Insight Komunitas “Tubuh Besar”

Komunitas-komunitas khusus orang bertubuh gemuk biasanya didirikan berdasarkan gagasan untuk bersama-sama membangkitkan kepercayaan diri para anggotanya. Maka strategi community marketing untuk komunitas ini mestinya memperhatikan kondisi psikologis mereka.

 

 

Tiga grup Facebook seputar komunitas-komunitas itu adalah grup tertutup. Peminat yang ingin bergabung, mesti request dulu untuk di-review oleh pengurusnya, sebelum diputuskan diterima atau tidak dalam grup. “Dibikin grup tertutup karena banyak orang iseng yang masuk ke grup dan posting yang tidak-tidak,” tulis seorang blogger yang bergabung dengan ketiga grup itu.

Ketiga grup yang dia maksud adalah Komunitas Besar Indonesia (Kombes), Komunitas X-l and Curvy Woman Indonesia, serta Kagumi (Ikatan Wanita Gemuk Indonesia), dan sang blogger sendiri mengaku memiliki badan yang gemuk juga.

Oya, grup Facebook Kagumi (dibentuk pada 2013 oleh Indayati Silen-Lin) memiliki member lebih dari 8.000 akun dan grup KomBes (didirikan antara lain oleh Ita Sugito dan Debby Singal) dihidupkan oleh lebih dari 1.500 Facebooker. Sementara member grup X-L and Curvy Woman Indonesia (komunitas orang gemuk pertama yang didirikan pada 2007 oleh Riri Bogar), ada lebih dari 1.800 akun yang bergabung. Nun di luar Jakarta, ada juga komunitas Gemes (Gemuk Menawan Semarang) yang baru saja dibentuk oleh Ivo Winda dan grupnya sudah mulai diaktifkan oleh 51 akun Facebook.

Ya, pertimbangan para pengurus komunitas-komunitas tersebut untuk memilih grup tertutup di media sosial mudah dipahami. Seperti pengakuan Ivo dari Komunitas Gemes, orang gemuk seperti dirinya biasanya terbiasa “di-bully” dan dijadikan bahan banyolan sejak kecil karena kondisi tubuhnya. wanitagemuk Secara kejiwaan, Debby Singal mengakui adanya problem pemilik tubuh berperawakan besar terhadap penerimaan diri dan perasaan disalahkan. Mereka juga harus sering menelan perasaan tidak nyaman dengan panggilan olok-olok semacam “Ndut”, “Gembrot” dan semacamnya. Lebih dari itu, kegemukan sering dipersalahkan sebagai faktor susah mencari jodoh, sukar mendapatkan pekerjaan dan berbagai potensi negatif yang bisa meruntuhkan kepercayaan diri.

Oleh karena itu bisa dimengerti kalau komunitas-komunitas khusus orang gemuk biasanya didirikan berdasarkan gagasan untuk bersama-sama membangkitkan kepercayaan diri para anggotanya.  bullying420 Kombes yang didirikan pada 2012, misalnya, seperti kami kutip dalam situsnya, dibentuk untuk membawa peningkatan diri dan pemberdayaan terhadap orang-orang bertubuh besar, dengan orientasi pada pendidikan tentang obesitas, penerimaan diri dan peningkatan kepercayaan diri serta mengajarkan bagaimana hidup berdamai dengan kegemukan. Fokus pada pembelajaran dan pengembangan pemahaman tentang HAES (health at every size—sehat dalam segala bentuk badan), para inisiatornya mengajak member Kombes untuk tidak melihat obesitas sebagai salah satu penyakit atau musuh.

Karena prinsip ini, Kombes tidak mengajak anggotanya untuk tambah gemuk atau menurunkan berat badan karena hal itu dipandang sebagai hak setiap anggota. Dengan moto “The Power of Big”, Kombes berharap setiap member biasa mencintai dan menjadi diri sendiri sesuai nurani masing-masing. “Kami ingin masyarakat dan pemerintah mengubah paradigma kepada orang-orang besar. Badan dan ukuran besar semestinya tidak menjadi halangan untuk memajukan masyarakat,” tegas Debby dalam suatu perbincangan sore di sebuah kedai hamburger yang sangat American’s Style.

