Cerita Sepiring Makanan Melalui Mata Lensa

Story on a plate bukan sekadar teknik penyajian foto makanan agar merangsang liur. Presentasi itu juga mesti mengisahkan tentang selera, musim dan estetika. Bagaimana di Indonesia?

storyplaet

Di luar negeri, konsep bercerita tentang sepiring makanan melalui mata lensa dan gaya penyajian (styling) telah dipelajari dan disajikan dalam beberapa buku tersendiri. Di Amazon.com, anda bisa mengunduh 43 serial video berisi tutorial, bagaimana teknik bercerita secara menarik tentang sepotong coklat di dalam cawan sederhana yang tergeletak di atas meja klasik. Tidak hanya diajar mencari angle dan pencahayaan lensa yang tepat, anda juga dituntun untuk menggubah syair yang bisa merangsang lidah audiens untuk menari-nari sendiri karena bayangan makanan dewa yang lumer ketika menyentuh langit-langit mulut.

Begitu pun, story on a plate bukan sekadar teknik penyajian foto makanan agar merangsang liur. Presentasi itu juga mesti mengisahkan tentang selera, musim dan estetika. Bagaimana menyusun sebuah cerita makanan melalui gambar yang unik, intim dan bermakna. Di Amazon.com, fotografer makanan Tidd Porter dan Diane Cu menunjukkan bagaimana memanfaatkan cahaya alami ketika memotret makanan di meja atau sebuah restoran. Mereka mengajarkan juga teknik sederhana untuk styling makanan agar audiens percaya tips menyimpan makanan segar di kulkas. Todd dan Diane juga berbagi strategi untuk menciptakan bisnis fotografi makanan yang sukses seiring perkembangan bisnis online.

Di Indonesia, Fonterra Foodservice menularkan misi tersebut dalam sebuah program edukasi akhir Mei lalu. Kepada para pelanggannya, khususnya segmen Usaha Kecil Menengah (UKM), pemasok bahan baku berbasis susu (mentega, susu, keju, krim keju, krim UHT dan perlengkapan masak-memasak) untuk industri kuliner ini mencoba berbagi rahasia tentang sajian yang tidak hanya sedap dipandang namun juga menarik bagi konsumen dalam media sosial di era digital.

Forum kreatif tersebut merupakan bagian dari inisiatif Fonterra Foodservices untuk berbagi keahlian dan pengetahuan di bidang industri kuliner dalam bentuk workshop food photography dan food styling, dimana pelaku UKM memperoleh tips-tips penting dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana berpromosi. Karena kaitan itu, unit bisnis Fonterra Brand Indonesia itu menghadirkan para pembicara dan profesional di industri kuliner seperti Fellexandro Ruby, Food Photographer Profesional; Vania Samperuru, Food Stylist Profesional dan Adinda Zuleika, pemilik bisnis Cake & Pastry D’Patisserie. Dari Fonterra ikut berbicara Anindita Ikasari, Channel Development Manager, Fonterra Foodservices Indonesia; Yus Andriana, Advisory Chef, Fonterra Foodservices Indonesia; dan Ines Yumahana Gulardi, Senior Nutrition Manager Fonterra Brands Indonesia;

“Untuk meningkatkan penjualan, kita harus mengetahui 4 hal yaitu the age new consumer (bagaimana pergeseran pasar dari masa penjual ke masa konsumen), back to nature (bagaimana konsumen mengetahui sebuah produk alami dan bergizi), a quest for indulgence (tahu akan kebutuhan konsumen) dan first impression (ketertarikan konsumen pada pandangan pertama sebelum membeli),” Anindita Ikasari membuka paparannya dengan beberapa insight penting bagi para pelaku UKM yang banyak mengandalkan media sosial sebagai ajang promosi. Berikut rangkuman “the insights for customers from the consumers” yang disajikan Anindita secara detil.

Total kelas menengah di Asean, pada tahun 2012 mencapai 190 juta dan diperkirakan akan menjadi 400 juta orang pada 2020 (Nielsen, 2015). “There is a change in Asia dietary, the shifting is changing from rice into consumption of wheat-based & high protein foods / dairy products,” ujarnya mengutip data dari VOA.

Insight kedua tentang tren back to nature yang ia kutip dari Milenial Marketing memaparkan bahwa 80% konsumen ingin tahun proses produksi dari makanan yang mereka konsumsi. Keingintahuan konsumen tentang makanan meningkat, oleh karena itu sangat penting menyajikan informasi mengenai kandungan alami dari ingredient yang akan mereka konsumsi. Informasi-informasi seperti itu akan sangat dihargai konsumen dan diposisikan sebagai added value terhadap produk.

Selanjutnya Anindita memberi insight tentang kebutuhan konsumen. Mintel Oxygen menyebutkan, 67% konsumen mengatakan bahwa mereka ngemil di antara waktu makan besar, 24% menyatakan lebih suka porsi individual (untuk dirinya sendiri) dan 23% bilang porsi sedikit justru lebih menarik. porsi sedikit“Ini berarti konsumen berharap mendapat full experience ketika membeli sebuah produk, bukan sekadar rasa yang mesti enak, namun juga memperhatikan penampilan dan ukurannya,”tambahnya lagi.

