E-Commerce Fashion Muslimah

Dalam beberapa tahun terakhir, situs busana muslim tumbuh sesubur e-commerce fashion lokal maupun internasional. Satu fakta menarik, dari 17 e-commerce fashion terpopuler di Indonesia yang dicatat oleh Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA), terselip dua situs fashion muslim yaitu HijUp (posisi ketiga) dan Saqina (posisi ke-16). Namun begitu, dua situs fashion paling pupuler yaitu Zalora (urutan teratas) dan BerryBenka (urutan kedua) juga menciptakan channel khusus fashion muslim dengan nama Zalia dan Hijabenka. Sementara PinkEmma (urutan keempat) yang lebih dikenal sebagai situs fashion umum, nyatanya juga menawarkan cukup banyak item fashion muslim di antara produk-produk yang mereka pajang. Di luar 17 situs fashion yang segmentasinya sangat beragam tersebut (ada yang hanya menjual sepatu, bahkan lebih khusus sepatu pria, ada yang khusus T’shirt dan lain-lain), masih banyak nama market place online yang khusus menarget fashionista muslimah.

Data di atas memperkuat pendapat beberapa pemasar yang mengamati gejala tumbuhnya segmen muslim dalam beberapa tahun terakhir. Sekadar mengingatkan, topik ini juga menjadi fokus penelitian Center for Middle Class Consumer Studies, CMCS (kolaborasi lembaga konsultan Inventure dengan Majalah SWA) pada pertengahan 2014 dengan obyek penelitian 11 kategori industri, termasuk fashion muslim.

E-commerce fashion sendiri, seperti dirilis dalam riset idEA mengenai perilaku konsumen e-commerce pada 2013, menduduki urutan teratas barang yang paling sering dibeli orang Indonesia. Angkanya mencapai 78%, jauh melampaui kategori mobile product (46%), consumer electronic (43%), books and magazine (39%) dan yang menarik, groceries (24%). Rilis tersebut juga mencatat total nilai pasar e-commerce Indonesia pada tahun itu yang mencapai US$8 miliar dan akan terus meningkat dengan perkiraan mencapai US$24 miliar pada 2016. Riset dilakukan selama pertengahan 2013 hingga Januari 2014 di 12 kota besar dengan segmen umur mulai 18 tahun.

Riset tersebut juga mencoba menggali profil konsumen e-commerce dan latar belakang yang mendorong mereka belanja online. Dan bagi yang tergolong bukan pelaku belanja online, riset ini juga menunjukkan alasan-alasan mereka enggan berbelanja online. Tampaknya keinginan para shopper untuk menyentuh, mencium dan melihat langsung sebuah produk menjadi kendala yang cukup besar. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di negara lain seperti India yang industri e-commerce-nya selangkah di depan Indonesia. Pada umumnya shopper memilih produk dengan risiko rendah, seperti pembelian online tiket.

Data tersebut juga mengisyaratakan bahwa wanita adalah konsumen yang paling banyak berbelanja maupun berjualan secara online. Riset yang sama mendapatkan angka bahwa 66,28% konsumen di Tokopedia adalah wanita. Tidak sekadar berkontribusi sebagai pembeli, wanita yang berjualan di Tokopedia juga mendominasi dengan jumlah 55,75%.

Dominasi wanita di dunia online tidak hanya sampai disitu. Dalam hal jumlah transaksi yang dibelanjakan, wanita berkontribusi sebesar 61,1% dari total jumlah transaksi yang terjadi di Tokopedia. Sedangkan dalam hal jumlah transaksi yang didapat, lagi-lagi wanita menang dengan total 53,65%. Sekitar 46,33% dari wanita-wanita yang berbelanja online ini berumur 20-29 tahun, lalu sekitar 39,76% berumur 30-39 tahun.

Mengapa wanita bisa mendominasi pria dalam hal berjualan online? Karena wanita mempunyai pendekatan lebih personal kepada konsumennya. Wanita paham betul dengan produk-produk yang dijual karena mereka juga memiliki dan memakai produk tersebut. Karena itu mereka bisa memberikan gambaran yang lebih detil terhadap produk yang dijual.

Consumer insight tersebut, ujar Ketua Umum idEA Daniel Tumiwa, tentu saja sangat dibutuhkan para pelaku terutama untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian pasar. Pasalnya sampai saat ini ia mengakui masih ada resistensi konsumen terhadap model belanja online. “Dengan approach yang tepat, kita dapat menjangkau potensi pasar yang sangat besar yang saat ini belum tersentuh,tuturnya.

