THE HUGE YOUNG MUSLIM MARKET

Terhadap bisnis apa pun yang serius akan strategi pengembangannya, angka-angka ini memberitahukan segala hal mengenai pentingnya segmen Gen M(uslim). 

31

Di seluruh dunia, terdapat 1,6 miliar Muslim usia muda yang berkembang sangat cepat. Satu di antara tiga muslim berusia di bawah 15 tahun, dua di antara tiga berusia di bawah 30 tahun. Jumlah tersebut melebihi satu milyar orang, yang berkontribusi 14% dari populasi dunia. Di 81 negara, populasi Muslim akan melebihi 1 juta orang. Lebih dari 60% Muslim hidup di Asia dan 500 juta Muslim hidup sebagai minoritas di seluruh dunia. Di tempat-tempat seperti India—walau pun sekarang mereka adalah minoritas, mereka semakin banyak yang berada di kelas ekonomi menengah.

Pew Research Center on Religion and Public Life menyebutkan bahwa dalam 40 tahun ke depan, jumlah Muslim diekspektasi akan meningkat sebesar 73% dibandingkan 1,6 miliar muslim pada 2010, menjadi 2,8 miliar pada 2050. Dan pada 2030 sendiri Muslim akan berkontribusi sebanyak 26,5% dari populasi dunia.

Data tersebut disampaikan oleh OgilvyNoor, konsultan branding dan pelayanan komunikasi global yang berhubungan dengan pangsa muslim bersamaan dengan peluncuran buku “Generation M: Young Muslims Changing the World” yang ditulis oleh Wakil Presidennya, Shelina Janmohamed. Buku tersebut membahas mengenai peningkatan tren konsumerisme global yang berfokus kepada generasi Muslim. Hal ini berkaitan semakin bertambahnya jumlah populasi Muslim dan peranannya yang penting bagi perekonomian dunia.

Sang penulis buku, Shelina Janmohamed, menyebutkan, “Indonesia adalah salah satu pusat pergerakan Generasi Muslim. Hal ini sejalan dengan kondisi di mana Indonesia, secara rutin, menempati posisi atas dari prediksi pertumbuhan global. Dari sisi komersial dan kreatif, tanda-tanda pengaruh Generasi M di sekitar lingkungannya dan di tingkat global secara keseluruhan sudah semakin terlihat di mana-mana.” 

Di Indonesia, pertumbuhan konsumerisme Muslim telah terlihat bergerak naik sejak sekitar lima tahun yang lalu.cover Dari 750,000 usaha kecil dan menegah di bidang fesyen di Indonesia, 30% berada di dalam industri fesyen Muslim. Sedangkan dalam sektor pariwisata, Kementerian Pariwisata telah mencatat kenaikan wisatawan Muslim ke Indonesia dan terdapat peningkatan sebanyak 10% dari tahun 2014 ke 2015. Dalam jangka panjang, Indonesia menargetkan kedatangan 5 juta wisatawan Muslim ke Indonesia pada 2019 atau meningkat dua kali lipat dari target 2016. Rencana ambisius ini dilakukan untuk memaksimalkan upaya Indonesia untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar dari pasar Muslim yang selama ini baru bisa menarik 1,2% dari total market share total dunia dari pariwisata halal, di saat Malaysia dan Thailand masing-masing telah mendapatkan 25% dan 24% pada tahun lalu.

Dalam bukunya, Shelina mencatat lebih dari 90% konsumen muslim mengatakan konsumsi mereka terpengaruh kepercayaannya. 9Karena itu tidak heran kalau bisnis, produk dan brand yang melibatkan konsumen Muslim telah menarik perhatian yang sangat besar. Industri makanan halal dan gaya hidup, diestimasi memberikan kontribusi $1,8 triliun pada 2014, dan diprediksi akan meningkat ke $2,6 triliun pada 2020. Keuangan Islam juga diprediksi akan meningkat dari $1,3 triliun menjadi $2,6 trilliun.

Level teratas produk yang benar-benar dianggap harus dipatuhi kesesuaiannya dengan syariah adalah produk makanan, diary product, minuman dan perawatan mulut. Di bawahnya, kategori yang kesesuaiannya terhadap syariah dipandang penting adalah asesoris fesyen, perawatan kulit dan rambut, fashion apparel, regular finance dan body care. Pada level ketiga terdapat airlines, travel, asuransi, dan pembiayaan.

Siapakah sebenarnya Gen M ini? 35Mereka adalah generasi muslim masa depan yang memiliki keyakinan terhadap iman baik dan modern. Mereka merupakan pahlawan atas kehidupannya sendiri, menciptakan masa depannya dengan cara mereka sendiri. Mereka bangga menjadi muslim dan menjadi bagian dari komunitas besar yang penting. Mereka takut dan patuh kepada Tuhan, namun juga percaya terhadap kekuatan uang.

“Keimanan merupakan hal fundamental yang menjadi alasan saya waktu mulai bisnis ini, yang memungkinkan saya untuk melakukan proses belajar seumur hidup dan memungkinkan orang lain mendapat manfaat,” ujar Hajera Memon, Founder Shade 7 Publishing, Qur’an Pop Up Book pertama di dunia seperti yang ditampilkan di dalam buku Shelina.

EXPERIENTIAL MARKETING UNTUK PECINTA KOPI

Tidak hanya menerapkan urutan sense-feel-think-act-relate dengan tertib, kedai-kedai kopi yang menjamur belakangan ini, semakin paham bagaimana bermain cantik melalui detail of experience untuk membentuk memorable experience bagi pengunjungnya.

 Hari ini, bukan hanya Starbuck yang mahir bermain di ranah experiential marketing. Puluhan bahkan ratusan coffee shop yang belakangan menjamur di Jakarta, bahkan juga di kota-kota besar seluruh Tanah Air, terlihat begitu dinamis dalam mengusung tema, citarasa, variasi kopi dan suasana berbeda untuk memanjakan para pecinta kopi.

Setelah hari-hari panjang yang penuh dengan rapat bisnis, deadline pekerjaan dan kemacetan, siapa yang tidak tergiur relaksasi yang ditawarkan kedai kopi melalui petualangan berbagai rasa kopi serta suasana unik dan nyaman yang ditawarkan kafe-kafe tersebut ?

