SEMARANG, KOTA PENUH LANDMARK

Semarang berbeda dari kota-kota lainnya di Indonesia. Kota Semarang memiliki keanekaragaman budaya dan itu merupakan aset utama yang harus ditonjolkan, karena dari sudut pandang wisata, hal itu merupakan daya tarik agar mereka berkunjung ke Kota Semarang,” demikian yang tertulis pada situs www.semarangkota.co.id.

Dampak dari keanekaragaman budaya ini, tulisan selanjutnya, pasti memunculkan banyak jenis ragam variasi dalam banyak hal. Misalnya dilihat dari sudut kesenian, peninggalan bangunan/arsitekturnya, religinya, kulinernya dan event lainnya. Dari budaya juga bisa diketahui bahwa budaya yang ada di Kota Semarang antara lain budaya Jawa, Pesisir, Arab dan Cina.

Sejatinya, semarangperumusan blue print City Branding Kota Semarang sudah dirintis sejak beberapa tahun lalu dan hebatnya menyertakan peran serta masyarakat. Pemakaian bintang mitologis “Warak Ngendok” sebagai logo City Branding Semarang merupakan hasil lomba yang diadakan Bappeda pada 2011. Warak Ngendok merupakan simbul pemersatu tiga etnis mayoritas yang ada di Semarang, yaitu Jawa (diwakili ikon kambing), Arab (Buroq) dan Cina (Naga). Hewan imajinatif ini selalu menjadi maskot dalam festival dugderan yang dilaksanakan beberapa hari sebelum bulan Ramadhan.

Ditambah tagline “Variety of Culture”, lengkaplah sudah pesan keanekaramagan budaya yang dibawa sang Warak. Kota ini memang penuh dengan landmark yang bisa menjadi simbol-simbol bauran budaya antara budaya Jawa, pesisir, Arab dan China. Masjid Agung, Kota Lama, Lawang Sewu, Greja Blenduk, Pagoda Sam Po Khong, Pasar Johar, Tugu Muda, Festival Banjir Kanal Barat, Dugderan, Sesaji Rewandha, Tugu Muda, Simpang Lima adalah ikon-ikon bauran budaya yang “dijual” serara resmi oleh Pemda.

Sayangnya, seperti penilaian beberapa pihak, perjalananan City Branding Semarang menujukkan sebuah langkah yang terlihat kurang fokus dari waktu ke waktu. Dalam talkshow di radio Idola Semarang Januari lalu, Prof Andreas Lako ekonom dari Unika Soegijapranata, mengritik branding Semarang yang selalu berganti ketika ganti Walikota: mulai dari Semarang Kota Atlas, Semarang Pesona Asia, hingga terakhir, Semarang Setara. “Strategi branding ini penting bagi sebuah kota, Pemprov Jateng saja kini juga sudah mem-branding dengan Jateng Gayeng,” ujarnya mengingatkan.

Pegiat social media Wisata Semarang, Munif Achmad bahkan menganggap Semarang belum memiliki city branding untuk menjual potensi wisatanya, sehingga positioning kota budaya Semarang masih di bawah bayang-bayang Yogyakarta dan Surakarta. Tidak heran kalau wisatawan sering menganggap lebih baik berkunjung ke kedua tempat tersebut karena penawaran wisata yang lebih beragam dan lebih menarik. “Belum adanya city branding, membuat penggiat wisata kesulitan menjual Semarang, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Semarang masih kalah dari Yogya atau Bali,” ujar pemilik akun @wisatasemarang tersebut kepada Tribun Jateng.

Bila melihat langkah yang sudah dilakukan, secara umum, strategi city branding Semarang terlihat lebih berat ke tujuan pengembangan pariwisata, khususnya menarik wisatawan. Padahal city branding juga bisa mendatangkan investasi dan meningkatkan perdagangan di kota tersebut. Wilayah dari Kota Semarang memiliki wilayah strategis sebagai penghubung antara daerah Pantura di Jawa Tengah dengan wilayah agraris didalamnya. Selain itu Semarang merupakan area pengembangan wilayah Joglo Semar yang yang menggabungkan kota Jogjakarta, Solo dan Semarang.

Kota Semarang memiliki posisi geostrategis karena berada pada jalur lalu lintas ekonomi pulau Jawa, dan merupakan koridor pembangunan Jawa Tengah yang terdiri dari empat simpul pintu gerbang yaitu koridor pantai Utara, koridor Selatan ke arah kota-kota dinamis seperti Kabupaten Magelang, Kota Surakarta yang terkenal dengan koridor Merapi-Merbabu, koridor Timur ke arah Surabaya melewati Kabupaten Demak; dan Barat menuju Kabupaten Kendal yang selanjutnya menuju Kota Jakarta.

Kota Semarang memiliki banyak potensi yang bisa diangkat untuk City Branding di luar potensi wisatanya. Kota Semarang juga masuk sebagai salah satu kota MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) dari 16 kota di Indonesia dengan dukungan 54 hotel, restoran, dan banyak infrastruktur pelabuhan, bandara, serta stasiun kereta sebagai pintu masuknya MICE di kota ini. (Bintari)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s