Kembali kepada peta market place fashion muslim, di ranah maya situs-situs fashion muslim terlihat agresif melakukan beberapa aksi branding sekaligus penetrasi pasar. Mereka juga menawarkan beberapa value added kreatif, terutama dalam hal customer service untuk menjawab keinginan dan kebutuhan konsumen online. Beberapa market place bahkan menawarkan fitur khusus untuk mengatasi kekhawatiran dan resistensi (calon) konsumen.

Dengan ramainya persaingan, tentu saja segmen market yang dipilih menjadi salah satu poin penting kesuksesan toko e-commerce. Masing-masing situs e-commerce mempunyai pertimbangan dalam menentukan target pasar dan produk yang mereka jual, sesuai dengan karakter pembelanja online Indonesia.

Bagaimana bentuk-bentuk strategi marketing mereka dalam membaca dan menerjemahkan perilaku konsumen fashion online seperti yang dipaparkan riset idEA, mari kita amati tiga profil populer berikut satu per satu.

logoHijUp E-commerce yang didirikan pada 2011 ini mengklaim dirinya sebagai “mall online fashion Islami terbesar.” HijUp menjual berbagai produk fashion muslim seperti busana muslim, hijab, syal, tas, sepatu, serta aksesoris muslim lainya. Hingga kini HijUp memiliki lebih dari 150 tenant yang menawarkan konsep berbeda-beda. Kekuatan konsep ini penting bagi indutri fashion yang tidak ingin terjebak pada proses komodifikasi. Para pengunjung bisa dengan mudah mencari produk berdasarkan brand yang diinginkan atau jenis produk. HijUp telah menarik lebih dari 100 perancang busana lokal untuk berkontribusi ke situs. Desainer yang karyanya ditampilkan di HijUp termasuk nama-nama seperti Dian Pelangi, Ria Miranda, dan Jenahara.
Menyasar segmen middle class muslim usia 20-35 tahun yang kebanyakan karyawan, Diajeng Lestari, CEO HijUp, menyatakan fashion yang mereka tawarkan selalu terkurasi berdasarkan karakteristik brand, kualitas produk dan kreativitas. “Kurasi ini ketat karena kami ingin men-deliver produk yang bisa bersaing dengan brand internasional. Kami juga memiliki visi misi menjadi Website pusat busana muslim di dunia,” ujar Diajeng. Ambisi tersebut tampaknya masuk akal kalau dihitung dari potensi market. Saat ini Indonesia berada pada urutan ketiga dalam konsumsi busana muslim setelah Turki dan UEA (Uni Arab Emirates).

Kebutuhan segmen middle, menurut Diajeng bukan sekadar barang bagus tapi juga branded. Segmen ini tidak takut mengeluarkan uang yang tidak sedikit di fashion karena punya kebutuhan untuk grooming dari sisi penampilan.

HijUpDiajeng menegaskan mereka sangat mengutamakan experience, seperti dengan menawarkan shopping online yang lengkap. “Produk yang bagus, kemasan yang menarik, dan pengiriman tepat waktu adalah experience yang ditawarkan. Kami tidak ingin mengecewakan mereka. Karena sekali mereka kecewa, mereka tidak akan balik lagi,” begitu ia menerangkan.

Tidak hanya itu, HijUp juga meluncurkan private shopping. Hal ini dimaksudkan agar pelanggan nyaman ketika berkomunikasi dengan mereka. Pelanggan bisa berkomunikasi dengan HijUp lewat BBM, WhatsApp, Line dan media sosial lainnya. “Kami ada, kami nyata, dan kami hanya memajang barang yang sesuai dengan nyatanya,” tegasnya.

Untuk melengkapi experience yang ditawarkan, HijUp juga memberikan service dalam bentuk tutorial pemakaian hijab yang memiliki konten kreatif seperti lookbook dan fashion show. Di luar itu, HijUp juga menyediakan produk-produk seperti buku, al Qur’an, majalah dan DVD bernuansa Islami.

Menurut Diajeng, aktivitas branding yang dilakukan HijUp tidak sekadar mengejar awareness, tapi juga engage ke follower, ada keterikatan emosional. Mereka memberikan hal-hal positif seperti sharing dengan tokoh inspiratif dan bekerja sama dengan event yang diadakan komunitas (sponsor). “HijUp sangat kuat di media sosial, digital, dan komunitas. Kami juga memiliki aktivitas andalan, mulai dari YouTube, selalu membuat konten yang menarik, dan menghadirkan orang-orang yang berpengaruh,” terangnya. YouTube ini sangat efektif untuk menggaet pasar luar negeri karena viewer dari luar negeri yang jumlahnya mencapai 20%-30%. Sejak meluncurkan layanan pengiriman internasional, HijUp.com telah banyak menerima permintaan dari berbagai negara termasuk Singapura, Malaysia, Perancis, Amerika, dan Dubai. Menurut Diajeng, dua dari delapan pengunjung HijUp.com atau sekitar 20% berasal dari luar negeri.