Tidak hanya menerapkan urutan sense-feel-think-act-relate dengan tertib, kedai-kedai kopi itu—besar mau pun kecil, semakin paham bagaimana bermain cantik melalui detail of experience untuk membentuk memorable experience bagi pengunjungnya. Semua aspek digali sedemikian rupa dalam rangka memberikan pengalaman unik, positif dan mengesankan bagi konsumen. Mulai dari venue, produk hingga teknik “cuci otak” melalui story telling yang menyentuh emosi. Mereka paham benar bagaimana memuaskan kebutuhan penggemar kopi melalui unsur-unsur sensori dan perasaan hangat yang dirasakan konsumen sehingga menghasilkan apa yang disebut oleh Bernd H. Schmitt dalam bukunya Experiential Marketing (1999) sebagai “Exultate Jubilate” (kepuasan yang amat sangat).

coffeeshop

Ambil contoh coffee shop Tanamera Tamrin. Profil kafe ini diantarkan dengan cerita mengenai nama Tanamera, yaitu tanah yang paling subur untuk menanam kopi. From Crop to Cup. Perjalanan cafe dikisahkan sejak berdiri pada 2013 sebagai tempat roasting specialty coffee (cara memasak biji-biji kopi) sebelum akhirnya diakui sebagai salah satu coffee shop ikonik di Jakarta pada awal 2014.

Dari sisi produk, barista Bryan Pringgoadimulyo menegaskan bahwa Tanamera sangat fokus pada hal-hal detil. Bukan hanya dalam memilih biji-biji kopi pilihan namun juga mencari susu yang tepat untuk melengkapi kopi-kopi istimewa yang ditawarkan. “Kami benar-benar memilih susu segar pasteurisasi yang punya rasa manis alami, sehingga ketika di-steam (diuapkan) rasanya menyatu dengan biji kopi Tanamera,” paparnya. Malabar Natural yang diangkat sebagai signature brew kedai kopi ini diantarkan dengan cerita mengenai pemilihan biji kopi yang langsung dari perkebunan. Sementara untuk pengopi pemula, mereka menciptakan signature brew drink Cold White, yang dikomunikasikan cukup manis bagi pemula namun tidak terlalu manis bagi para pencicip kopi.

Perasaan hangat juga diwujudkan melalui konsep open kitchen yang membuat seorang blogger menuliskan kesaksiannya seperti ini, “ Tanamera Coffee menyangrai kopi mereka sendiri dan inilah yang membuat saya berbahagia. Karena, menurut saya, kedai kopi yang menyangrai kopi mereka sendiri pasti menyajikan kopi nikmat dan terjaga kesegarannya. Kenikmatan bertambah dua kali lipat karena saya melihat prosesnya sambil berbincang dengan baristanya.”

Experiences don’t just happen; they need to be planned. Anak-anak muda pemilik kafe itu paham benar prinsip pertama yang dikemukakan Schmitt dalam membentuk dan mengelola experiential brand. coffeetime

Bahwa pengalaman itu harus direncanakan, dan dalam prosesnya sang pemasar harus kreatif, mampu memanfaatkan kejutan, intrik bahkan provokasi. Prinsip ini sangat terlihat dalam proses kelahiran kafe “Filosofi Kopi” di Jalan Melawai yang dikonsep sebagai proyek untuk menyatukan para penyuka film dan kopi. Seperti yang pernah MIX tulis beberapa bulan lalu, Filosofi Kopi dibangun berdasarkan film dan novel yang ditulis oleh Dewi “Dee” Lestari dengan judul yang sama.

Venue kafe ini dirancang agar semua orang nyaman bersosialisasi, mengobrol dan berdiskusi mencari ide-ide baru. Merunut pakem ke-6 experiential marketing ala Schmitt, kafe ini terlihat berjuang keras untuk memberikan “holistic experiences”. Holistic, seperti yang telah disebutkan di atas, adalah sebuah perasaan luar biasa, menyentuh hati, menantang intelegensi, relevan dengan gaya hidup konsumen, dan memberikan hubungan yang mendalam antar konsumen.
“Perfecto” dan “Tiwus” adalah nama kopi dalam imajinasi Dee yang kemudian diwujudkan ke dalam dunia nyata oleh tim (barista) Filosofi Kopi. “Susu segar pasteurisasi memberikan rasa manis dan tekstur tepat ke kopi kami, yang bisa mewakili rasa Perfecto dan Tiwus sama seperti yang digambarkan di film,” ujar Jody Bani Wicaksono, Manajer operasional dari Filosofi Kopi. Penggunaan susu segar dan pembuatan busa yang tepat, menurut barista ini, sangat menentukan rasa dan tekstur segelas kopi.

Tak sekadar mewujudkan kopi fiksi ke dunia nyata, Filosofi Kopi juga memberi kejutan dalam hal feel & taste dari signature brew mereka yang diberi nama “affogato orgasm”. Ini adalah minuman kopi yang dibubuhi es krim vanilla dan durian. “Mirip seperti avocado espresso tapi kami tambahkan durian untuk memberikan rasa baru yang sangat hits dan pecah,” demikian presentasi Jody.

Inovasi-inovasi produk semacam itu sudah tentu membutuhkan kedinamisan, gairah dan kreativitas yang dalam pakem Schmitt disebut sebagai dynamism and dionysianism to brand (company). Prinsip itu pula yang diterapkan oleh MAXX Coffee sehingga secara berkala mereka senantiasa meluncurkan minuman terbarunya yang selalu penuh kejutan. Pertengahan September lalu, jaringan kedai kopi milik Lippo Group ini memperkenalkan tiga produk inovasinya yang menggunakan ingredient unik bertemakan “Awesome Autumn” dan dikomunikasikan sebagai produk lifestyle. Masing-masing adalah Roasted Almond Latte, Houjicha Latte, dan Black Sesame Latte yang semuanya tersedia dalam varian ice, hot dan frappe

Sesuai namanya, Roasted Almond Latte merupakan perpaduan rasa yang unik dari espresso, susu, dan roasted almond. Sementara Houjicha latte adalah kopi berbahan dasar teh hijau alami dari Jepang yang proses pembuatannya melalui teknik pemanggangan. Kelembutandan aroma khas teh hijau yang bercampur dengan susu pada Houjicha Latte ini direkomendasikan akan memberikan suasana menenangkan pada saat menikmatinya. Terakhir, Black Sesame Latte terbuat dari biji wijen hitam yang dipanggang. “Black sesame (wijen hitam-Red) sedang jadi tren dessert di Asia. Dan sepertinya wijen hitam juga cocok dengan lidah Indonesia,” ucap Edward Teonadi, Senior R&D Manager Maxx Coffee Indonesia di Jakarta pertengahan September lalu. Semua inovasi produk itu tersedia dalam varian ice, hot dan frappe. “Ketiga varian tersebut diluncurkan untuk memperkaya gaya hidup agar menjadi lebih awesome,” ujar Geoffry Samuel, Head of Marketing Maxx Coffee Indonesia.

