Branding for Social Organization

Dari kacamata Branding for Social Organization, menurut Amalia E. Maulana, berbagai kegiatan organisasi seperti pentas seni hanyalah salah satu upaya untuk building awareness dari pesan organisasi. Tetapi itu tidak cukup. Yang harus dipikirkan adalah apakah pesan itu kemudian akan diinternalisasi menjadi sebuah tindakan nyata dan apakah tindakan nyata itu lalu menjadi sesuatu yang sustain (keberlangsungan).

Akhir Juli lalu, saya diundang oleh Universal Peace Federation (UPF) untuk menghadiri International Leadership Conference (ILC) 2016. Bagi saya, yang menarik untuk dicermati dari hasil kunjungan ini adalah bagaimana sebuah organisasi, dalam hal ini Organisasi Perdamaian Dunia UPF berhasil membangun brand dan reputasinya sehingga usianya mencapai lebih dari setengah abad dan diakui dunia—terafiliasi dengan PBB sejak 2005 dan menyandang special consultative status di bidang ekonomi dan sosial PBB sejak 2011.

conference

The Universal Peace Federation (UPF) adalah jaringan dari individu-individu dan organisasi yang berdedikasi untuk membangun pusat-pusat perdamaian di dunia dalam nilai spiritual dan moral yang universal. Secara resmi, badan ini didirikan oleh pasangan suami istri Dr. Sun Myung Moon dan Dr. Hak Ja Han Moon.

Bersama jaringan globalnya, yaitu para duta perdamaian (ambassador for peace), UPF menyebarkan prinsip-prinsip spiritual untuk mengatasi konflik yang memecah belah manusia. Untuk menyebarkan prinsip-prinsip dalam rangka membentuk habit of peace, mereka membesut berbagai program internasional antara lain ILC, berbagai symposium dan pertemuan dewan perdamaian yang strategi komunikasinya menempuh jalur diplomasi dan program akar rumput, pentas seni, dan aktivitas touring sepeda.

Secara formal, strategi ambassadors for peace UPF diluncurkan pada 2001. Kelompok ini merupakan jaringan pemimpin-pemimpin perdamaian terbesar dan paling beragam, yang datang dari segala macam ras, agama, kebangsaan, dan budaya. Mereka memiliki komitmen untuk menjaga keuniversalan dari prinsip-prinsip moral, mendorong rekonsiliasi, dan membangun perdamaian, mendorong kerjasama antar agama, ras, etnik dan nasionalisme, serta menerapkan prinsip idealisme pendirinya—yaitu berbuat untuk sesama—sebagai prinsip dalam membangun komunitas global. Saat ini ada lebih dari 50.000 diplomat, ulama, pemimpin sipil, kepala negara dan mantan kepala negara telah ditunjuk sebagai Ambassador for Peace di seluruh dunia.

ILC sendiri merupakan serial konferensi regional yang diselenggarakan secara reguler oleh UPF. Februari lalu, ILC diadakan di Korea dengan peserta lebih dari 800 partisipan dari seluruh dunia, termasuk 150 anggota parlemen dari 40 negara. ILC tahun ini diadakan di Kathmandu, Nepal, pada 28-31 Juli dan dibuka oleh Perdana Menteri Nepal H.E. KP Sharma Oli yang didampingi empat menteri kabinet dan 237 anggota parlemen Nepal sebagai tuan rumah. Nepal dipilih karena proses perdamaiannya unik dan berliku selama masa transisi dari kerajaan menuju republik pada 10 tahun terakhir bisa dijadikan model sukses dari manajemen konflik dan penciptaan perdamaian nasional. Mereka bahkan sampai membentuk Kementrian Perdamaian dan Rekonstruksi yang sekarang dipimpin oleh Ek Nath Dhakal.

Yang menarik, ILC 2016 juga dirangkai dengan peluncuran event “Peace Road 2016”, touring sepeda dengan atribut perdamaian menuju Pegunungan Himalaya. Event ini secara rutin digelar di berbagai negara. Peace Road 2016 di Nepal mendapat antusiasme baik dari kalangan peserta konferensi maupun masyarakat Nepal. Tak kurang dari Dr. Yong Chung Sik, UPF Regional President, dan dua anggota parlemen Nepal memberikan sambutan pendek. Beberapa legislator terlihat berpartispasi dalam event bersepeda itu untuk memperlihatkan dukungan terhadap visi “International Highway” yang diinisasi oleh founder UPF.

Tak kalah menarik adalah pementasan Little Angels—yang diposisikan sebagai beauty-peace-ambassador, pembawa pesan perdamaian ke seluruh dunia—berupa penampilan polished repertoire yang harmonis antara tarian tradisional Korea, lagu dan aksi teatrikal. little-angels

Dalam pandangan pakar branding Amalia E. Maulana Ph.D., kesuksesan penebaran pesan melalui pementasan seni yang dilakukan UPF bisa dicatat sebagai prestasi tersendiri. Namun dari kacamata Branding for Social Organization, itu hanyalah salah satu kegiatan building awareness dari pesan organisasi, tetapi itu tidak cukup. Yang harus dipikirkan adalah apakah pesan itu kemudian akan diinternalisasi menjadi sebuah tindakan nyata dan apakah tindakan nyata itu lalu menjadi sesuatu yang sustain (keberlangsungan).

