CEO in Crisis (2) – Tony Fernandes

Peran Strategis Tony Mengawal Krisis

Peran CEO saat perusahaan tersandung krisis menjadi sangat strategis. Keterlibatan sang CEO dalam mengelola krisis, antara lain dengan menjadi juru bicara perusahaan, dapat berdampak positif pada citra perusahaan. Setidaknya, dengan turun tangannya pucuk pimpinan, publik menangkap kesan bahwa perusahaan serius sekaligus berkomitmen dalam menuntaskan krisis.

Tony Fernandes adalah contoh pemimpin yang mampu membuat peran CEO menjadi strategis dalam mengelola krisis yang tengah dihadapi AirAsia. titter2Sejak pesawat AirAsia QZ8501 rute penerbangan Surabaya-Singapura diumumkan hilang, Tony langsung turun tangan. Langkah awal yang ia lakukan petir8501adalah memanfaatkan akun social media pribadinya untuk mengutarakan empati terhadap insiden itu. “Saya sangat bersedih dan akan memenuhi seluruh kewajiban saya terhadap peristiwa ini hingga tuntas,” demikian salah satu kicauan Tony terkait insiden pesawat QZ8501 di Twitter-nya.

Setelah itu, Tony turut hadir dalam press conference yang digelar di Bandara Juanda serta mengunjungi keluarga korban. Bahkan, untuk menunjukkan rasa simpatinya, ia memilih untuk mengganti warna logo AirAsia yang merah menyala menjadi abu-abu—sebagai tanda empati. tittertony1

Menurut PR Director Leo Burnett Indonesia Myrna Soeryo, langkah Tony sudah tepat, karena ia langsung berada di garis terdepan dalam menemani Basarnas dan keluarga korban, terutama, dalam hal pemberian informasi yang transparan. “Apa yang dilakukan Tony sebagai sentral informasi AirAsia, terutama untuk keluarga korban di saat krisis, sangat penting bagi perusahaan untuk meredam informasi liar,” ungkap Myrna.

Peran Tony Fernandes sebagai seorang spokeperson pun, dinilai Myrna, sudah memenuhi harapan keluarga korban, publik, dan media. “Pertama kali bertemu dengan Menteri Perhubungan pasca kecelakaan, kemudian pergi ke Bandara Juanda, Surabaya, dan melakukan konferensi pers, serta langsung berhadapan dengan media adalah strategi yang baik dari AirAsia dalam meraih simpati masyarakat,” yakin Myrna.

Langkah Tony berikutnya yang tidak kalah hebat, ungkap Myrna, adalah ketika ia dengan sengaja mengirim surat elektronik (email) kepada para penumpang AirAsia terkait perasaannya dan kelanjutan bisnisnya. Dalam surat elektronik tersebut, Tony mencantumkan bahwa ia sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa pesawat AirAsia QZ8501 dan meminta doa serta dukungan dari masyarakat (penumpang) agar dapat bangkit.

Dalam surat tersebut, Tony tidak mencantumkan jabatan dirinya sebagai CEO perusahaan airline, namun sebagai individu. “Selain itu, surat elektronik tersebut pun diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa ibu masing–masing penumpang, sehingga terkesan sangat personal,” ucap Myrna.

Head of Corporate Secretary and Communication AirAsia Indonesia Audrey P. Petriny menuturkan bahwa alasan Tony untuk terjun langsung memimpin penanganan krisis, karena sebagai pemilik, sekaligus CEO Grup AirAsia, Tony Fernandes ingin berhubungan langsung dengan seluruh stakeholders.

“Ia ingin menyampaikan rasa tanggung jawabnya terhadap para keluarga penumpang dan keluarga karyawan yang ada di penerbangan tersebut. Kehadirannya juga untuk memotivasi rekan-rekan di AirAsia untuk tetap bersemangat dan bersatu dalam melalui masa-masa sulit ini,” ungkap Audrey.

Bahkan, dalam kesempatan press conference yang pertama, pasca pengumuman kecelakaan QZ8501, pengusaha asal Malaysia tersebut dengan tegas menyebutkan bahwa pihaknya (AirAsia) akan memberikan dukungan penuh terhadap proses pencariaan dan juga fokus dalam memberikan informasi terkini, termasuk memenuhi kebutuhan para keluarga.

“Beliau (Tony-Red) langsung bergegas ke Surabaya untuk menemui keluarga penumpang. Setelah bertemu dengan keluarga, Tony Fernandes dan Presiden Direktur AirAsia Indonesia Sunu Widyatmoko langsung menemui media,” sebut Audrey.

tony conporessSesuai janji Tony sebelumnya untuk selalu memberikan dukungan penuh, termasuk kepada media dan pihak keluarga dalam hal informasi, menurut Audrey, ia selalu bersedia menerima pertanyaan apabila media membutuhkan konfirmasi. Di social media, Tony juga tercatat aktif menyampaikan informasi terkini.

Tapi, apakah Tony mampu berdiri sendiri sebagai spokeperson ketika terjadi krisis? Menurut Audrey, sejauh ini Corporate Communication Team selalu mendukung CEO sebagai pusat informasi publik, baik di depan media elektronik, televisi, dan cetak. Oleh karena itu, tim Corporate Communication selalu siap menyiapkan pesan yang perlu disampaikan serta mendampingi CEO di dalam setiap kesempatan.

Kepiawaian Tony menangani krisis melalui strategi Public Relations (PR) yang tepat serta dieksekusi dengan baik, tidak muncul dalam satu malam. Tony, sejatinya, telah ditempa berbagai krisis sejak masih bekerja di industri musik. Antara lain, krisis tentang pembajakan sejumlah lagu yang diproduksi oleh Warner Music Group Asia Tenggara. (Fahmi Abidin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s