Restoran pilihan Debby sore itu, menurutnya, biasa mereka jadikan venue untuk kumpul-kumpul komunitas. Traffict pengunjung di sini memang tidak seramai kedai burger kompetitor utamanya, yang hanya terpisah oleh sebuah ruas jalan namun sama-sama menghadap jalan protokol utama. Masalah venue untuk kopdar, jelas wanita berpembawaan riang tersebut, sering kali menjadi persoalan karena tidak semua resto mereka rasakan cocok dengan karakter komunitas dan para member-nya.

 Kembali pada profil komunitas, untuk mencapai positioning ideal tujuan organisasi, tiap anggota Kombes diajak untuk saling belajar, saling menghargai, saling berbagi semua hal yang pernah dialami dan terutama saling menguatkan satu sama lain. Coverage komunitas menjadi semakin lebar karena Kombes juga memberikan dukungan untuk orang-orang tua yang memiliki anak-anak, remaja dan anggota keluarga lain yang memiliki permasalahan dengan obesitas.

wanita-gemuk-jadi-model
Hasilnya, di komunitas ini Anda akan melihat wanita-wanita bertubuh subur dengan pembawaan yang rata-rata ekspresif, penuh kegembiraan dan kepercayaan diri. Secara fisik mereka mengekspresikan kepercayaan diri tersebut melalui penampilan yang fashionable, bahkan beberapa terlihat tidak ragu bereksperimen dengan gaya yang menabrak pakem mode konvensional.

Dalam blognya, sang blogger yang pendapatnya kami kutip di atas memberi kesaksian,”Saya melihat bagaimana wanita-wanita dengan berat badan (berlebih) tidak sekadar hidup tapi juga merekah, blooming.” Bukan hanya dari sisi fashion, sang blogger menegaskan blooming yang ia maksud juga meliputi seluruh dimensi kehidupan, termasuk pekerjaan, relationship, kesehatan dan komponen kualitas hidup lainnya. “Seneng banget ketemu komunitas ini, penuh kasih sayang, energik, dan dinamis,” ungkapnya.

Dalam mengemas kegiatan gathering, komunitas-komunitas ini memang terlihat cukup kreatif. Kombes misalnya, menamakan gathering event mereka dengan sebutan Posyandu. Berbeda dengan gathering biasa yang sering hanya diisi dengan ngumpul-ngumpul, nongkrong, makan di mal, “Posyandu Kombes” dilengkapi fasilitas untuk mengecek berat badan dan tekanan darah member yang hadir. “Untuk saling mengingatkan (masalah kesehatan) saja ke anggota,” jelas Debby.  Selain saling mengingatkan, member Kombes juga merepresentasikan awareness terhadap faktor kesehatan ini melalui kegiatan jogging club dan swimming club yang dilakukan rutin sebulan dua kali.

Percaya-Diri-Walau-Berbadan-Besar-300x225Ya, kendati media sosial grup ini di-setting tertutup, Debby menegaskan Kombes tidak ingin terkesan mengelompokkan diri. Di Kombes mereka selalu berusaha untuk berbaur dengan yang lain. “Toh kita sama, bedanya hanya di bentuk tubuh,” ujarnya lagi.

Gemuk + Fashion = Peluang

Harus diakui, fashion merupakan jalan pintas yang paling praktis untuk mengekspresikan kepercayaan diri orang bertubuh besar. Tidak heran Komunitas X-l and Curvy Indonesia yang dikomandani Riri Bogar punya kegiatan modelling dan photoshoot selain gathering rutin. Tambahan info, Riri adalah founder Balga Magz, majalah khusus untuk wanita plus size. Masih pada jalur yang sama, Kombes mewujudkan edukasi mengenai kepercayaan melalui penyelenggaraan kelas kecantikan bagi anggotanya.

Berbagi informasi mengenai toko-toko baju yang menyediakan produk berukuran besar adalah topik banyak diminati member komunitas-komunitas orang gemuk. Maklum, belum banyak merchant populer yang khusus memperhatikan aspirasi mereka. Tidak heran kalau kebutuhan ini akhirnya justru banyak ditangkap oleh para pemain baru di industri fashion, selain factory-factory outlet tertentu.

