Tongsis, Cerita Sang Penerus “Virus” Selfie

Majalah Time memilih tongsis –tongkat narsis–sebagai salah satu temuan terbaik tahun 2014. Alat ini disebut mampu mengakomodir kegemaran selfie yang telah mewabah menjadi fenomena budaya di seluruh dunia selama dua tahun terakhir. Menurut Time, tongsis memang pantas masuk dalam jajaran inovasi terbaik di 2014 karena dapat membantu mengambil gambar dengan sudut pandang yang lebih baik. “Selfie stick dari berbagai merek memungkinkan pengguna memosisikan smartphone lebih jauh dari rentang tangan sehingga bisa mendapat sudut pandang yang lebih baik,” begitu ulasannya. “Add genuine value. Saya melihat banyak orang menggunakannya,” timpal Van Baker, analis teknologi mobile dari perusahaan riset Gartner.

Perilaku selfie sendiri, sejak merebak pada awal 2013, akhirnya menyebar sebagai virus consumer behavior yang menjangkiti hampir semua pengguna ponsel di seluruh dunia. Begitu populernya perilaku ini hingga sepanjang 2013, selfie tercatat menjadi kata yang paling populer (buzzword) di seluruh bumi. Mengutip laporan dari Pew, Time mengungkapkan bahwa setidaknya seperempat orang Amerika Serikat (AS) mem-posting foto selfie mereka di jejaring sosial. Virus selfie bahkan juga menulari orang-orang terkenal di dunia seperti Presiden Amerika Barack Obama, Ellen Degeneres, dan Kim Kardashian. obama1.php

Sayangnya banyak yang tidak tahu bahwa tongsis merupakan produk inovasi karya orang Indonesia. Time hanya menyebut bahwa selfie stick –begitu orang Barat menyebutnya– begitu mudah ditemukan di pasaran (dengan berbagai merek) setelah sejumlah perusahaan mengendus adanya pasar baru melalui produk yang mampu mengakomodir tren selfie di kalangan konsumen smartphone. Majalah internasional itu luput menyebut Anindito Respati Giyardani, nama anak muda asli Indonesia yang telah menemukan ketepatgunaan tongsis. Untunglah media internasional CNN –melalui afiliasinya CNN Indonesia—kemudian berinisiatif mewawancarai Babad Dito –panggilan slank Anindito—sehingga namanya tidak hilang begitu saja dalam arus monetisasi dan komodifikasi pasar atas temuan inovatifnya.

Secara definisi, tongsis — nama yang dipatenkan Dito ke HAKI Indonesia— adalah tongkat yang berujung sebuah kotakan tempat menaruh ponsel (atau perangkat portabel lainnya) yang bisa dihunus untuk mendapatkan sudut pandang pengambilan gambar terbaik sesuai kehendak sang pelaku selfie.   Tongkat ini merupakan modifikasi dari alat penyimpan kamera satu kaki (monopod) yang praktis dan tepat guna kendati teknologinya sederhana.

Kisah penemuan dan pengembangan (product development) tongsis tidak lepas dari pengamatan Dito terhadap dirinya sendiri dalam hal ritual consumption ketika berinteraksi dengan media sosial. Bayangkan saja, ia mengaku dalam sehari sanggup menghabiskan waktu selama 10 jam hanya untuk menatap layar ponsel akibat keaktifannya di jejaring sosial.   Seperti halnya perilaku para pecandu media sosial lain, Dito juga keranjingan mengunggah foto selfie-nya ke media sosial. Begitu mencandu perilaku narsis itu, hingga akunnya tercatat sebagai salah aktifis di komunitas digital “Front Pembela Narsis”. Sebuah komunitas yang dari namanya, sudah menegaskan kesan perlawanan terhadap persepsi negatif tentang perilaku selfie.