Insight lain yang sangat menarik adalah adanya “cinta pada pandangan pertama” ketika konsumen akan membeli suatu makanan (first impression). Berikut alasan-alasan utama dalam consumer’s impulse menurut Bakers Journal ; 1. Penampilan produk, 2. Aroma, 3, harga, 4. Pelayanan. Menurutnya, tren tersebut sesuai dengan kondisi di Indonesia di mana UKM bertumbuh dan banyak di antara mereka memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk menjual produk. “Artinya, kualitas dan naturalitas ingredient makanan akan menjadi salah satu kunci sukses untuk meyakinkan bahwa penampilan dan rasanya seimbang dan memenuhi kebutuhan konsumen,” lanjutnya lagi.

Dan terakhir yang sangat penting adalah insight consumer’s mapping pelanggan Indonesia yang disajikan oleh Asia Pacific Digital Overview Report 2015. Dari 255 juta jiwa penduduk Indonesia, jumlah ponsel yang beredar ternyata melebihi jumlah populasi karena mencapai 308 juta (121%). Dari data tersebut, 34% (93 juta orang) merupakan pelanggan internet, 55 juta (21%) pengguna smartphone dan ada 74 juta akun (29%) di top social networks. Penetrasi digital, khususnya media sosial di Indonesia sangat cepat, yang bisa diartikan sebagai pembenaran bahwa berjualan lewat media sosial sangat menarik dan powerfull.

Lalu apa yang bisa diperbuat dengan data-data tersebut?

Adinda Zuleika, pemilik bisnis Cake & Pastry D’Pattiserie yang disodorkan sebagai testimoner pertama mengaku bahwa bisnis yang ia jalankan besar lantaran bantuan media sosial. “Rata-rata pelanggan yang pesan melihat dulu fotonya bagus di Instagram, lalu baru pesan. Walaupun begitu, rasa cake yang enak tetap yang membuat pelanggan kembali untuk beli lagi,” jelas wanita lulusan perhotelan tersebut.

Membuat-Cake-CoklatAdinda juga berbagi pengalaman dalam menggunakan produk Anchor dari Fonterra Foodservices untuk meningkatkan rasa, tekstur serta penampilan produknya. Ia menjelaskan, “Bagi saya, ‘Story on A Plate’ merupakan perjalanan indah setiap sajian dari oven ke meja makan, hingga akhirnya tampil di media sosial. Mengambil gambar dari hidangan yang terlihat lezat dan menarik sangat penting untuk mempromosikan bisnis melalui media sosial, dan pada akhirnya mampu meningkatkan performa bisnis saya.”

 

Menjawab insight ketiga dan keempat, Food Photographer Profesional Fellexandro Ruby,dan Vania Samperuru, Food Stylist Profesional membagikan cara mengambil angle dan menata makanan untuk hasilkan foto cantik yang layak sebar di akun media sosial. “Teknik apapun yang Anda pakai, foto makanan yang ada di dalamnya harus memiliki ‘cerita’ sehingga orang memiliki bayangan dan persepsi sendiri tentang makanan tersebut,” jelas Ruby.

 

Selain trik pengambilan angle foto, penataan makanan juga perlu dilakukan. “Siapkan waktu 5 hingga 10 menit untuk membuat konsep yang bagus dalam penataan makanan. Sehingga akan menghasilkan style yang lain dari biasanya,” tambah Vania.

 

Paling utama menurut Ruby adalah berteman dengan jendela.pecel madiun Jika datang ke satu tempat makan, ia menyarankan agar mengambil tempat di dekat jendela, karena Itu adalah tempat terbaik untuk pengambilan foto. Melalui jendela, cahaya alami masuk sehingga bisa menghasilkan foto dengan kualitas cahaya yang sempurna. Selain itu, lanjut dia, cobalah arahkan cahaya dari kanan, kiri ataupun belakang. Ini akan menciptakan bayangan, sehingga makanan terlihat lebih menarik. “Hindari cahaya dari depan, karena akan membuat warna objek datar dan kurang menarik,” tegasnya. Foto yang sedikit gelap (under), menurutnya lebih baik ketimbang cahaya yang terlalu terang (over). Foto under masih bisa diedit agar warnanya tetap muncul, sebaliknya foto yang overlight bisa dibilang tidak bisa diapa-apakan lagi karena warnanya cenderung menjadi putih.
Untuk peletakan objek, Ruby menyarankan agar selalu memperhatikan the rule of thirds atau garis dalam layar yang sering ia sebut garis cinta. Menurutnya, teknik ini akan jauh lebih menarik dibandingkan objek diletakkan di tengah. Sementara saat menentukan angle, Ruby memberi pilihan dua sudut pandang ketika memotret makanan. Yakni topshot (angle dari atas) dan angle 45 derajat (angle samping).
“Yang paling aman kalo mau ambil foto makanan, apalagi kalau pake handphone, sebelum eksperimen angle lain, pakai topshot dulu. Kalau dari atas, kelihatan semua isinya. Tapi nggak semua makanan bisa di-topshot, contohnya burger. Angle 45 derajat bisa dipakai, sehingga kelihatan bagian sampingnya,” jelasnya.
Yang terakhir adalah kenali kamera. Sering-sering untuk membersihkan lensa yang rentan dengan berbagai kotoran. Selain itu, sebaiknya tidak melakukan zoom pada saat pengambilan gambar, karena ketajamanannya akan berkurang dan mudah blur. “Sebaiknya di-crop saja sesuai keinginan, daripada di-zoom. Dan jangan lupa fokuskan dulu sebelum menjepret,” tutupnya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s