Pergeseran Consumer Behavior

Menurut Konsultan Kopi Adi Taroepratjeka, peningkatan standar minum kopi di masyarakat adalah salah satu penyebab semakin banyaknya kedai coffee shop di Indonesia yang dipadukan dengan merebaknya faktor lifestyle. Dari awalnya sekadar untuk nongkrong dan mencari jaringan internet gratis di kedai kopi, menurut pengamatannya, behavior ini bergeser pelan-pelan pada perilaku untuk mencari produk kopi tertentu hingga akhirnya mereka mulai mencintai kopi. Peningkatan ini sudah terlihat sejak empat tahun lalu di mana pertumbuhan konsumsi kopi di Indonesia melampaui pertumbuhan di dunia.

Consumer behavior pemula, menurut Adi, biasanya minum kopi dengan dicampur susu agar tidak terasa pahit. para pemula meminum kopi yang dicampur susu dulu agar tidak terasa pahit. 1“Namun, dari situ kita bisa memperlebar spektrum rasa. Selama bisa melewati rasa pahit kopi, maka kopi akan memberikan rasa lain yang luar biasa,” tuturnya.

Dengan consumer insight seperti ini, tidak aneh kalau banyak pengelola kedai kopi aktif melakukan edukasi yang mengarahkan pola konsumsi konsumen kepada kopi pahit (tanpa gula) yang lebih sehat dan eksplorasi berbagai jenis kopi specialty. Edukasi seperti ini juga aktif dilakukan oleh MAXX Coffee dan Djule Kofi. Maxx Coffee, seperti diutarakan oleh Edward menyediakan pilihan hand craft coffee yang dalam pemrosesannya tidak menggunakan mesin automatic serta selalu menganjurkan kepada pengunjungnya untuk menikmati kopi tanpa gula. “Taste better without sugar,” ujarnya.

Sementara Djule Kofi, selalu selalu mendorong konsumennya untuk mencoba jenis-jenis kopi hitam dari berbagai belahan dunia. “Kami ingin para pengunjung mencoba kopi dari berbagai negara dan daerah, sampai mereka menemukan kopi kesukaan,” ujar Aji Darius, co-founder dari Djuli Kofi yang merupakan pemenang pertama Barista Nasional 2012. Kedai kopi ini memang menyajikan kopi khas yang sederhana, yaitu kopi dasar dari daerah asal yang berbeda-beda.

Box

10 Rules to Create and Manage Experiential Brands
1. Experiences don’t just happen; they need to be planned. Jadi experience itu tidak akan terjadi begitu saja, namun harus direncanakan. Dan dalam proses perencanaan, seorang pemasar harus kreatif, memanfaatkan kejutan, intrik, dan bahkan provokasi.
2. Think about the customer experience first. Pikirkan pertama kali tentang pengalaman konsumen. Setelah itu, barulah seorang pemasar dapat menentukan karakteristik-karakteristik fungsional dari sebuah produk dan manfaat dari merek yang ada.
3. Be obsessive about the details of the experience. Obsesiflah tentang detil dari pengalaman yang ingin diberikan kepada konsumen. Konsep pemuasan kebutuhan konsumen tradisional melewatkan unsur-unsur sensori, perasaan hangat yang dirasakan konsumen, serta ‘cuci otak’ konsumen, yang meliputi pemuasan seluruh tubuh dan seluruh pikiran konsumen. Schmitt (1999) menyebutnya “Exultate Jubilate” yang berarti kepuasan yang amat sangat.
4. Find the “duck” for your brand. Maknanya, seorang pemasar diharapkan mampu memberikan suatu karakter yang memberikan kesan yang mendalam, yang akan terus-menerus membangkitkan kenangan, sehingga konsumen menjadi loyal. Karakter ini adalah suatu elemen kecil yang sangat mengesankan, membingkai, dan merangkum keseluruhan experience yang dirasakan konsumen.
5. Think consumption situation, not product. Pikirkan tentang situasi mengonsumsi, bukan semata produk.
6. Strive for “holistic experiences”. Holistic, seperti yang telah disebutkan di atas, adalah sebuah perasaan yang luar biasa, menyentuh hati, menantang intelegensi, relevan dengan gaya hidup konsumen, dan memberikan hubungan yang mendalam antar konsumen.
7. Profile and track experiential impact with the Experiential Grid. Buatlah profil dan telusuri dampak experiential dengan tabel atau semacam kisi-kisi experiential.
8. Use methodologies eclectically. Gunakan metode eklektik. Metode ini merupakan metode penelitian pemasaran berbentuk kuantitatif maupun kualitatif, verbal maupun visual, dan di dalam maupun di luar laboratorium. Pemasar dalam meneliti harus eksploratif dan kreatif, serta menomorsekiankan tentang reliabilitas, validitas, dan kecanggihan metodologinya.
9. Consider how the experience changes. Pemasar terutama harus memikirkan hal ini ketika
perusahaan memutuskan untuk memperluas merek ke dalam kategori baru.
10. Add dynamism and “dionysianism” to your company and brand. Kebanyakan organisasi dan perusahaan pemilik merek terlalu takut, terlalu perlahan, dan terlalu birokratis. Untuk itulah dionysianism perlu diterapkan. Dionysianism adalah kedinamisan, gairah, dan kreativitas. (Bernd H. Schmitt, 1999)

Branding for Social Organization

Dari kacamata Branding for Social Organization, menurut Amalia E. Maulana, berbagai kegiatan organisasi seperti pentas seni hanyalah salah satu upaya untuk building awareness dari pesan organisasi. Tetapi itu tidak cukup. Yang harus dipikirkan adalah apakah pesan itu kemudian akan diinternalisasi menjadi sebuah tindakan nyata dan apakah tindakan nyata itu lalu menjadi sesuatu yang sustain (keberlangsungan).

Akhir Juli lalu, saya diundang oleh Universal Peace Federation (UPF) untuk menghadiri International Leadership Conference (ILC) 2016. Bagi saya, yang menarik untuk dicermati dari hasil kunjungan ini adalah bagaimana sebuah organisasi, dalam hal ini Organisasi Perdamaian Dunia UPF berhasil membangun brand dan reputasinya sehingga usianya mencapai lebih dari setengah abad dan diakui dunia—terafiliasi dengan PBB sejak 2005 dan menyandang special consultative status di bidang ekonomi dan sosial PBB sejak 2011.

conference

The Universal Peace Federation (UPF) adalah jaringan dari individu-individu dan organisasi yang berdedikasi untuk membangun pusat-pusat perdamaian di dunia dalam nilai spiritual dan moral yang universal. Secara resmi, badan ini didirikan oleh pasangan suami istri Dr. Sun Myung Moon dan Dr. Hak Ja Han Moon.

