DEPOK, KOTA PENDIDIKAN ATAU INVESTASI?

Ada dua persepsi yang muncul dari hasil survei City Branding JAKPAT 2016 kepada 1302 responden mengenai image kota Depok. Pertama, image sebagai kota pendidikan dan kedua sebagai kota investasi. Image sebagai kota pendidikan tentu tidak lepas dari keberadaan Universitas Indonesia (UI) serta Perguruan Tinggi Swasta ternama di sana. Sebutlah nama-nama seperti Universitas Gunadarma, Universitas Mercu Buana, Universitas Pancasila, Politeknik Negeri Jakarta, Politeknik LP3I, Bina Sarana Informatika dan masih belasan lagi nama-nama sekolah tinggi dan akademi yang ada.

depokPemda Depok boleh berlega hati karena persepsi sebagai kota yang cocok untuk berinvestasi tidak meleset jauh dengan misi dan visi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah 2006-2025. Dalam wawancara khusus dengan MIX Marcomm pada pertengahan 2015, Nur Mahmudi Ismail, Walikota Depok saat itu, menjelaskan bahwa sejak awal Kota Depok memang “ingin” diposisikan sebagai kota niaga dan jasa yang religius dan berwawasan lingkungan. Keputusan tersebut, katanya , tak lepas dari tingginya kontribusi sektor perdagangan dan jasa kepada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Depok, yang mencapai lebih dari 60%. “Oleh karena itu, kami sangat giat menggenjot sektor ekonomi kreatif—yang sangat erat kaitannya dengan sektor perdagangan dan jasa,” tuturnya.

Lahir dari sebuah kota kecamatan, kini Depok menjelma menjadi Kotamadya dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp 680 miliar pada 2014—meningkat lebih dari 10 kali lipat dalam kurun waktu sembilan tahun (pada 2005 PAD Depok mentok di Rp 67 miliar). Pertumbuhan ekonomi Depok melebihi pertumbuhan ekonomi nasional, yakni 7,15% pada 2013 dan 6,92% pada 2014—pertumbuhan ekonomi nasional pada 2014 sekitar 5.02%. Demikian pula dengan tingkat kemiskinannya yang hanya 2,32%, jauh di bawah tingkat kemiskinan nasional 11,6%. Sementara untuk indikator kinerja lainnya, yaitu Indeks Pembangunan Manusia, Kota Depok berada di posisi ketiga di Indonesia—setelah Jakarta Selatan dan Yogyakarta.

Kinerja positif kota yang tahun ini genap berusia 17 tahun itu ditandai pula dengan berdirinya properti mewah di wilayah Margonda, jalan protokol di kawasan Depok. Di kelas apartemen, tak kurang dari lima bangunan properti ini hadir di kawasan jalan protokol Margonda yaitu Apartemen Taman Melati, Margonda Residence, Apartemen Margo City, Apartemen Depok Town Square, dan Apartemen Mall Depok. Sementara untuk hotel berbintang, Depok memiliki tiga hotel, yakni Hotel Bumi Wiyata, Hotel Santika, dan Hotel Margo City yang baru saja dibuka. Sementara di sektor hunian, jumlah perumahan di wilayah Depok makin menjamur tiap tahunnya.

Dengan makin berkembangnya kota Depok sebagai kota satelit, mal dan pusat perbelanjaan pun bermunculan seperti ITC Depok, D’Mall, Depok Town Square, dan Margo City. Demikian pula dengan jaringan peritel besar seperti hipermarket Giant, Hypermarket, dan Carrefour, serta Department Store Matahari, Centro, dan Lotte. Bahkan, jaringan minimarket seperti Alfamart dan Indomart juga turut menggurita di Kota Depok.

Sayangnya, sampai saat ini City Branding Kota Depok belum juga dirumuskan dengan pasti. Pembahasan mengenai City Branding yang direncanakan Bappeda tahun lalu belum juga dikomunikasikan hasilnya. Padahal Hardiono selaku Kepala Bappeda Kota Depok sudah mengakui betapa pentingnya penentuan identitas serta citra Kota Depok dalam benak publik yang merepresentasikan karakter Depok. “Kemarin sudah kami bicarakan namun terhenti. Selanjutnya, akan kembali dirapatkan. Targetnya adalah saat Walikota sudah berganti, City Branding ini sudah terbentuk,” kata Hardiono pada bulan Februari 2015.

Masyarakat seperti dibiarkan dalam kebingungan untuk mencirikan identitas kota Depok. Bahkan pakar branding Subiakto Priosoedarsono pun kesulitan untuk menemukan positioning Depok. “Untuk kasus Depok memang agak sulit menemukan brand-nya, belum ada yang terlalu menonjol. City Branding harus bisa mengubah sebuah kota dari sekadar lokasi menjadi sebuah destinasi,” tutur Pak Bi, demikian Soebiakto biasa disapa, pada sebuah diskusi dengan Komunitas UKM di Depok pada awal tahun ini.

Dan brand, lanjutnya, adalah ikatan emosi antara merek dengan konsumennya—beserta tambahan nilai yang didapat. “Jadi, brand bukan semata logo, merk, produk. Bukan pula semata slogan dan pameran,” tegas pak Bi seperti dikutip sejumlah media online. Dalam marketing, brand identik dengan diferensiasi, unique selling proposition (USP). Karena itu, Pak Bi menekankan pentingnya Depok berupaya keras menonjolkan kekhasannya.

Sejarahwan JJ Rizal menilai Depok sebagai kota yang menarik dengan banyak identitas. “Dilihat dari sejarahnya, Depok merupakan Kota Bandan dan Kota Penyangga. Dan yang menarik, mentality Depok sebagai kota multikultur, multi etnik,” tutur Rizal. Ia menyayangkan langkah Pemda Depok yang belum juga “merayakan” identitas kota tersebut. Menurutnya, hal itu merupakan tanda belum ada kesepakatan yang bulat mengenai city branding Depok.

Secara Semantik, JJ Rizal mengartikan Depok dengan makna “ruang untuk merenung atau berpikir.” “Jadi, nama Depok secara artinya bisa dikatakan merenung,” jelasnya. Hal senada diungkapkan Ary Sulistyo, dosen/pengajar tidak tetap pada Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Mercubuana, Jakarta. Dalam website Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia, Ary menulis bahwa karakter khas untuk menggambarkan Depok adalah sebuah kawasan yang diperuntukkan sebagai tempat pendidikan. “Sesuai dengan makna kata ‘depok’ yang disandangnya, depok berasal dari kata padepokan dan padepokan berasal dari patapan yang merujuk pada arti yang sama yaitu “tempat bertapa” atau ‘tempat pendidikan’ yang pada intinya mencari ilmu,” tuturnya. (Nurur R. Bintari)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s