Agritektur, Komunitas Pemangkas Rantai Makanan

Inilah kelompok anak muda yang memilih bergerak ketimbang hanya berteriak-teriak. Mengadopsi gerakan eat local di luar negeri, mereka mewujudkan beberapa program yang mendekatkan petani kepada konsumen guna memotong panjangnya rantai makanan dan meminimalisir jejak rantai karbon.

Ketika berhadapan dengan sepiring steak yang melelehkan liur, sempatkah terpikir tentang ribuan mil yang sudah ditempuh daging impor itu sebelum terhidang di hadapan anda? Saya yakin tidak. Yah, sepiring daging lezat yang ditata dengan penuh gaya, niscaya cukup membungkam keingintahuan konsumen kota tentang konsep food miles ; efek yang ditimbulkan dari makanan yang kita santap, dilihat dari sejauh apa jarak pengangkutan yang diciptakan.

foodmiles-redux-basicsFood miles sering dijadikan indikator untuk melihat berbagai dampak dari proses produksi hingga distribusi makanan. Ada beragam akibat dari hal ini, mulai dari pemusnahan nilai-nilai budaya sampai peran dalam percepatan terjadinya global warming. Maklum, semakin jauh sumber suatu makanan berasal, berarti semakin banyak pula bahkan bakar yang diperlukan untuk transportasi. Apalagi jika jarak pengangkutan sudah berskala lintas negara atau lintas benua. Bahkan jika bahan pangan impor itu merupakan produk pertanian, kita juga harus mempertimbangkan kemungkinan ia dipanen sebelum waktunya atau penggunaan bahan-bahan kimia untuk menghindari resiko busuk sebelum sampai di tangan konsumen.

Penelusuran rantai makanan semacam inilah yang dijadikan alasan Komunitas Agritektur ketika membesut kampanye “Eat Local”, sebuah kampanye mandiri yang bertujuan untuk menyelamatkan bumi dengan cara membeli dan makan makanan lokal. Eat local, seperti dijelaskan Robby Zidna Ilman, Ketua komunitas Agritektur, menjanjikan kualitas rasa dan nutrisi makanan  yang lebih bagus bagi konsumen karena waktu panen yang tepat.

Secara tidak langsung, komunitas Agritektur meyakini apa yang mereka lakukan akan berkontribusi dalam menyejahterakan perekonomian petani. “Kami ingin mendukung para petani lokal dan produk lokal untuk mengurangi dampak-dampak yang ditimbulkan food miles,” tegas Robby. Untuk itu mereka memberi kesempatan kepada beberapa petani untuk menyosialisasikan proses pertaniannya melalui beberapa jalur.

Satu profil yang mereka bawa dalam event “Eat Local” di area parkir The Stacks Burger, Kemang, akhir September 2014 lalu, adalah Asep Kurnia (27). Petani asal Desa Ciburial, Cimenyan, Bandung, itu biasa membudidayakan sayur-sayuran organik seperti selada, sawi dan tanaman herbal. Di hadapan wartawan, Kang Asep mengungkapkan ia ikut serta dalam kampanye Eat Lokal karena ingin meyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa kualitas hasil pertaniannya tidak kalah dengan produk impor.

 imagesEvent Eat Local di Kemang itu sendiri diramaikan juga dengan rangkaian acara “Parappa” (Pasar Rakyat Petani), “Makan Udunan” dan beragam workshop  seperti membuat butter dan cupping coffee yang dipandu oleh para pengurus Agritektur. parappa agritektutSelain itu ada Rawcal yang dipandu oleh Max dan Helga dari Burgreens Raw Explorers.

Menurut Robbi, satu yang membuat daya saing produk lokal kalah dengan produk impor masalah sisi branding dan packaging. “Oleh karena itu Agritektur akan selalu berinovasi guna membangun branding dan membuat packaging sebaik mungkin. Salah satunya adalah dengan melibatkan rekan- rekan di Agritektur yang lulusan arsitektur, serta seni rupa,” tambahnya.

Ya, sesuai namanya (dari kata agrikultur dan arsitektur), pendiri komunitas Agritektur merupakan gabungan beberapa pemuda yang berlatar pendidikan arsitektur dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan jurusan Agribisnis, Universitas Padjajaran (Unpad). Resmi terbentuk pada tahun 2012, komunitas ini menancapkan visi untuk membangkitkan minat masyarakat agar mengonsumsi dan mengolah makanan lokal serta membantu petani memotong supply chain –rantai panjang distribusi, dengan langsung ke end user (petani).

Ide itu kemudian mereka realisasikan melalui Parappa-Pasar Rakyat Petani, sebagai contact point untuk mempertemukan konsumen dengan produsen. “Melalui konsep pasar rakyat ini, pembeli sadar apa yang dibeli dan darimana dia membeli. Selain itu kami ingin petani percaya diri, bahwa produk yang mereka tanam dan jual memiliki nilai lebih,” timpal Achmad Syaiful, anggota Agritektur lainnya.   Kehadiran Parappa membuka kesempatan lebih luas bagi petani untuk menjual produk pertaniannya langsung tanpa perantara.