Bersama jaringan globalnya, yaitu para duta perdamaian (ambassador for peace), UPF menyebarkan prinsip-prinsip spiritual untuk mengatasi konflik yang memecah belah manusia. Untuk menyebarkan prinsip-prinsip dalam rangka membentuk habit of peace, mereka membesut berbagai program internasional antara lain ILC, berbagai symposium dan pertemuan dewan perdamaian yang strategi komunikasinya menempuh jalur diplomasi dan program akar rumput, pentas seni, dan aktivitas touring sepeda.

Secara formal, strategi ambassadors for peace UPF diluncurkan pada 2001. Kelompok ini merupakan jaringan pemimpin-pemimpin perdamaian terbesar dan paling beragam, yang datang dari segala macam ras, agama, kebangsaan, dan budaya. Mereka memiliki komitmen untuk menjaga keuniversalan dari prinsip-prinsip moral, mendorong rekonsiliasi, dan membangun perdamaian, mendorong kerjasama antar agama, ras, etnik dan nasionalisme, serta menerapkan prinsip idealisme pendirinya—yaitu berbuat untuk sesama—sebagai prinsip dalam membangun komunitas global. Saat ini ada lebih dari 50.000 diplomat, ulama, pemimpin sipil, kepala negara dan mantan kepala negara telah ditunjuk sebagai Ambassador for Peace di seluruh dunia.

ILC sendiri merupakan serial konferensi regional yang diselenggarakan secara reguler oleh UPF. Februari lalu, ILC diadakan di Korea dengan peserta lebih dari 800 partisipan dari seluruh dunia, termasuk 150 anggota parlemen dari 40 negara. ILC tahun ini diadakan di Kathmandu, Nepal, pada 28-31 Juli dan dibuka oleh Perdana Menteri Nepal H.E. KP Sharma Oli yang didampingi empat menteri kabinet dan 237 anggota parlemen Nepal sebagai tuan rumah. Nepal dipilih karena proses perdamaiannya unik dan berliku selama masa transisi dari kerajaan menuju republik pada 10 tahun terakhir bisa dijadikan model sukses dari manajemen konflik dan penciptaan perdamaian nasional. Mereka bahkan sampai membentuk Kementrian Perdamaian dan Rekonstruksi yang sekarang dipimpin oleh Ek Nath Dhakal.

Yang menarik, ILC 2016 juga dirangkai dengan peluncuran event “Peace Road 2016”, touring sepeda dengan atribut perdamaian menuju Pegunungan Himalaya. Event ini secara rutin digelar di berbagai negara. Peace Road 2016 di Nepal mendapat antusiasme baik dari kalangan peserta konferensi maupun masyarakat Nepal. Tak kurang dari Dr. Yong Chung Sik, UPF Regional President, dan dua anggota parlemen Nepal memberikan sambutan pendek. Beberapa legislator terlihat berpartispasi dalam event bersepeda itu untuk memperlihatkan dukungan terhadap visi “International Highway” yang diinisasi oleh founder UPF.

Tak kalah menarik adalah pementasan Little Angels—yang diposisikan sebagai beauty-peace-ambassador, pembawa pesan perdamaian ke seluruh dunia—berupa penampilan polished repertoire yang harmonis antara tarian tradisional Korea, lagu dan aksi teatrikal. little-angels

Dalam pandangan pakar branding Amalia E. Maulana Ph.D., kesuksesan penebaran pesan melalui pementasan seni yang dilakukan UPF bisa dicatat sebagai prestasi tersendiri. Namun dari kacamata Branding for Social Organization, itu hanyalah salah satu kegiatan building awareness dari pesan organisasi, tetapi itu tidak cukup. Yang harus dipikirkan adalah apakah pesan itu kemudian akan diinternalisasi menjadi sebuah tindakan nyata dan apakah tindakan nyata itu lalu menjadi sesuatu yang sustain (keberlangsungan).

Pada saat berlangsungnya acara ILC 2016 di Green Hall Hotel Hyatt, Kathmandu Nepal, pertanyaan saya: adakah usaha untuk melihat transformasi peserta yang hadir ‘sebelum’ dan ‘sesudah’ acara berlangsung? (1) Apakah awareness dan knowledge terhadap organisasi sosial mereka meningkat? (2) Apakah awareness dan knowledge terhadap pesan perdamaian itu telah ditangkap secara kongkrit? (3) Seberapa besar kepedulian peserta untuk ikut action (dengan kapasitas masing-masing) setelah acara berlangsung? Demikian tiga pertanyaan besar yang dilontarkan Bu Amalia.

Karena setiap kegiatan pementasan merupakan interaksi antara brand UPF dengan target atau prospek, harus selalu dipantau keberhasilannya. Tingkat kesuksesan sebuah acara bukan hanya seberapa besar applause yang diperoleh saat pertunjukan berlangsung, tetapi apakah mereka bisa diyakinkan menjadi simpatisan dan penggiat kegiatan kemanusiaan yang mereka idam-idamkan.

meBranding is a process. Dan untuk mendapatkan brand yang cemerlang, prosesnya perlu dilakukan secara baik dan benar. Agar Efektif dan efisien. Agar Sustain. Ini berlaku juga untuk organisasi non-profit,” tutupnya.

 

Ukuran Keberhasilan dalam Branding Organisasi Sosial

Amalia E. Maulana, Ph.D. Brand Consultant & Ethnographer,  Director, ETNOMARK Consulting

Saat ini, pemahaman memasarkan produk atau jasa sudah sangat umum. Bahkan, pemahaman pemasaran untuk konteks lainnya, misalnya pemasaran destinasi liburan, pemasaran diri (personal), sudah tidak asing lagi. Tetapi, bagaimana dengan pemahaman pemasaran untuk Organisasi sosial yang notabene Non-profit (Non-Government Organization/NGO)? Ini adalah area yang sampai hari ini masih kurang mendapatkan perhatian dalam pendidikan pemasaran.media

Akibatnya, strategi dan eksekusi pemasaran yang dilakukan para key persons pengelola organisasi non profit ini cenderung bersifat ad-hoc, trial and error, hit and missed. Karena strategi tidak terstruktur, maka objective yang ingin diraihnya masih jauh dari harapan.