Pada saat berlangsungnya acara ILC 2016 di Green Hall Hotel Hyatt, Kathmandu Nepal, pertanyaan saya: adakah usaha untuk melihat transformasi peserta yang hadir ‘sebelum’ dan ‘sesudah’ acara berlangsung? (1) Apakah awareness dan knowledge terhadap organisasi sosial mereka meningkat? (2) Apakah awareness dan knowledge terhadap pesan perdamaian itu telah ditangkap secara kongkrit? (3) Seberapa besar kepedulian peserta untuk ikut action (dengan kapasitas masing-masing) setelah acara berlangsung? Demikian tiga pertanyaan besar yang dilontarkan Bu Amalia.

Karena setiap kegiatan pementasan merupakan interaksi antara brand UPF dengan target atau prospek, harus selalu dipantau keberhasilannya. Tingkat kesuksesan sebuah acara bukan hanya seberapa besar applause yang diperoleh saat pertunjukan berlangsung, tetapi apakah mereka bisa diyakinkan menjadi simpatisan dan penggiat kegiatan kemanusiaan yang mereka idam-idamkan.

meBranding is a process. Dan untuk mendapatkan brand yang cemerlang, prosesnya perlu dilakukan secara baik dan benar. Agar Efektif dan efisien. Agar Sustain. Ini berlaku juga untuk organisasi non-profit,” tutupnya.

 

Ukuran Keberhasilan dalam Branding Organisasi Sosial

Amalia E. Maulana, Ph.D. Brand Consultant & Ethnographer,  Director, ETNOMARK Consulting

Saat ini, pemahaman memasarkan produk atau jasa sudah sangat umum. Bahkan, pemahaman pemasaran untuk konteks lainnya, misalnya pemasaran destinasi liburan, pemasaran diri (personal), sudah tidak asing lagi. Tetapi, bagaimana dengan pemahaman pemasaran untuk Organisasi sosial yang notabene Non-profit (Non-Government Organization/NGO)? Ini adalah area yang sampai hari ini masih kurang mendapatkan perhatian dalam pendidikan pemasaran.media

Akibatnya, strategi dan eksekusi pemasaran yang dilakukan para key persons pengelola organisasi non profit ini cenderung bersifat ad-hoc, trial and error, hit and missed. Karena strategi tidak terstruktur, maka objective yang ingin diraihnya masih jauh dari harapan.

Ini kesimpulan saya setelah menyelenggarakan Workshop “Branding for Social Organization” untuk yang kedua kali (pertama Juli 2012, kedua Juli 2016). Ada benang merah permasalahan yang saya ekstraksi dari 82 peserta yang mewakili 53 organisasi sosial yang hadir pada tahun ini, yaitu pengelola organisasi masih belum mendapatkan big picture dari strategi brand management. Padahal pengelolaan brand secara profesional menjadi sangat penting artinya untuk keberlangsungan sebuah lembaga yang berbasis sosial.

Universal Peace Federation (UPF), NGO menyebarkan pesan perdamaian di seluruh dunia melalui keberadaan puluhan ribu ambassador of peace mereka, dengan berbagai kegiatan pementasan harmonis dan menyentuh.

Kesuksesan penebaran pesan melalui berbagai pementasan seni ini bisa dicatat sebagai prestasi tersendiri. Dari kacamata Branding for Social Organization, itu hanyalah salah satu kegiatan building awareness dari pesan organisasi, tetapi itu tidak cukup. Yang harus dipikirkan adalah apakah pesan itu kemudian akan diinternalisasi menjadi sebuah tindakan nyata dan apakah tindakan nyata itu lalu menjadi sesuatu yang sustain (keberlangsungan).

Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak Organisasi sosial yang sering mengadakan event untuk mendapatkan perhatian bahkan sekaligus simpati dan donasi dari target audience-nya. Sayangnya, pemilihan target audience ini yang sampai hari ini belum didasari oleh peta segmentasi stakeholders yang memadai.

Investasi kegiatan marcom (marketing communications) harus didahului dengan investasi RISET pemahaman stakeholders value. Dan ini yang sering diabaikan. Mereka mengaku belum menyadari sepenuhnya tentang kepentingan melakukan riset tersebut dalam rangka pemetaan Stakeholders. Sebagian bahkan langsung surut minat karena menyangka bahwa RISET itu adalah riset yang bersifat massif dengan ratusan responden dan mereka merasa itu mahal dan sulit.

Memahami Stakeholders value bisa melalui riset sederhana tidak harus riset rumit dan mahal, tetapi intinya adalah menggunakan framework yang tepat. Memahami apa needs dari Donatur, apa needs dari para volunteer, memahami apa needs dari para penerima donasi, siapa saja influencers yang bisa menjadi booster kegiatan penyebaran pesan/penarikan simpatisan.

Kegiatan marcom tanpa pemahaman stakeholdser value yang mendalam, akan menjadi rangkaian trial and error, rangkaian hit and miss. Tanpa disadari, energi para volunteer terkuras untuk berbagai kegiatan yang belum tentu efektif dan efisien. *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s