Berdasarkan pengalaman terhadap diri sendiri, maupun hasil foto selfie yang diunggah teman-teman (digital) di komunitas itulah, Dito mengamati adanya kesulitan dari pelaku selfie untuk memperoleh angle foto yang bagus. Pencipta-Tongsis-Babab-DitoDari situ ia mendapat ide untuk membuat sebuah alat yang memudahkan setiap orang untuk mengambil potret diri seusai sudut pandang yang diinginkan, tanpa bantuan orang lain. Adalah monopod yang kemudian memberinya inspirasi cemerlang. “Iseng-iseng monopod itu saya sambungkan dengan pengikat ponsel yang biasa dipakai untuk memajang produk di etalasi. Modifikasi itulah yang kemudian berkembang menjadi tongsis,” kisahnya pada Majalah MIX Marcomm.

Dito terus mengembangkan tongkat sederhana itu menjadi sebuah perangkat yang lebih portable dan simple. Setelah mendapat bentuk dan fungsi yang paling ideal, ia membawa hasil kreasinya untuk diperkenalkan pada acara temu komunitas iPhonesia (pengguna ponsel iPhone) di, Labuan Bajo. “Teman – teman saya banyak yang bertanya, alat apa itu Bab? Ya, reflek saya langsung jelaskan bahwa ini adalah tongkat ajaib dan kita bisa selfie dengan high – angle,” kisahnya bernostalgia.

Setelah itu, satu persatu teman iPhonesia mulai melakukan order pembelian tongsis. Produk inipun semakin dikenal kendati pada kalangan terbatas. Golden moment branding tongsis terjadi ketika komunitas iPhonesia menghadiahkan produk ini kepada Mantan Ibu Negara Ani Yudhoyono yang memang gemar fotografi. Sejak saat itu, consumer behavior selfie dengan tongsis meledak menjadi euphoria di masyarakat. Booming tongsis pun langsung meluas ke seluruh Indonesia bahkan mendunia. “Habis Bu Ani publish foto dengan tongsis di media sosial, rame banget orderan,” senyumnya.

Siapa sangka, tongsis akhirnya mendunia, padahal seperti diakui Dito, modal awal yang ia keluarkan hanya satu juta rupiah. “Itu pun pake kartu kredit,” tambahnya. Saat ini, Babad mengaku ada beberapa pengorder setia tongsis yang berasal dari Asia Tenggara hingga Korea Selatan, Jepang dan China. Malah sempat juga muncul permintaan dari pedagang di London.

 

Yang tidak ia sangka dan alpa diantisipasi, banyak bermunculan produk me too tongsis dari seluruh dunia dengan harga lebih murah. Lantaran ketidaktahuannya untuk mematenkan desain produk tongsis, Dito harus menerima kenyataan pahit terjadinya komodifikasi temuannya. Dito tidak sadar bahwa sejatinya ia berhak mematenkan produknya, bukan hanya dari brand Tongsis (yang sudah dia daftarkan di HAKI), namun juga untuk desain produk. Dito tidak paham bahwa penggabungan dua fungsi berbeda menjadi sebuah fungsi baru adalah sebuah inovasi dan bisa dipatenkan. “Saya pikir yang beginian (tongsis) tidak bisa dipatenin,” sesalnya.

Adalah Yoris Sebastian, Founder & Creative Tinker di biro konsultan OMG yang kemudian membangkitkan kesadaran Dito tentang cakupan copy right Tongsis setelah mendapatkan pengalaman terkait dengan product awareness Tongsis di luar negeri. Yoris sendiri tadinya tidak yakin akan “desas-desus” bahwa tongkat ajaib yang begitu populer dan banyak diproduksi berbagai negara itu merupakan ciptaan anak Indonesia. Saat bertongsis- ria di Montreal, New York, Las Vegas bahkan London, ia mendapatkan banyak pertanyaan dari para turis bagaimana cara mendapatkannya. “Saat baru muncul di Indonesia, saya pikir alat ini adalah inovasi dari luar negeri yang namanuya diadaptasi menjadi tongsis. Tapi setelah banyak turis yang bertanya, saya jadi berfikir jangan-jangan ini beneran karya inovatif orang Indonesia,” ujar brand inovator yang populer di Indonesia tersebut. tongsis bluetooth