Diajeng mengaku sejak didirikan kinerja mereka tumbuh 300% setiap tahunnya. Sepanjang 2014, HijUp telah menerima 1,6 juta pengunjung yang 20% di antaranya berasal dari negara-negara di luar Indonesia seperti Malaysia, India dan Amerika Serikat. Karena kinerja tersebut, tahun lalu mereka menerima seeds funding dari beberapa venture capital, dua dari Amerika Serikat dan satu dari Indonesia. “Kami berinvestasi di HijUp karena HijUp memiliki potensi besar internasional. Dari perspektif pasar dunia, tidak ada pemain e-commerce telah berfokus pada pasar Islam, namun pada saat yang sama pasar bergerak menuju target niche. Tim HijUp memahami pasar ini dan memiliki kompetensi untuk melaksanakan à la haute couture di bidang ini. Kami percaya bahwa HijUp bisa go internasional dan besar dengan modal ini, “kata KhaiLee Ng, managing partner di 500 Startups di Asia Tenggara, salah satu venture capital HijUp.

 

 



logohijabenka
Website e-commerce fashion muslim yang baru diluncurkan pada awal Juni 2014 ini merupakan bagian dari Website e-commerce fashion wanita asal Indonesia, BerryBenka. Hijabenka berfokus menjual produk fashion muslim seperti jilbab, busana muslim, mukena, tas, serta aksesori lainnya. Berbeda dengan BerryBenka yang khusus menjual fashion wanita, Hijabenka juga menjual fashion muslim untuk pria seperti baju koko.

Hingga kini Website Hijabenka sudah menyediakan lebih dari 100 brand, 1.000 produk, dan sudah melayani sekitar 50 transaksi per harinya. Secara garis besar, Website ini tidak begitu banyak berbeda dengan Website Berrybenka. Hijabenka menyediakan beragam metode transaksi yakni kartu kredit, transfer bank, dan cash on delivery (COD).

Hijabenka1Sebelum diluncurkan, Hijabenka telah hadir selama satu bulan dan melakukan penjualan melalui situsnya. Jason Lamuda, CEO BerryBenka, mengatakan bahwa dalam masa satu bulan itu Hijabenka berhasil memberikan kontribusi tiga persen dari total penjualan BerryBenka.

Dari segi segmentasi, Lily Suriani VP Marketing and Businesses Development Hijabenka mengatakan mereka berusaha menggaet kalangan komunitas. Hijabenka banyak mendukung para UKM yang rata-rata merupakan desainer muda. “Jiwa entrepreneur mereka sangat tinggi. Mereka menghasilkan brand yang mungkin masih muda, tetapi sudah punya loyal customer. Di sana lah kami, baik Hijabenka maupun Berrybenka, hadir untuk mendukung,ujar Lily.

Menurut Lily, Hijabenka saat ini memiliki 100 brand UKM yang bergabung di luar 100 brand lain yang belum bisa tayang di Website karena mengikuti timeline. Ini berarti, sejak dibuka pada Juni 2014, Hijabenka tumbuh lebih dari 200% dalam jumlah brand, karena saat dipisahkan dengan BerryBenka mereka sudah membawa 50 brand UKM. Dan menurut Lily, belum lagi satu tahun umurnya, sales Hijabenka sudah memberi kontribusi sekitar 15%-20% dari BerryBenka yang sampai akhir tahun angka itu diharapkan bisa mencapai 30%. Karena kinerja cemerlang ini, Lily mengatakan mereka sekarang tengah mengarahkan Hijabenka sebagai brand e-commerce tersendiri untuk muslimah, bukan sekadar pelengkap BerryBenka. hijabenka

Bagaimana agar pengguna internet itu tidak takut untuk bertransaksi online? Menurut Lily mereka banyak melakukan edukasi melalui media untuk menanamkan positioning sebagai perusahaan yang bisa dipercaya. Strategi kedua ditempuh melalui marketing community dan activation. “Kami percaya komunitas mereka sangat kuat dan relation-nya dengan mouth-to-mouth sangat besar. Kami percaya mouth-to-mouth adalah salah satu traditional marketing yang masih penting.” Dan yang ketiga, fokus pada customer service.

