark juga mereka jalankan dengan serius. Seorang desainer grafis yang kebetulan menjadi salah satu member tim Sandra merancang pembatas buku yang unik dan mampu bercerita secara menarik mengenai Save the Teen, program ‘ritel’ PSF yang memberikan akses pendidikan kepada anak-anak kurang mampu. Ada lima serial yang mereka keluarkan, dan masing-masing mengandung kutipan kalimat bijak seputar pendidikan. Selain dijual dalam lingkup komunitas dalam dan event spesial Car free Day, produk itu juga mereka tawarkan kepada publik melalui berbagai media sosial: Path, Twitter dan Facebook.

Kelompok lain ada yang berinisiatif mengadakan program nonton bareng film premier. Dengan tiket seharga Rp 100.000 (harga normal Rp50.000), selain menikmati film premier, donatur juga diberi kesempatan untuk foto bersama artis pendukung. Untuk kepentingan ini, sudah tentu mereka harus bekerjasama dengan panitia penyelenggara.

 

Semua unsur perusahaan berperan dan ingin berkontribusi. Anak-anak muda idealis yang memiliki potensi, berlomba-lomba menampilkan kemampuannya untuk ‘dijual’. Sandra yang suka memasak sampai jualan brownies. Karyawan yang hobi memotret, beraksi sebagai candid cameraman berbayar. Selain ide konservatif semacam jualan susu jahe dan mie instan dari pantry, beberapa awak office boy bahkan berinisiatif membuka jasa pijat yang mampu menghasilkan donasi sebesar Rp 1,6 juta selama dua minggu.

Inilah the beauty of kerjasama. Kita kerahkan semua resources untuk menghasilkan,” timpal Tyas dari departemen social media. “Ini adalah tentang team work, leadership, entrepreuneurship dan jiwa sosial. Di sini kita bekerja bukan semata masalah uang. Jadi nilai -nilai dan kredo Putra Sampoerna benar-benar kita rasakan,” lanjutnya.

internalpr

Secara umum, menurut Sandra, objektif event internal PR itu tercapai terutama objektif terjalinnya bonding antar karyawan. Visi dan misi perusahaan berhasil dijiwai semua karyawan secara nyata yang bisa dilihat berdasarkan laporan hasil post mortem di antara mereka mengenai pelajaran apa yang berhasil dipetik selama event. Sekat-sekat komunikasi antar level organisasi juga bisa diterabas karena pegawai level bawah menjadi lebih bebas berkomunikasi dengan atasannya, bahkan dengan level BOD. Manajemen juga bersikap menjadi lebih terbuka terhadap masukan para karyawannya.

Secara kuantitatif event tersebut berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp141 juta. Secara kualitatif, penyelenggara melakukan evaluasi melalui penilaian dalam beberapa kategori kompetisi. Antara lain ide ter-fun, ide yang bisa diterapkan dalam skala lebih besar ke masyarakat. Selain itu sudah tentu penghargaan bagi kelompok yang berhasil mengumpulkan dana terbesar. *

Kiat Radio Bertahan di Era Disruption (bag.2)

Mitos, Digital Media Kalahkan Radio. Berbeda dengan industri media lain yang nyaris gagap dalam menyikapi era disruptive, pelaku industri radio terlihat paling lebur untuk go digital. Sikap relax ini setidaknya terlihat dari reaksi Adrian Syarkawi, CEO Gen FM yang berada di bawah naungan grup Mahaka. “Justru setelah tren digital, pertumbuhan kami meningkat 30%-40%. Buat kami ini benefit luar biasa karena kami bisa memberikan added value baru kepada pelanggan dan klien,” ujarnya.

Kondisi tersebut, menurut Adrian, tidak lepas dari sifat siaran radio yang sangat dekat dengan karakter channel digital dalam hal personality (customize)-nya. Data Nielsen Radio Audience Measurement (RAM) November tahun lalu merilis temuan bahwa saat ini, 4 dari 10 pendengar radio menikmati siaran radio melalui perangkat personal yaitu mobile phone. Tiga kota terbesar dari konsumen yang mendengarkan radio dari perangkat mobile mereka berada di kota Makassar (69%), Medan (44%) dan Jakarta (38%).

Radio tidak lagi didengarkan melalui radio tape saja, karena perilaku pendengar kini telah berubah dalam mendengarkan rasio dengan mengedepankan teknologi dan fleksibelitas. Radio kini berangkat menjadi media yang lebih personal bagi masing-masing konsumen. Sinergi antara radio dengan digital tidak terlalu mengubah behavior, hanya saja kalau dulu komunikasi dilakukan melalui alat konvensional seperti telepon dan SMS, sekarang semua channel digital bisa digunakan sehingga bisa merangkul lebih banyak pendengar.

rammelengkapiData itu juga memperlihatkan bahwa internet tidak lantas mengambil alih peran radio dari para pendengarnya. Radio dan internet juga bisa saling melengkapi karena para pendengar radio juga mengakses internet sehingga internet dapat menjadi platform bagi radio untuk menjangkau mereka.