Kisah “gagap paten” Babab Dito, menurut Yoris merupakan salah satu permasalahan umum yang banyak ia temukan pada inovator lokal. Karena itulah ia kemudian membantu Dito untuk mendaftarkan hak paten Tongsis secara keseluruhan. Tidak cukup di Indonesia, bahkan pada bulan September 2012, mereka mendaftarkan paten Tongsis hingga ke Amerika. Sayangnya, mesti sudah didaftarkan selama dua tahun dan produk me too Tongsis telanjur menyebar ke mana-mana, sertifikat paten itu belum juga keluar.

Perjalanan Penyempurnaan Tongsis

Tidak perlu keahlian khusus dalam mengoperasikan monopod ini, hampir setiap orang bahkan anak-anak dapat melakukannya. Pemerhati media sosial Ignatius Haryanto sependapat bahwa alat ini sangat mendukung aksi gadget mania yang memiliki kebutuhan untuk eksis di media sosial dengan foto-foto narsis.

Tongsis biasanya dijual dengan beragam ukuran mulai dari yang bisa masuk ke dalam saku celana hingga bisa dipanjangkan mencapai 130cm. Tak pelak dengan ukurannya yang memanjang ini bisa digunakan bahkan untuk berfoto selfie sebanyak 10 orang sekaligus. Tongsis juga umumnya mudah diperasikan karena pengguna hanya perlu memastikan posisi kamera sudah tepat. Kalau tidak tepat, tinggal diulang kembali. Waktu mulai diperkenalkan, alat ini dijajakan seharga Rp250 ribu di toko belanja online. Kini, anda mudah menemukan tongsis seharga dari Rp.30.000,00 hingga Rp.80.000,00, baik di saluran digital maupun di lapak pedagang kaki lima.

Walaupun nama Tongsis diklaim diciptakan pertama oleh  Babab Dito pada tahun 2012,  dan kemudian mulai merebak di tahun 2013 serta booming pada 2014,  sejatinya  ada seorang warga Inggris yang sudah melakukan inovasi sejenis pada tahun 1926. Sejarah itu dicatat atas nama Arnold dan Helen Hogg yang diketahui pernah menggunakan tongkat untuk membantu proses pengambilan foto untuk diri mereka berdua.  Suami istri itu memotret diri mereka sendiri di sebuah jalan dekat rumah tinggal mereka di Rugby, Warwickshire, Inggris,  setahun setelah pernikahan. Bukti otentik bahwa mereka menggunakan selfie stick pertama di dunia tercantum di dalam lembaran foto berukuran 2 inchi yang dihasilkan. Cetakan foto yang bertuliskan kalimat “Self Taken, Oct. 1926” itu ditemukan Alan Cleaver, cucu Arnold dalam album foto keluarga. Dalam foto tersebut terlihat jelas Arnold memegang tongkat yang membantu untuk menekan shutter dengan kamera analog yang dia pergunakan. Sayangnya, tidak ada data pasti jenis kamera apa yang dipergunakan.  “Foto itu menjadi kenangan favorit di keluarga kami,” ujar Cleaver seperti kami kutip dari situs Kakeknya, jelas Alan, tidak banyak berpotret sepanjang hidupnya dan baru mulai berfoto setelah menikah tahun 1920.  Foto menakjubkan tersebut mereka temukan di antara foto-foto yag diambil dengan pose membosankan. “Kami menemukan di halaman belakang album. Dia jelas-jelas mencoba sesuatu yang baru,” ujarnya.  “Saya tidak benar-benar tahu apa yang sedang terjadi atau mengapa ia memilih untuk menggunakan tongkat. Istrinya Helen dalam foto itu tampak bingung,” ujarnya lagi. (Fahmi)