Terhadap para merchant, Hijabenka memberi support secara intensif, antara lain dengan menciptakan suatu channel atau activation yang melibatkan mereka. Activation ini biasanya lebih mengarah pada community bases, misalnya gathering dengan komunitas tertentu atau dalam bentuk bazaar besar. Di channel tersebut, merchant diberi kesempatan untuk bersentuhan dan menyampaikan pesan tentang kualitas produk terhadap end user.

Sebelum itu, mereka juga sudah memberi edukasi untuk mengarahkan merchant untuk menayangkan produk yang potensial secara penjualan. “Pertama kami mengarahkan mereka tentang selera orang Jakarta karena 65% konsumen kami berasal dari ibukota. Kedua, kami menaikkan market size mereka,” tutur Lily. Di luar edukasi dan sales, merchant juga diajak branding bersama di berbagai media.

 

 

saqina2 Awalnya merupakan sebuah toko fashion muslim offline yang didirikan pada 2007 di Mojokerto, Jawa Tengah. Pada 2008 Saqina mulai merambah bisnis e-commerce online yang tidak hanya menjual produk milik brand-brand fashion di Indonesia, tapi juga memproduksi label fashion sendiri. Meski Website e-commerce-nya dimulai pada 2008, Saqina baru benar-benar serius dengan bisnis online-nya pada 2013 dan menutup semua toko offline-nya.

Koleksi fashion muslim yang tersedia di Saqina sebagian besar merupakan hasil produksi sendiri mulai dari jilbab, sarung, baju koko, gamis, mukena, dan aksesoris muslim lainnya. Hingga kini sekitar 20 brand fashion muslim lokal Indonesia telah bergabung di Website Saqina. Selain membeli produk satuan, pelanggan juga bisa membeli produk secara grosir dengan diskon tertentu.

Saqina memilih segmentasi pelanggan di middle-mid dan middle-to-low. saqina4Harus diakui, saat ini di Indonesia segmen menengah dan menengah ke bawah memang besar dan potensial. Namun sayangnya, belum banyak perancang busana muslim lokal yang menyadari besarnya segmen ini sebagai pasar untuk busana muslim ready to wear. Banyak yang masih memilih untuk membidik kelas atas yang justru masih sangat kecil pasarnya meski memiliki daya beli yang sangat tinggi.

Nah, untuk bisa bertahan di kerasnya persaingan itu, Saqina punya dua strategi jitu yang membawanya agar mampu menonjol di tengah ribuan situs serupa. Dua strategi itu adalah kejelian membidik segmen, dan memberikan nilai tambah, yakni pelayanan personal bagi konsumennya. Dengan dua prinsip tersebut, seperti pernah diungkapkan Muhammad Rosihan, CEO Saqina, market place ini berhasil men-generate 60% pengunjung dari direct acces atau bookmark (bukan traffic melalui hasil mencarian pada search engine) yang mengindikasikan bahwa sebagian besar pengunjung mereka adalah pelanggan loyal.

Saqina.com membagi produk-produk fashion jualannya dalam beberapa kategori yang cukup lengkap. Pertama, kategori busana muslimah dengan lengkap varian (atasan, bawahan, gamis, kerudung, baju olahraga-baju renang, inner, maternity dan lain-lain). Kedua, kategori busana anak perempuan dan laki-laki. Ketiga, kategori busana pria, lalu kategori sepatu & tas, serta kategori aksesoris. Dan keempat produk beauty.

Pada kelompok besar lifestyle, produk mereka terbagi atas tiga kategori yaitu ibadah, edutainment dan home living (home décor Islamic modern art). Menurut Ines Handayani, istri Rosihan yang di korporat memegang jabatan COO, kelompok ini adaptif terhadap perkembangan citarasa disain minimalis modern untuk hunian mereka sehingga Saqina memberikan solusi kebutuhan Islamic home décor dengan konsep religious modern minimalis.

Kategori lifestyle lebih lanjut akan berkembang dengan penambahan kategori baru antara lain Halal Travel—yang meliputi perjalanan wisata untuk tujuan Muslim (moslem destination) di luar tujuan ibadah tanah suci (haji & umroh)–bekerjasama dengan lembaga tour travel serta hotel syariah, syariah finance (bekerja sama dengan perbankan dan institusi keuangan syariah) dan wedding organizer muslim.

Saqina sangat memahami bahwa umat Muslim memiliki ikatan yang kuat antara keyakinan serta pilihan gaya hidupnya. Karena itu kami menyediakan secara lengkap kebutuhan keluarga muslim mulai dari fashion hingga lifestyle,” papar Ines.