Sebelum meluncurkan label “X to X Plus Size” di Jakarta tahun lalu, desainer Yuky Stephanie mengamati bahwa hanya factory oulet yang menyediakan pakaian untuk wanita bertubuh gemuk.  “Tidak heran kalau wanita-wanita gemuk sukar mendapatkan baju yang cocok untuk mereka. Padahal jumlah mereka cukup banyak di Jakarta,” ujarnya seperti dikutip http://www.mix.co.id. Selain dipasarkan di beberapa gerai khusus di Jakarta, X to X Plus Size saat ini sudah merambah ke Kuala Lumpur dan Singapura lewat tangan para re-seller.

Orang-GemukUntuk lebih memperkuat positioning produknya, Yuky yang bertubuh langsing itu banyak menggali consumer insight dari sahabatnya yang bertubuh besar namun sangat fashionable.   Tak cukup hanya menggali emosi terdalam (tapped into consumer emotion) sang sahabat (sebagai representasi target marketnya), Yuky juga intens berkomunikasi dengan pelanggan dan terjun dalam komunitas-komunitas orang gemuk. Ia mendekati Kombes, Komunitas Xtra Large dan Komunitas Kagumi, bahkan melibatkan mereka dalam event-event-nya. Pada peragaan busana Jakarta Fashion and Food Festival (JF3) 2014, misalnya, Yuky mengajak 10 pelanggan X to X Plus Size sebagai model dan mengundang anggota komunitas untuk berperan serta. Bagi Yuky, komunitas dan pelanggan adalah brand ambassador paling efektif untuk menciptakan Word of Mouth.

Melalui pendekatan komunitas pula, X to X Plus Size berhasil menjaring pelanggan selebritis seperti penyanyi Audy Item, komedian Tike Prijatnakusuma, pemain sinetron Kanjeng Mami, pemain sinetron Pretty Asmara, penyanyi Shena Malsiana “X Factor”, hingga presenter Marcella Lumowa—co-host Tukul Arwana di program “Bukan Empat Mata”, yang sangat bermanfaat sebagai brand endorser untuk makin memopulerkan produknya.

Tak beda jauh dengan strategi Yuky, Suzanne Subijanto pemilik 16 gerai “My Size”–yang kebetulan bertubuh lumayan besar—juga bergabung dengan Kombes dan Komunitas Xtra L untuk mengenalkan produknya. Keaktifan Suzanne dalam setiap acara komunitas memberi hasil positif antara lain berupa promosi mulut ke mulut dari para member.

Saat ini, My Size sudah mencatat omset belasan milyar dari 16 gerai yang dimilikinya. gemukeleganTak hanya penambahan gerai jualannya, Suzanne juga mengembangkan bisnisnya dengan membuat produk pakaian dalam khusus untuk mereka yang berukuran besar. Pada 2009 juga ia menambah koleksi produknya dengan baju berukuran besar untuk pria.

My Size berhasil membuat konsumen bertubuh besar jatuh cinta melalui strategi produk yang jitu.  Dengan warna-warni ceria dan model yang atraktif, merek ini seperti mengajak konsumennya untuk berani menggebrak selera konvensional orang bertubuh gemuk yang biasanya memilih warna-warna gelap dan muram, dengan ukuran longgar.

Padahal ketika merintis My Mize 2003 silam, Suzanne mengaku banyak yang meragukan konsep bisnisnya, termasuk pemilik konveksi yang diajak menjadi rekanan. Bahkan ketika gerainya di Kuningan buka, pengunjung juga tidak terlalu tertarik untuk membeli baju-baju My Size. Karena pegawainya juga kerap malu-malu menawarkan, Suzanne akhirnya turun tangan ikut menyapa konsumen untuk meyakinkan bahwa produknya bisa membuat mereka cantik dan membangkitkan kepercayaan diri. Dengan pendekatan psikologis yang jitu, dipadukan pendekatan community marketing yang tepat, My Size berhasil menjadi label yang dekat dengan konsumennya. *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s