Ini kesimpulan saya setelah menyelenggarakan Workshop “Branding for Social Organization” untuk yang kedua kali (pertama Juli 2012, kedua Juli 2016). Ada benang merah permasalahan yang saya ekstraksi dari 82 peserta yang mewakili 53 organisasi sosial yang hadir pada tahun ini, yaitu pengelola organisasi masih belum mendapatkan big picture dari strategi brand management. Padahal pengelolaan brand secara profesional menjadi sangat penting artinya untuk keberlangsungan sebuah lembaga yang berbasis sosial.

Universal Peace Federation (UPF), NGO menyebarkan pesan perdamaian di seluruh dunia melalui keberadaan puluhan ribu ambassador of peace mereka, dengan berbagai kegiatan pementasan harmonis dan menyentuh.

Kesuksesan penebaran pesan melalui berbagai pementasan seni ini bisa dicatat sebagai prestasi tersendiri. Dari kacamata Branding for Social Organization, itu hanyalah salah satu kegiatan building awareness dari pesan organisasi, tetapi itu tidak cukup. Yang harus dipikirkan adalah apakah pesan itu kemudian akan diinternalisasi menjadi sebuah tindakan nyata dan apakah tindakan nyata itu lalu menjadi sesuatu yang sustain (keberlangsungan).

Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak Organisasi sosial yang sering mengadakan event untuk mendapatkan perhatian bahkan sekaligus simpati dan donasi dari target audience-nya. Sayangnya, pemilihan target audience ini yang sampai hari ini belum didasari oleh peta segmentasi stakeholders yang memadai.

Investasi kegiatan marcom (marketing communications) harus didahului dengan investasi RISET pemahaman stakeholders value. Dan ini yang sering diabaikan. Mereka mengaku belum menyadari sepenuhnya tentang kepentingan melakukan riset tersebut dalam rangka pemetaan Stakeholders. Sebagian bahkan langsung surut minat karena menyangka bahwa RISET itu adalah riset yang bersifat massif dengan ratusan responden dan mereka merasa itu mahal dan sulit.

Memahami Stakeholders value bisa melalui riset sederhana tidak harus riset rumit dan mahal, tetapi intinya adalah menggunakan framework yang tepat. Memahami apa needs dari Donatur, apa needs dari para volunteer, memahami apa needs dari para penerima donasi, siapa saja influencers yang bisa menjadi booster kegiatan penyebaran pesan/penarikan simpatisan.

Kegiatan marcom tanpa pemahaman stakeholdser value yang mendalam, akan menjadi rangkaian trial and error, rangkaian hit and miss. Tanpa disadari, energi para volunteer terkuras untuk berbagai kegiatan yang belum tentu efektif dan efisien. *

SEMARANG, KOTA PENUH LANDMARK

Semarang berbeda dari kota-kota lainnya di Indonesia. Kota Semarang memiliki keanekaragaman budaya dan itu merupakan aset utama yang harus ditonjolkan, karena dari sudut pandang wisata, hal itu merupakan daya tarik agar mereka berkunjung ke Kota Semarang,” demikian yang tertulis pada situs www.semarangkota.co.id.

Dampak dari keanekaragaman budaya ini, tulisan selanjutnya, pasti memunculkan banyak jenis ragam variasi dalam banyak hal. Misalnya dilihat dari sudut kesenian, peninggalan bangunan/arsitekturnya, religinya, kulinernya dan event lainnya. Dari budaya juga bisa diketahui bahwa budaya yang ada di Kota Semarang antara lain budaya Jawa, Pesisir, Arab dan Cina.

Sejatinya, semarangperumusan blue print City Branding Kota Semarang sudah dirintis sejak beberapa tahun lalu dan hebatnya menyertakan peran serta masyarakat. Pemakaian bintang mitologis “Warak Ngendok” sebagai logo City Branding Semarang merupakan hasil lomba yang diadakan Bappeda pada 2011. Warak Ngendok merupakan simbul pemersatu tiga etnis mayoritas yang ada di Semarang, yaitu Jawa (diwakili ikon kambing), Arab (Buroq) dan Cina (Naga). Hewan imajinatif ini selalu menjadi maskot dalam festival dugderan yang dilaksanakan beberapa hari sebelum bulan Ramadhan.

Ditambah tagline “Variety of Culture”, lengkaplah sudah pesan keanekaramagan budaya yang dibawa sang Warak. Kota ini memang penuh dengan landmark yang bisa menjadi simbol-simbol bauran budaya antara budaya Jawa, pesisir, Arab dan China. Masjid Agung, Kota Lama, Lawang Sewu, Greja Blenduk, Pagoda Sam Po Khong, Pasar Johar, Tugu Muda, Festival Banjir Kanal Barat, Dugderan, Sesaji Rewandha, Tugu Muda, Simpang Lima adalah ikon-ikon bauran budaya yang “dijual” serara resmi oleh Pemda.

Sayangnya, seperti penilaian beberapa pihak, perjalananan City Branding Semarang menujukkan sebuah langkah yang terlihat kurang fokus dari waktu ke waktu. Dalam talkshow di radio Idola Semarang Januari lalu, Prof Andreas Lako ekonom dari Unika Soegijapranata, mengritik branding Semarang yang selalu berganti ketika ganti Walikota: mulai dari Semarang Kota Atlas, Semarang Pesona Asia, hingga terakhir, Semarang Setara. “Strategi branding ini penting bagi sebuah kota, Pemprov Jateng saja kini juga sudah mem-branding dengan Jateng Gayeng,” ujarnya mengingatkan.

Pegiat social media Wisata Semarang, Munif Achmad bahkan menganggap Semarang belum memiliki city branding untuk menjual potensi wisatanya, sehingga positioning kota budaya Semarang masih di bawah bayang-bayang Yogyakarta dan Surakarta. Tidak heran kalau wisatawan sering menganggap lebih baik berkunjung ke kedua tempat tersebut karena penawaran wisata yang lebih beragam dan lebih menarik. “Belum adanya city branding, membuat penggiat wisata kesulitan menjual Semarang, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Semarang masih kalah dari Yogya atau Bali,” ujar pemilik akun @wisatasemarang tersebut kepada Tribun Jateng.

Bila melihat langkah yang sudah dilakukan, secara umum, strategi city branding Semarang terlihat lebih berat ke tujuan pengembangan pariwisata, khususnya menarik wisatawan. Padahal city branding juga bisa mendatangkan investasi dan meningkatkan perdagangan di kota tersebut. Wilayah dari Kota Semarang memiliki wilayah strategis sebagai penghubung antara daerah Pantura di Jawa Tengah dengan wilayah agraris didalamnya. Selain itu Semarang merupakan area pengembangan wilayah Joglo Semar yang yang menggabungkan kota Jogjakarta, Solo dan Semarang.