Selain menawarkan market place fashion dan gaya hidup yang lengkap di satu tempat, Saqina juga menawarkan kemudahan cara berbelanja bagi pelanggan melalui cara pembayaran ditempat (cash on delivery) yang sudah meliputi 419 kecamatan di Indonesia. Saqina dalam perkembangannya juga akan menjadi ecommerce muslim yang memfasilitasi keluarga muslim yang ingin melakukan perjalanan wisata Islami dan mengakses layanan keuangan syariah, melalui Halal tour and travel gateway dan Islamic Finance gateway. Saqina menjalin kerjasama dengan penyedia jasa tour & travel muslim destination dan perbankan syariah. Layanan ini akan segera dapat diakses dari halaman website Saqina kuartal terakhir tahun ini.

saqina1Saqina melakukan upaya membangun brand yang meliputi tiga hal yakni aspek fungsional, aspek emosional (engagement/bonding) dan aspek spiritual. Untuk itu, terdapat tiga pilar upaya marketing yang dikerjakan oleh Saqina yakni Online Marketing, Offline Marketing dan Bisnis Development Partnership. Aktivitas online marketing dilakukan dengan berbasis pada aktivitas pengembangan content marketing yang dieksekusi melalui channel berbayar dan social media. Upaya offline marketing meliputi penyelenggaraan event ataupun menjadi sponsor dan bekerja sama dengan media-media offline. Sedangkan aktivitas partnership dilakukan melalui kerjasama marketing kolaboratif dengan korporasi, komunitas dan mendukung kegiatan kewirausahaan dan sektor UKM.

Saat ini kategori fashion masih mendominasi brand Saqina.com, namun dalam perkembangan tiga bulan pertama tahun ini, menurut Ines, “halal beauty” menunjukkan lompatan dan kontribusi positif dalam penjualan. Kategori lain yang menunjukkan pertumbuhan signifikan adalah kategori ibadah dengan subkategori Haji-Umrah. Produk perlengkapan haji-umrah serta oleh-oleh memberikan kontribusi positif serta menunjukkan tren yang terus naik. Demikian juga kategori home-décor, yang baru berumur beberapa bulan disambut baik oleh target market. “Pencapaian ini menunjukkan bahwa branding dan posititioning Saqina sebagai e-commerce muslim untuk fashion dan gaya hidup sudah mulai pada track yang tepat.”

saqina3Strategi jitu kedua yang diusung Saqina adalah memberi added value tertentu bagi pelanggannya, yakni pelayanan dengan sentuhan personal. Saqina melayani pelanggan dengan cara tidak segan-segan berkomunikasi langsung lewat berbagai channel, seperti melalui telepon, Short Message Service (SMS), Yahoo! Messenger (YM), BlackBerry, email, dan Shopping Cart, bahkan Facebook. Sejatinya prinsip digital marketing mereka tradisional dan sederhana, agar semua pelanggan dari kalangan manapun dapat mengakses Saqina dengan mudah, murah dan cepat. “Kami mengutamakan percakapan dengan pelanggan daripada automasi proses order,” ungkap Rosihan.

Rosihan meyakini pelanggan dari segmen mereka sebenarnya sederhana, bukan pembelanja yang buru-buru dan tidak selalu nyaman dengan automasi. “Mereka ingin diajak bicara. Mereka inginnya bisa menjangkau saqina.com, seperti mereka masuk toko tradisional, dimana mereka bisa bertanya-tanya dan bercakap-cakap dahulu sebelum membeli,” bebernya.

Dalam berkomunikasi dengan pelanggan, Rosihan menambahkan, SMS masih menduduki peringkat teratas bagi pelanggan. Lalu melalui Yahoo! Messenger, dan kemudian Blackberry Messenger. saqinahitam“Kemudian baru shopping cart. Pola ini sudah berjalan lima tahun, belum berubah hingga saat ini.”

Selain dua strategi utama itu, Saqina juga punya trik lainnya yaitu banjir promosi dan diskon saat Ramadan dan Hari Raya. Kesempatan ini digunakan oleh Saqina dengan secara aktif mendekati pelanggan setia dengan voucher diskon. Terobosan juga terus dilakukan seiring makin banyaknya pelaku e-commerce di Indonesia. Saqina terus belajar dari e-commerce besar di Indonesia, khususnya dalam hal digital marketing. “Saqina.com sendiri pun akan mulai lebih modern, seperti menggunakan webstore engine lebih baik, terkoneksi ke payment gateway, serta kerjasama dengan delivery service,” ujarnya.

Bersama Ideosurce, venture capital yang telah memasukkan dana investasi ke Saqina, kami melakukan perbaikan secara bertahap menjadi e-commerce yang profesional dari segi manajemen, produk hingga infrastruktur,” pungkas Rosihan. *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s