Dengan sistem yang mendekatkan hasil tani dengan pembeli, biaya pemasaran bisa dipangkas sehingga petani dan konsumen sama-sama diuntungkan. Sekadar perbandingan, dalam sistem pasar tradisional rantai produksi (petani) dan konsumsi (pembeli) dipisahkan perantara yang membuat harga pangan menjadi lebih mahal. agritektur_1375088772_8Dikemas dengan konsep “makan udunan”, para pengunjung event Eat Local Kemang, bisa membeli hasil tani lokal seperti wortel, roti dari hasil gandum lokal, telur dan lain-lain untuk dimasak di tempat.

Dwi Fitriah Arrisandi, Koordinator Operasional Parappa biasanya mendatangi langsung para petani di kebunnya. Petani yang disasar adalah yang memiliki keahlian khusus pada pengembangan produk pertanian tertentu, seperti petani organik atau petani tanaman herbal. Sampai saat ini, jelas Dwi, Komunitas Agritektur intensif menjalin kerjasama dengan 5-10 kelompok petani.

Kang Asep menjual produk pertanian ke Parappa dengan sistem konsinyasi. Sedangkan untuk pasar modern dia gunakan sistem beli putus. “Kalau konsinyasi kami yang menentukan harga. Kalau beli putus, yang menentukan supermarket. Kalau kami tidak setuju harga, barang tidak bisa masuk supermarket,” ungkapnya memberi perbandingan.

Sebagai petani organik, Asep justru menikmati saat konsumen lebih cerewet dan banyak tuntutan terhadap kualitas makanan karena berarti makin banyak permintaan. Namun ini juga berdampak makin ketatnya persaingan. Bila pada tahun 2004 Asep hanya bersaing dengan empat penyedia produk organik di wilayah supermarket Bandung, saat ini dia harus bersaing dengan 69 lainnya.

foodmiles asepTahun 2004 Asep pernah mencoba bertani organik tapi gagal karena pasar terbatas. Delapan tahun sesudahnya, dia mencoba lagi dengan menanam beberapa tanaman herbal seperti rosemary (Rosmarinus officinalis), thyme (Thymus sp.), dan mint/mentha dari keluarga Lamiaceae karena melihat kebutuhan tanaman tersebut untuk masakan di restoran. Asep juga menanam stevia, tanaman berdaun manis dari keluarga bunga matahari (Asteraceae), sebagai alternatif pengganti gula. Ada pula Summer savory (Satureja hortensis) tanaman dengan daun berasa asin dan gurih.  Semuanya dapat diolah untuk makanan. “Semua yang dibutuhkan untuk makanan sebenarnya bisa ditanam sendiri,” ujarnya segendang sepenarian dengan visi Agritektur.

Dengan menentukan harga sendiri, Kang Asep terhindar dari potensi kerugian. Rosemary umur satu bulan dia jual Rp 10.000 – Rp 15.000, tergantung tinggi tanaman. Di Parappa, rosemary bisa dia jual Rp 20.000, sementara di supermarket, harganya bervariasi dari Rp 25.000 – Rp 50.000.

Dwi mengakui, Parappa tetap membutuhkan marjin dari hasil penjualan produk pertanian. Keuntungan itu dikumpulkan sebagai modal karena mereka punya cita-cita menjadikan Parappa sebagai pasar berbasis koperasi. “Fokus kami bukan kejar untung besar, tetapi pasar yang sama-sama menguntungkan dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Pasar makanan organik memang tengah berkembang pesat secara global dan mulai berjangkit dalam skala nasional. Tim Lang dan Michael Heasman dalam bukunya Food Wars memperkirakan pasar produk organik akan berkelanjutan hingga dekade ke depan.  Pada tahap hampir bersamaan, muncul gerakan pasar alternatif yang memiliki visi untuk ‘mengguncang’ rantai makanan, yang rangkaiannya selama ini sering menempatkan petani pada posisi tidak adil.

9693599 Ketika pasar petani dikembangkan di Amerika Serikat 1979, ruang ini diperuntukkan bagi petani, pembudidaya, maupun produsen makanan lokal untuk menyediakan pangan yang segar dan bersih. friends farmerPerubahan budaya makan di masyarakat turut membentuk pasar petani. Pembeli ingin pangan yang segar dari kebun dengan harga tak terlalu mencekik. Pola konsumsi saat ini membuka pasar alternatif yang berbasis lokalitas dan rute perdagangan yang lebih pendek. Hasil tani tidak diangkut terlalu jauh ke kota melainkan dijual dekat dengan lahan pertanian untuk mengurangi jejak karbon.

 Kebun Asep ke Parappa berjarak 8,4 kilometer, sedangkan jarak ke sebuah supermarket di pusat Kota Bandung 11 kilometer. Jejak karbon yang ditinggalkan juaauhh lebih sedikit daripada perjalanan bahan pangan impor.

postereatlocalDengan semangat dan ide yang diusung, kehadiran pasar petani memang terlihat seperti pasar yang ideal.  Pasar model ini juga punya peluang untuk bertahan sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan bahan pangan berkualitas.  Namun keberlanjutan adalah tantangan di masa depan.

Bagaimana memastikan petani setia menanam, pangan mudah diakses, dan minat membeli produk segar tetap tumbuh adalah pertanyaan yang harus dibuktikan bersama.

You are what you eat , itu benar dan mulai sekarang makanlah makanan yang dapat menjadikan bumi lebih baik dan sekaligus menolong petani,” tuntut Robbi.

Naskah : Nurur R Bintari, reportase : Fahmi Abidin Achmad, foto-foto : internet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s