Kota Semarang memiliki posisi geostrategis karena berada pada jalur lalu lintas ekonomi pulau Jawa, dan merupakan koridor pembangunan Jawa Tengah yang terdiri dari empat simpul pintu gerbang yaitu koridor pantai Utara, koridor Selatan ke arah kota-kota dinamis seperti Kabupaten Magelang, Kota Surakarta yang terkenal dengan koridor Merapi-Merbabu, koridor Timur ke arah Surabaya melewati Kabupaten Demak; dan Barat menuju Kabupaten Kendal yang selanjutnya menuju Kota Jakarta.

Kota Semarang memiliki banyak potensi yang bisa diangkat untuk City Branding di luar potensi wisatanya. Kota Semarang juga masuk sebagai salah satu kota MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) dari 16 kota di Indonesia dengan dukungan 54 hotel, restoran, dan banyak infrastruktur pelabuhan, bandara, serta stasiun kereta sebagai pintu masuknya MICE di kota ini. (Bintari)

LOVE AND LIVE TANGERANG CITY

Lima tahun lalu, saat masih menjabat sebagai Walikota Tangerang, Wahidin Halim memulai City Branding Kota Tangerang dengan melakukan reformasi birokrasi dan aparat kota. Tujuannya agar Tangerang menjadi kota “bersih” yang dicintai warganya. Dan hari ini, di bawah kepempimpinan Walikota H. Arief Wismansyah dan Wakilnya H Sachrudi, Tangerang tetap mengusung visi dan misi sebagai kota yang dicintai oleh warganya.

Love and Live Tangerang City,” jawab Arief ketika ditanya tentang agenda besar yang dimiliki Pemkot Tangerang selama kepemimpinan mereka. tangerangJika ada cinta dari warga, maka usaha membangun dan menjaga kota yang dicintai akan menjadi lebih mudah. Mereka akan mencintai dengan karya, berbuat dan tidak hanya bicara saja,” lanjutnya kepada Banten News. Secara konseptual, cita-cita city brand itu diterjemahkan dalam tema Tangerang LIVE (Liveable, Investable dan E-City) atau kota yang layak huni, layak investasi, dan layak dikunjungi, serta kota yang menggunakan teknologi informasi berbasis eletronik.

Untuk mewujudkan Tangerang sebagai liveable city, Walikota meluncurkan beberapa program. Salah satunya adalah penataan ruang terbuka hijau yang bukan saja meliputi taman, namun juga jalan raya. Sebut saja penataan Jalan Benteng Betawi, penataan Taman Ecopark belakang Dishub, penataan Bantaran Kali Pasir (Kawasan Benteng Heritage), penataan dan pemasangan Tugu Jam Gede di Jalan Sudirman-Perintis Kemerdekaan, pemagaran Taman Pramuka, pemagaran Taman Hock, pemasangan mainan anak tersebar di Kota Tangerang, penanaman pohon paket dua jalur hijau daan mogot (bantaran kali) dan lain lain.

“Taman kota itu bukan hanya pajangan. Bukan juga untuk mempercantik kota. Di tempat seperti taman orang-orang berkumpul dan berinteraksi. Itulah yang kami inginkan agar taman-taman yang sudah dibuat dapat dinikmati warga Kota Tangerang,” tandasnya.

Selain itu, konsep Liveable juga diwujudkan dengan penyediaan berbagai fasilitas publik yang representative. Misalnya melalui taman-taman tematik, jalan, sarana transportasi yang terintegrasi sehingga 1memudahkan bagi para pelancong untuk menjelajahi setiap sudut Kota Tangerang.

Akan halnya positioning Investable, menurut penjelasan Wahyudi Iskandar, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Kota Tangerang, dipilih berdasarkan pergerakan perekonomian kota yang sangat signifikan. Tangerang Raya memegang peranan penting dalam perekonomian di Provinsi Banten. Di antaranya adalah sebagai pusat industri, jas dan perdagangan. Selain itu, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Tangerang Raya memiliki kontribusi yang cukup besar yaitu sekitar 58% terhadap PDRB Banten.

Pesatnya perkembangan Kota Tangerang didukung tersedianya sistem jaringan transportasi terpadu dengan kawasan kawasan Jabodetabek, serta memiliki aksesibilitas yang baik terhadap simpul transportasi berskala nasional dan internasional, seperti Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Pelabuhan Internasional Tanjung Priok, serta Pelabuhan Bojonegara. Letak geografis Kota Tangerang yang strategis tersebut telah mendorong pertumbuhan aktivitas industri, perdagangan dan jasa yang merupakan basis perekonomian Kota Tangerang saat ini. “Saat ini yang sedang digenjot jasa perdagangan. Salah satunya pengembangan 1.000 Industri. Untuk support kami melakukan intervensi melalui infrastuktur dan kemudahan akses,” jelas Wahyudi.

Sementara konsep smart city (e-city) diwujudkan dalam berbagai pelayanan publik, mulai dari pembentukan Dinas Komunikasi dan Informatika, penetapan Platform Aplikasi, Layanan Pengadaan Sistem Elektronik (LPSE), Perekrutan CPNS Programmer, Integrasi Aplikasi, Jaringan Area Luas atau Wide Area Network (WAN), Aplikasi Transaksional, Front Office Kantor Kelurahan, Dashboard Aplikasi hingga Tangerang Live Room (TLR). Hadirnya TLR yang merupakan salah satu solusi untuk mengatasi persoalan kota dan menjadikan Kota Tangerang semakin layak huni, layak kunjung dan investasi dengan pemanfaatan teknologi yang dapat mengintegrasikan, memonitoring serta melaporkan berbagai informasi dengan cepat dan tepat.

“TLR sebagai pusat kendali, monitoring, media informasi dan evaluasi serta pelaporan dan layanan bagi masyarakat. Konsep ini menjadi salah satu upaya Pemkot Tangerang untuk mengatasi persoalan kota,” papar Walikota dalam sebuah acara tatap muka dengan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten.

Penerapan pelayanan publik berbasis teknologi informasi itu juga mendapat apresiasi Kementrian Pendayagunaan Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB). Secara khusus Menpan Asman Abnur memberikan penghargaannya terhadap inovasi yang dilakukan oleh Pemkot Tangerang dalam menjaring aspirasi masyarakat lewat aplikasi Layanan Kotak Saran Anda (Laksa), selain juga sistem kepegawaian di Kota Tangerang yang sudah lebih baik karena memiliki data base yang akurat melalui penerapan Sistem Informasi Kepegawaian Daerah (SIKDA).