Walaupun nama Tongsis diklaim diciptakan pertama oleh Babab Dito pada tahun 2012, dan kemudian mulai merebak di tahun 2013 serta booming pada 2014, sejatinya ada seorang warga Inggris yang sudah melakukan inovasi sejenis pada tahun 1926. Sejarah itu dicatat atas nama Arnold dan Helen Hogg yang diketahui pernah menggunakan tongkat untuk membantu proses pengambilan foto untuk diri mereka berdua. Suami istri itu memotret diri mereka sendiri di sebuah jalan dekat rumah tinggal mereka di Rugby, Warwickshire, Inggris, setahun setelah pernikahan. Bukti otentik bahwa mereka menggunakan selfie stick pertama di dunia tercantum di dalam lembaran foto berukuran 2 inchi yang dihasilkan. Cetakan foto yang bertuliskan kalimat “Self Taken, Oct. 1926” itu ditemukan Alan Cleaver, cucu Arnold dalam album foto keluarga. Dalam foto tersebut terlihat jelas Arnold memegang tongkat yang membantu untuk menekan shutter dengan kamera analog yang dia pergunakan. Sayangnya, tidak ada data pasti jenis kamera apa yang dipergunakan. “Foto itu menjadi kenangan favorit di keluarga kami,” ujar Cleaver seperti kami kutip dari situs Kakeknya, jelas Alan, tidak banyak berpotret sepanjang hidupnya dan baru mulai berfoto setelah menikah tahun 1920. Foto menakjubkan tersebut mereka temukan di antara foto-foto yag diambil dengan pose membosankan. “Kami menemukan di halaman belakang album. Dia jelas-jelas mencoba sesuatu yang baru,” ujarnya. “Saya tidak benar-benar tahu apa yang sedang terjadi atau mengapa ia memilih untuk menggunakan tongkat. Istrinya Helen dalam foto itu tampak bingung,” ujarnya lagi. (Fahmi)

Cerita Lain tentang (consumer behavior) Selfie Tongsis telah menjadi semacam produk perlawanan atas persepsi miring terhadap perilaku selfie. Faktanya,  ada beberapa kalangan –baik terang-terangan maupun diam-diam— memiliki image negatif terhadap consumer behavior tersebut. Apalagi ketika perilaku ini kemudian menggejala sebagai wabah menular di kalangan pengguna media sosial. Argumennya macam-macam. Para psikolog menyebut perilaku selfie sebagai cermin ketidakpercayaan diri sang pelaku. Sementara dari sisi lain, ada pemuka agama (Islam) di Indonesia yang justru menilai perilaku narsis (apalagi yang berlebihan) sudah mendekat kepada penyakit hati berupa takabur (sombong), riya (pamer) atau sedikitnya ujub (membanggakan/terlalu mengagumi  diri sendiri).  Dari dunia Barat pun,  Laurence Allard, seorang profesor dan spesialis teknologi dari Perancis tidak membantah adanya persepsi miring selfie yang dikaitkan dengan moralitas. “The selfie has long had a bad reputation. It’s been demonized and held up as the latest and most egregiously obvious symptom of a narcissistic society,” ujarnya seperti dikutip Time. Namun pada paragraf selanjutnya, sang profesor menyebut anggapan itu tidak seluruhnya benar. Filosofi selfie sebagai obyek narsis atau memotret diri sendiri, menurut pendapatnya merupakan  definisi yang tidak tepat. Ia berpendapat bahwa selfie merupakan sebuah genre fotografi mobile tersendiri yang sebelumnya tidak dikenal. “It’s deeply linked to mobile photography, a genre that’s not only about the connected image, which is meant for others, but also about expressing your own interior voice.” Namun begitu, tambahnya, perilaku selfie sebenarnya sudah memiliki embrio yang nyata  sejak beberapa dekade silam. Praktik ini menurutnya memiliki silsilah dalam sejarah seni lukis dan fotografi dengan bukti adanya foto diri maupun lukisan diri para pembuatnya.   Yang baru dari sisi selfie kalau dikaitkan dengan sejarah fotografi, menurutnya terletak pada temporalitas. Berbeda dengan performer insight  potret/lukisan diri yang cenderung bermotivasi perekaman sejarah dan peringatan, laku selfie yang merebak saat ini dibuat dengan ide komunikasi langsung (berbagi potret) dengan teman-teman, keluarga atau komunitas yang lebih besar secara online.  Bagaimana pendapat anda? (bin)