Tak dapat dipungkiri bahwa ini menjadikan internet adalah media yang mudah diakses kapan saja dan di mana saja, namun kenyataannya internet tidak lantas mengambil alih peran radio dari para pendengarnya. Media Radio lebih menyasar pada para pendengar lokal dan bersaing sangat ketat dengan internet.

Data Nielsen menunjukkan, di beberapa kota seperti Yogyakarta, Bandung, Banjarmasin, Makassar dan Palembang, penggunaan radio masih melampaui internet. Radio masih dianggap sebagai media berbasis komunitas, sehingga pesan komunikasi yang tersampaikan melalui radio biasanya disesuaikan dengan pendengar yang lebih spesifik dan dirancang khusus untuk dapat menyesuaikan kebutuhan penduduk di kota-kota tertentu.

ramdimanasajaRumah masih menjadi tempat utama untuk mendengarkan radio, bagi 96% pendengar radio atau sekitar 19 juta orang. Mobil merupakan tempat yang potensial bagi para pendengar radio namun, jumlah pendengar yang mendengarkan radio dari mobil hanya mencapai 1,8 juta orang di kuartal ketiga 2016, dengan 1,4 juta di antaranya mendengarkan radio di rumah dan di mobil.

Walau beberapa waktu sebelumnya disajikan mitos bahwa kinerja radio terganggu atau bahkan turun karena kehadiran media digital, faktanya bisnis radio justru tidak turun karena terjadi kombinasi. Di beberapa kota radio bahkan masih unggul dibandingkan digital. Seperti di Jakarta, proporsinya kurang lebih sama. “Tapi buat radio sendiri, platform digital ini justru menjadi added value baru,” ujarnya.

Jauh sebelum era disruptive terjadi, menurut Adrian, Mahaka Grup sudah memutuskan untuk menjadikan masa transformasi digital sebagai sebuah peluang, bukan ancaman. Oleh karena itu sejak awal mereka sudah menyiapkan langkah-langkah strategis agar tidak berefek buruk kepada bisnis, namun justru menambah potensi. Yang paling sederhana saja, dengan platform digital sebuah konten siaran radio dengan mudah bisa didengarkan ulang oleh target yang tidak sempat menyimak waktu jam siaran. “Jadi kami malah bisa melebarkan target. Ini kan potensi yang lebih baik untuk bisnis radio,” ujarnya.

Bertambahnya platform digital, lanjut Adrian, otomatis juga menambah lengkap produk marketing integrated yang bisa mereka tawarkan kepada klien. Bagi Adrian, apakah platform melalui konvensional, atau digital, sebenarnya tidak berpengaruh terhadap jenis kategori industri klien karena yang harus diperhatikan tetap objektif kampanye. ”Jadi balik lagi pada kreatif dan konten,” tambahnya.

Kiat Radio Bertahan di Era Disruption (bag.1)

Melebur dengan “Pengganggu”-nya. Delapan tahun sejak fungsi-fungsinya “diganggu” oleh media digital, secara perlahan-lahan media konvensional beradaptasi dengan perubahan lansekap media di tanah air. Channel Radio, misalnya, kini makin konvergen dan jejaringnya makin tajam. “Radio meng-up grade dirinya melalui pola live streaming dan community marketing. Yup, community marketing di mana banyak radio daerah memanfaatkan pendengarnya sebagai audience bawaan untuk event dan activation. Jadi, jika ragu memilih local organizer, carilah radio yang memiliki jumlah audience yang besar,” kata Wirastomo Hadi, Creative Director Arcade Indonesia.

Di samping kemampuan personality-nya yang sangat lebur terhadap karakter industri digital, keunggulan lain dari media radio yang pantas diperhatikan brand adalah kekuatan jaringannya, baik dalam hal manajemen mau pun program. Nielsen Radio Audience Measurement (RAM) November tahun lalu merilis temuan bahwa meskipun internet tumbuh pesat, tidak berarti jangkauan akan pendengar radio menjadi jauh lebih rendah. Penetrasi radio saat ini terbilang cukup baik, yaitu berada di level 38% pada kuartal ketiga 2016. Dibandingkan media lainnya, memang penetrasi radio berada di bawah—media televisi 96%, media luar ruang 52% dan Internet (40%).

ram-mendengarlbhlamaAngka penetrasi mingguan itu menunjukkan bahwa media radio masih didengarkan oleh sekitar 20 juta audience Indonesia. Responden di 11 kota di Indonesia yang disurvei Nielsen ini setidaknya menghabiskan rata-rata waktu 139 menit per hari untuk mendengarkan radio. Waktu mendengarkan radio per minggu ini juga bertumbuh dari tahun ke tahun: jika pada 2014 pendengar radio hanya menghabiskan waktu 16 jam per minggu, pada 2015 meningkat menjadi 16 jam 14 menit, dan pada 2016 menjadi 16 jam 18 menit.