Tak hanya kalangan pemerintah, penerapan konsep smart city Kota Tangerang juga menarik perhatian swasta. Tak kurang-kurang, Microsoft Indonesia sudah menyatakan komitmennya untuk menjadi bagian dari pengembangan Smart City Kota Tangerang.

DEPOK, KOTA PENDIDIKAN ATAU INVESTASI?

Ada dua persepsi yang muncul dari hasil survei City Branding JAKPAT 2016 kepada 1302 responden mengenai image kota Depok. Pertama, image sebagai kota pendidikan dan kedua sebagai kota investasi. Image sebagai kota pendidikan tentu tidak lepas dari keberadaan Universitas Indonesia (UI) serta Perguruan Tinggi Swasta ternama di sana. Sebutlah nama-nama seperti Universitas Gunadarma, Universitas Mercu Buana, Universitas Pancasila, Politeknik Negeri Jakarta, Politeknik LP3I, Bina Sarana Informatika dan masih belasan lagi nama-nama sekolah tinggi dan akademi yang ada.

depokPemda Depok boleh berlega hati karena persepsi sebagai kota yang cocok untuk berinvestasi tidak meleset jauh dengan misi dan visi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah 2006-2025. Dalam wawancara khusus dengan MIX Marcomm pada pertengahan 2015, Nur Mahmudi Ismail, Walikota Depok saat itu, menjelaskan bahwa sejak awal Kota Depok memang “ingin” diposisikan sebagai kota niaga dan jasa yang religius dan berwawasan lingkungan. Keputusan tersebut, katanya , tak lepas dari tingginya kontribusi sektor perdagangan dan jasa kepada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Depok, yang mencapai lebih dari 60%. “Oleh karena itu, kami sangat giat menggenjot sektor ekonomi kreatif—yang sangat erat kaitannya dengan sektor perdagangan dan jasa,” tuturnya.

Lahir dari sebuah kota kecamatan, kini Depok menjelma menjadi Kotamadya dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp 680 miliar pada 2014—meningkat lebih dari 10 kali lipat dalam kurun waktu sembilan tahun (pada 2005 PAD Depok mentok di Rp 67 miliar). Pertumbuhan ekonomi Depok melebihi pertumbuhan ekonomi nasional, yakni 7,15% pada 2013 dan 6,92% pada 2014—pertumbuhan ekonomi nasional pada 2014 sekitar 5.02%. Demikian pula dengan tingkat kemiskinannya yang hanya 2,32%, jauh di bawah tingkat kemiskinan nasional 11,6%. Sementara untuk indikator kinerja lainnya, yaitu Indeks Pembangunan Manusia, Kota Depok berada di posisi ketiga di Indonesia—setelah Jakarta Selatan dan Yogyakarta.

Kinerja positif kota yang tahun ini genap berusia 17 tahun itu ditandai pula dengan berdirinya properti mewah di wilayah Margonda, jalan protokol di kawasan Depok. Di kelas apartemen, tak kurang dari lima bangunan properti ini hadir di kawasan jalan protokol Margonda yaitu Apartemen Taman Melati, Margonda Residence, Apartemen Margo City, Apartemen Depok Town Square, dan Apartemen Mall Depok. Sementara untuk hotel berbintang, Depok memiliki tiga hotel, yakni Hotel Bumi Wiyata, Hotel Santika, dan Hotel Margo City yang baru saja dibuka. Sementara di sektor hunian, jumlah perumahan di wilayah Depok makin menjamur tiap tahunnya.

Dengan makin berkembangnya kota Depok sebagai kota satelit, mal dan pusat perbelanjaan pun bermunculan seperti ITC Depok, D’Mall, Depok Town Square, dan Margo City. Demikian pula dengan jaringan peritel besar seperti hipermarket Giant, Hypermarket, dan Carrefour, serta Department Store Matahari, Centro, dan Lotte. Bahkan, jaringan minimarket seperti Alfamart dan Indomart juga turut menggurita di Kota Depok.

Sayangnya, sampai saat ini City Branding Kota Depok belum juga dirumuskan dengan pasti. Pembahasan mengenai City Branding yang direncanakan Bappeda tahun lalu belum juga dikomunikasikan hasilnya. Padahal Hardiono selaku Kepala Bappeda Kota Depok sudah mengakui betapa pentingnya penentuan identitas serta citra Kota Depok dalam benak publik yang merepresentasikan karakter Depok. “Kemarin sudah kami bicarakan namun terhenti. Selanjutnya, akan kembali dirapatkan. Targetnya adalah saat Walikota sudah berganti, City Branding ini sudah terbentuk,” kata Hardiono pada bulan Februari 2015.

Masyarakat seperti dibiarkan dalam kebingungan untuk mencirikan identitas kota Depok. Bahkan pakar branding Subiakto Priosoedarsono pun kesulitan untuk menemukan positioning Depok. “Untuk kasus Depok memang agak sulit menemukan brand-nya, belum ada yang terlalu menonjol. City Branding harus bisa mengubah sebuah kota dari sekadar lokasi menjadi sebuah destinasi,” tutur Pak Bi, demikian Soebiakto biasa disapa, pada sebuah diskusi dengan Komunitas UKM di Depok pada awal tahun ini.

Dan brand, lanjutnya, adalah ikatan emosi antara merek dengan konsumennya—beserta tambahan nilai yang didapat. “Jadi, brand bukan semata logo, merk, produk. Bukan pula semata slogan dan pameran,” tegas pak Bi seperti dikutip sejumlah media online. Dalam marketing, brand identik dengan diferensiasi, unique selling proposition (USP). Karena itu, Pak Bi menekankan pentingnya Depok berupaya keras menonjolkan kekhasannya.

Sejarahwan JJ Rizal menilai Depok sebagai kota yang menarik dengan banyak identitas. “Dilihat dari sejarahnya, Depok merupakan Kota Bandan dan Kota Penyangga. Dan yang menarik, mentality Depok sebagai kota multikultur, multi etnik,” tutur Rizal. Ia menyayangkan langkah Pemda Depok yang belum juga “merayakan” identitas kota tersebut. Menurutnya, hal itu merupakan tanda belum ada kesepakatan yang bulat mengenai city branding Depok.