Cerita Lain tentang (consumer behavior) Selfie
Tongsis telah menjadi semacam produk perlawanan atas persepsi miring terhadap perilaku selfie. Faktanya, ada beberapa kalangan –baik terang-terangan maupun diam-diam— memiliki image negatif terhadap consumer behavior tersebut. Apalagi ketika perilaku ini kemudian menggejala sebagai wabah menular di kalangan pengguna media sosial. Argumennya macam-macam. Para psikolog menyebut perilaku selfie sebagai cermin ketidakpercayaan diri sang pelaku. Sementara dari sisi lain, ada pemuka agama (Islam) di Indonesia yang justru menilai perilaku narsis (apalagi yang berlebihan) sudah mendekat kepada penyakit hati berupa takabur (sombong), riya (pamer) atau sedikitnya ujub (membanggakan/terlalu mengagumi diri sendiri).
Dari dunia Barat pun, Laurence Allard, seorang profesor dan spesialis teknologi dari Perancis tidak membantah adanya persepsi miring selfie yang dikaitkan dengan moralitas. “The selfie has long had a bad reputation. It’s been demonized and held up as the latest and most egregiously obvious symptom of a narcissistic society,” ujarnya seperti dikutip Time.
Namun pada paragraf selanjutnya, sang profesor menyebut anggapan itu tidak seluruhnya benar. Filosofi selfie sebagai obyek narsis atau memotret diri sendiri, menurut pendapatnya merupakan definisi yang tidak tepat. Ia berpendapat bahwa selfie merupakan sebuah genre fotografi mobile tersendiri yang sebelumnya tidak dikenal. “It’s deeply linked to mobile photography, a genre that’s not only about the connected image, which is meant for others, but also about expressing your own interior voice.” Namun begitu, tambahnya, perilaku selfie sebenarnya sudah memiliki embrio yang nyata sejak beberapa dekade silam. Praktik ini menurutnya memiliki silsilah dalam sejarah seni lukis dan fotografi dengan bukti adanya foto diri maupun lukisan diri para pembuatnya.
Yang baru dari sisi selfie kalau dikaitkan dengan sejarah fotografi, menurutnya terletak pada temporalitas. Berbeda dengan performer insight potret/lukisan diri yang cenderung bermotivasi perekaman sejarah dan peringatan, laku selfie yang merebak saat ini dibuat dengan ide komunikasi langsung (berbagi potret) dengan teman-teman, keluarga atau komunitas yang lebih besar secara online. Bagaimana pendapat anda? (bin)

                  Dari awalnya sebuah monopod yang disambungkan begitu saja dengan penjepit ponsel, tongsis berkembang dengan beberapa inovasi. Selain varian standar –hanya tongkat dan pemegangnya, saat ini juga terdapat Tongsis yang sudah dilengkapi sistem Bluetooth atau kamera sutter yang berfungsi untuk membantu pemotretan jarak jauh tanpa bantuan timer. Apabila tombol yang terletak pa

da tongsis ditekan maka smartphone segera merespon dengan mengambil gambar saat itu juga. Anda tidak perlu menahan senyum sembari mendengar bunyi penghitung mundur dari kamera dan, klik… Selfie pun jadi.

Varian Tongsis kemudian juga dikembangkan customize sesuai karakter jenis-jenis smartphone/kameranya. Ada Tongsis untuk smartphone tipe tertentu, ada yang khusus untuk kamera saku / pocket camera dan ada pula Tongsis Universal yang bisa digunakan untuk semua type Gadget. Perbedaan utama dari tipe-tipe Tongsis tersebut terletak pada “Holder” atau alat penjepit diujung Tongsis, karena desain tongkatnya cenderung sama kecuali material pembuatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s