Data tersebut seperti bantahan atas asumsi bahwa kependengaran radio perlahan-lahan akan turun seiring waktu. Juga bertolak belakang dengan asumsi bahwa radio hanya didengarkan oleh generasi usia yang lebih berumur karena 57% dari total pendengar radio yang disurvei ternyata berasal dari Generasi Z dan Millenials atau para konsumen masa depan. ram-milenialsData persisnya begini. Kontribusi pendengar radio didominasi oleh Millenials 38%, Generasi X dengan 28%, dan Generasi Z 19%. Sementara pendengar radio pada Generasi Baby Boomers dan Silent Generation relatif lebih sedikit, masing-masing hanya berkontribusi sebesar 13% dan 2%.

Nielsen RAM merupakan survei pengukuran kependengaran radio terhadap kurang lebih 8.400 orang berusia 10 tahun ke atas di 11 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin). Informasi yang dihasilkan merupakan data terkait jumlah dan demografi dari pendengar radio serta tren dan habit mendengarkan mereka. Temuan itu menunjukkan bahwa tingkat penetrasi Radio pada konsumen, tertinggi berada di kota Palembang dengan angka 97%, disusul oleh pendengar di kota Makassar 60%, Bandung 54%, Banjarmasin 53%, dan Yogyakarta 51%.

Cakupan wilayah survei yang dibikin Nielsen ini dipermasalahkan oleh Budhy Purwana Yodhaswara, Ketua Bidang Organisasi Persatuan Radio Swasta Nasional Indonesia (PRSNI) karena kurang merepresentasikan kemampuan gelombang radio yang kenyataannya bisa menjangkau sampai wilayah grassroot, bahkan masuk daerah-daerah intim (personal) dari pendengarnya. “Berbeda dengan media visual (cetak dan televisi), kekuatan emosional radio bisa menjangkau siapa saja, di mana saja, bahkan sedang apa saja. Orang bisa nyangkul atau memasak sambil mendengarkan radio,” ujarnya.ramdaerah

Dan karakter itulah yang justru mampu membuat radio bertahan dalam kondisi sesulit apa pun. Maka dia tidak heran dengan fenomena survival industri radio di tengah gempuran dunia digital seperti yang direkam data Nielsen di atas. Hal lain yang ia kritisi adalah teknik survei yang dilakukan hanya satu waktu (harian) sehingga tidak bisa memotret sifat personality consumption-nya.

Seiring dengan durasi mendengarkan radio yang naik, placement iklan di radio juga terus meningkat pada semester pertama 2016 dan mencapai puncaknya menjelang Ramadhan pada Mei dan Juni 2016. Tren ini tentu menjadi kabar baik setelah selama lebih dari tiga dekade Radio Advertising Index (RADEX) secara konstan mengalami penurunan. Dari dua digit di era 1980-an, hingga sekarang tidak sampai satu digit dengan kisaran angka 0.6%-0.7% dibandingkan Advertising Index secara keseluruhan.

ramiklanSecara total, nilai belanja iklan (kotor) terbanyak berasal dari Shell, namun spot terbanyak di radio datang dari Unilever dengan 5,800 spots. Pengiklan terbesar (dalam belanja iklan kotor) di radio pada semester awal 2016 adalah Shell dengan Rp 18 miliar, Unilever Rp 7 miliar, Telkomsel Rp 6 miliar, Tokopedia Rp 5 miliar dan Alfamidi Rp 3 miliar.

Kepada para klien (brand) inilah Purwana berpesan agar para pelaku mengoptimalkan sifat konvergensi dan jejaring secara lebih tajam saat menjadikan radio sebagai media placement. Juga dalam sifat segmented, fragmented, formated dan inklusifitasnya. “Klien mestinya jeli karena radio seringkali dianggap sekadar suplemen, sehingga placement-nya kadang-kadang tidak sesuai dengan segmentasinya,” kritiknya.

Di samping kemampuan personality-nya yang sangat lebur terhadap karakter industri digital, keunggulan lain dari media radio yang pantas diperhatikan klien adalah kekuatan jaringan, baik dalam hal manajemen mau pun program. “Masalahnya, prosentase radio berjaringan masih kecil. Baik yang dilakukan secara manajemen mau pun dalam bentuk kerjasama program,” ujarnya.

Kian Dekat Pilkada 2017: Battle of Attention vs. Strategi Engagement

Blognyakrisniy

kursi-panas-dki-1

“In this overly saturated landscape, when tech and media companies compete for attention –in the form of time spent on their apps and websites– attention is a scarce resource.” –Rowland Manthorpe, associate editor at Wired UK

Kian dekat jadwal penyelenggaraan pilkada, intensitas pesan promosi (atau pesan sponsor?) yang menyokong pasangan calon (paslon) tertentu, akan semakin meningkat deras. Maklum, masih banyak pemilih yang

Lihat pos aslinya 1.638 kata lagi

Korban Internet Berikutnya: Periklanan

Blognyakrisniy

Malaikat Maut

The definition of creativity needs to change. The notion that traditional creative is king of advertising business, needs to change. Because the business has changed. We’re not in the advertising business anymore. Wake up!,” – Sir Martin Sorell, Global CEO of WPP Group.

WPP, ke depan tak lagi berbisnis di periklanan. CEO Global WPP, Sir Martin Sorell, yang mengkonfirmasikan sendiri hal itu. Ia menjelaskannya, saat berpidato

Lihat pos aslinya 1.491 kata lagi