Secara Semantik, JJ Rizal mengartikan Depok dengan makna “ruang untuk merenung atau berpikir.” “Jadi, nama Depok secara artinya bisa dikatakan merenung,” jelasnya. Hal senada diungkapkan Ary Sulistyo, dosen/pengajar tidak tetap pada Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Mercubuana, Jakarta. Dalam website Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia, Ary menulis bahwa karakter khas untuk menggambarkan Depok adalah sebuah kawasan yang diperuntukkan sebagai tempat pendidikan. “Sesuai dengan makna kata ‘depok’ yang disandangnya, depok berasal dari kata padepokan dan padepokan berasal dari patapan yang merujuk pada arti yang sama yaitu “tempat bertapa” atau ‘tempat pendidikan’ yang pada intinya mencari ilmu,” tuturnya. (Nurur R. Bintari)

Jember Kota Karnaval

Sebelum ada Jember Fashion Carnaval (JFC), siapa yang mengenal kota itu dengan baik? Mungkin ada orang yang mengenal Jember sebagai kota tembakau atau kota santri. Namun, sebagian besar orang tidak bisa menyebutkan ciri khas Jember—yang membuat kota ini menjadi mudah dikenali. Kini, setelah penyelenggaraan Fashion Carnaval yang konsisten, orang dengan mudah mengingat Jember sebagai kota Carnaval.

JFC adalah event tahunan parade busana unik dan spektakuler sepanjang 3,6 kilometer. Event yang mengundang para pendatang dari manca negara ini dikemas secara modern. Mengusung slogan “World Fashion Carnival City,” JFC kemudian berhasil mengantarkan kota setingkat kabupaten itu mendapatkan identitas baru sebagai kota untuk karnaval.

“Dari kota kecil yang kurang dikenal, Jember sekarang dicatat sebagai kota karnaval ke-4 dunia,” ujar Presiden Jember Fashion Carnaval (JFC) Dynand Fariz seperti kami kutip dari Antara Agustus 2015 lalu

Adalah Dynand Fariz, salah seorang warga Jember, yang berinisiatif membesut Jakarta Fashion Carnaval (JFC), sebuah event reguler carnaval yang ambisius untuk level kota seukuran Jember. jemberAwalnya, seperti pengakuan Dynand, penyelenggaraan JFC benar-benar independen, tanpa dukungan Pemerintah dan tidak melibatkan sponsor. Namun pada tahun ke-9, event itu mulai mendapat perhatian Pemerintah Daerah. Bahkan sekarang, bukan mendapat dukungan dari Pemda, melainkan juga dari Kementrian Pariwisata dan sejumlah brand nasional ikut memberikan sponsorship.

Perusahaan teknologi Samsung misalnya, mendukung gelaran Jember Fashion Carnaval (JFC) pada 2015 dengan menghadirkan kampanye digital #JELASKREASINYA melalui Samsung Galaxy ComMenity. Kampanye itu menyasar generasi muda yang ingin menampilkan karya dan menjadi model di JFC. “Alasan utama kami bekerja sama dengan Jember Fashion Carnaval karena kami melihat sosok Dynand Fariz (Presiden JFC) memiliki visi dan misi yang sama dengan Samsung. Selain itu kami melihat kolaborasi ini dapat menginspirasi generasi muda,” tutur Vebby Kaunang, Marketing Director IM PT SEIN.
Konsistensi penyelenggaraan JFC membuat nama Kota Jember semakin mendunia. Pada penyelenggaraan JFC tahun lalu, sebanyak 3.711 fotografer baik domestik maupun mancanegara mengekspos dan menyebarkan kemeriahan karnaval itu ke seluruh dunia. Sukses penyelenggaraan JFC ini membuktikan bahwa event karnaval bisa dimanfaatkan sebagai aktivasi City Branding. Parade busana yang unik dan spektakuler sepanjang 3,6 kilometer pada JFC mampu menyedot perhatian wisatawan domestik dan mancanegara yang sudah jauh-jauh hari mengagendakan JFC sebagai salah satu tujuan wisata mereka.

Peningkatan kunjungan wisatawan ini sudah tentu membuat ekonomi di kabupaten tersebut bergairah, terutama dari peningkatan investasi di bidang hotel dan restoran. Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jember Teguh Suprayitno, setiap JFC tingkat hunian kamar hotel melonjak sampai 90%. Padahal pada hari normal tingkat okupansi hanya berkisar 35%-40% yang biasanya digunakan untuk keperluan para pebisnis. Maklum saja, di luar JFC session, Jember lebih dikenal sebagai kota tembakau yang menjadi tujuan kedatangan para pebisnis di industri tersebut.

JFC juga terbukti meningkatkan investasi di industri hotel dan restoran. Teguh mencatat pada 2014, Jember memiliki 1.400 kamar yang tersebar di 40 hotel besar dan kecil. Jumlah itu merupakan peningkatan dari tahun 2013 yang tercatat sebanyak 1.200 kamar.
Tahun lalu, Dynand mengembangkan JFC menjadi sebuah rangkaian event terintegrasi yang disebut sebagai JFC International Event (JIE), yaitu terdiri dari JFC Exhibition, JFC Kids, JFC Art Wear, Wonderful Artchipelago Carnival Indonesia (WACI) dari talent berbagai provinsi, dan Grand Carnival JFC di alun-alun Jember. Fakta ini menunjukkan bahwa event karnaval itu juga sukses memperluas positioning Jember sebagai kota yang layak untuk tempat pengadaan MICE (Meeting, Incentives, Convention, & Exhibition).

Tahun ini pula, JFC berhasil mempertemukan dua pemenang kontes kecantikan bergengsi di Indonesia yaitu Puteri Indonesia 2016 Kezia Warouw dan Miss Indonesia 2016 Natasha Manuella. Kedua pemenang kontes kecantikan tersebut tampil dengan segala pernak pernik serta selempang dari masing-masing sebagai identitas kecantikan mereka, dengan paduan gaun dan pakaian yang melengkapi kecantikannya. Dynand mengaku sangat bangga atas kehadiran Kezia dan Natasha. “Saya bangga karena posisi mereka saat ini sangat penting, dengan status sebagai duta budaya Indonesia,” ujarnya.

Tak ketinggalan Dynand juga sukses menghadirkan orang-orang nomor satu di Indonesia di Jember, yaitu Presiden Joko Widodo beserta beberapa menterinya, Gubernur Jawa Timur beserta wakilnya, dan Para Bupati/Walikota Se-Jawa Timur. Mereka menghadir talkshowpopuler “MATA NAJWA ON STAGE” yang diselenggarakan secara live di Stadion Jember Sport Garden (JSG) Kabupaten Jember pada waktu yang berdekatan dengan JFC. (Bintari)