Mengapa Fashion Show? (ii)

Irvan Permana, Konsultan Brand dari Pathfinders:

“Perhatikan Relevansinya”

 

Fashion show dari dulu memang sudah menjadi sebuah event yang dikenal premium. Tidak heran banyak brand yang mencoba tap in ke fashion show untuk mendapatkan image premium.

Fashion show sendiri sudah mengalami evolusi baru. Di mana tidak melulu harus menggunakan luxurious place dan runway. Brand fashion Chanel melakukan hal berbeda dalam fashion show “Spring-Summer Ready to Wear Chanel Collection 2015”.  chanel41-750x500chanel-spring-summer-2015-ready-to-wear-celebrity-01-kiko-mizuhara-ana-girardot-elisa-sednaoui-alice-dellalMereka melakukan fashion show on the street. Jalanan menjadi runway-nya dan dibagian akhir fashion show mereka melakukan “demonstrasi” fashion, lengkap dengan poster dan pengeras suara seperti biasanya orang melakukan demo. Apakah ini menurunkan image dari Chanel, apakah ini menghilangkan image premium? Rasanya tidak, karena Chanel tetap menjaga image dari brand mereka, bahkan ini menjadi talk of the town tentang keberanian mereka melakukan breakthrough moment di dalam fashion show dengan tetap menjaga eksklusivitas brand mereka dari collections, style, models yang semuanya uniquely Chanel.

Menurut pandangan saya, saat brand-brand ini tap in ke fashion, tidak salah. Hanya saja perlu dilihat relevansi dengan brand mereka sendiri. Relevansi di sini bicara dari kaca mata brand yang menyangkut ke banyak hal mulai dari produk, values, perception, dan target market.

Korelasi brand dengan fashion industry harus dilihat juga dari hal “Are they sharing the same purpose with my brand?” dan hal ini berlaku dua sisi, baik dari brand owner ataupun designer-nya karena dua-duanya adalah brand yang masing-masing mempunyai purpose. Jika jawabannya ya, make kolaborasi akan berjalan baik dan saling mendukung satu sama lainnya.

Event Mercedes Benz Indonesia Fashion Festival adalah contoh event yang mempunyai korelasi dan relevansi kuat antara event dan brand—Mercedes-Benz Fashion Festival diselenggarakan untuk menciptakan citra baru bahwa Mercy is fashion, not just a vehicle! Mereka berbagi passion yang sama dalam style dan good design. Dan karena dikampanyekan secara global, maka image dan perception yang dibuat menjadi lebih kuat, di mana setiap audience akan mempunyai persepsi yang sama. chanel-pret-a-porter-2014-15-ad-campaign-11

Untuk kegiatan event Nokia dan Samsung, mereka masuk ke kegiatan fashion dalam bentuk lepasan. Artinya, event ini cenderung sebagai tactical event untuk jenis produk tertentu dan tidak berlangsung secara berkesinambungan. Samsung S series, hanya S5 yang memakai fashion show dan tidak semuanya S series memakai fashion show. Akan lebih baik jika fashion show ini menjadi signature mereka dalam S series, karena secara image sudah cukup mempunyai relevansi dan korelasi yang sama.

Magnum mencoba masuk ke fashion event untuk varian produk mereka. Mencoba membentuk image yang lebih “wah” dengan memakai designer terkenal dan endorser artis. Cerita tentang fashion show dan Magnum cukup baik dan dibuat terintegrasi. Pertanyaannya adalah apa yang terjadi dengan varian Magnum lainnya? Sepertinya setiap varian mempunyai perbedaan image yang coba dibentuk, padahal brand mereka satu, yaitu Magnum. Akan lebih efektif apabila Magnum memakai pendekatan yang sama dari kaca mata brand-nya, bukan variannya. Di kemudian hari, apabila ada varian baru, apakah Magnum akan memakai pendekatan fashion show sebagai cara membentuk brand image-nya? Patut kita tunggu. *

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s