Ketika Blogger Makin Bergigi

Sekalipun terdengar berlebihan, anggapan berikut mendekati kebenaran. Bahwa pada masa sekarang, blogger dan buzzer–- sebagai salah satu pemeran aktif media sosial– sudah menyerupai pilar ke-4 dalam manufaktur media komunikasi bagi brand.

superblogger2 Ia dianggap sama pentingnya dengan pelaku media konvensional (wartawan media cetak dan media elektronik) maupun jurnalis media online yang lebih dahulu eksis. Posisi tersebut sekaligus menjadi penjelasan mengapa para penggagas konferensi pers juga selalu mengundang para blogger untuk bersanding dengan awak media sejak beberapa tahun terakhir.

“Bagi kami, blogger dan buzzer juga punya peran penting dalam re-branding Telkomsel yang tengah menyasar kalangan youth, segmen baru yang cenderung lebih aware terhadap media sosial,” Aldin Hasyim, Manager Media Relation Telkomsel memberikan testimony kepada majalah MIX-Marcomm sebelum lebaran lalu.

 Semua pengelola brand niscaya sadar, dalam era internet di mana hubungan antar konsumen semakin demanding, mereka dituntut aktif untuk melakukan komunikasi horisontal ke segala arah. “Itu sebabnya Telkomsel sekarang menempuh new wave communication lewat beragam media sosial seperti twitter, facebook, termasuk blog,” tegasnya.

Buzzer dan blogger, lanjutnya, dipandang penting untuk menciptakan social media effect lantaran menjadi pelaku dalam penyebaran pesan/konten secara real time –kapan saja, di mana saja, dan untuk siapa saja. Kekuatan mereka antara lain terletak pada readership blog dan follower yang dimiliki. Oleh brand, jumlah pengikut/pembaca ini biasanya dijadikan salah satu indikator untuk mengukur efektivitas viral media sosial, terutama dalam menjangkau konsumen yang tidak tersentuh media konvensional.

why-is-blogger-outreach-important-300x200

Kristen Matthew, penulis “Blogger Outreach on Maximize Social Business” mengatakan,”Consumers no longer want to hear from brands anymore, they want to hear from other consumers for a recommendation and bloggers are a key part in B2I2C (Business to Influencer to Consumer).”

 

Selanjutnya aktifis blog itu memaparkan data yang dilansir GroupHigh, perusahaan berbasis media sosial di Boulder Colorado, di mana ia bekerja. Bahwa, pertama, para influencer tersebut kebanyakan aktif di blog –86% memiliki blog. Kedua, 81% dari manusia yang online percaya terhadap informasi dan saran yang mereka dapatkan dari blogger. Dan ketiga, 61% dari orang yang online memutuskan untuk membeli suatu barang berdasarkan rekomendasi dari para blogger.

Sepaham dengan keyakinan Mathew, menurut Aldin, buzzer dan blogger di Telkomsel biasanya ditempatkan sebagai recommender untuk konsumen, terutama ketika mereka meluncurkan sebuah produk baru. Dengan kesadaran bahwa konsumen jaman sekarang cenderung membutuhkan rekomendasi saat ingin membeli suatu produk, maka Telkomsel meng-endorse beberapa “selebtwit” termasuk blogger yang segmennya sesuai dengan produk baru mereka.

Bagaimana memilih selebtwit yang tepat untuk ditempatkan sebagai buzzer brand? Telkomsel biasanya memulai dengan mencari informasi seputar personalitas yang bersangkutan, siapa dia, apa saja yang dilakukan lewat media sosialnya dan bagaimana respon dia terhadap para follower-nya. Setelah melihat segmentasi dan kesesuaian dengan produk Telkomsel, barulah mereka mengukur jumlah follower yang dimiliki sang “selebriti”.

blogger outreach

Hampir pada setiap event, Telkomsel selalu melibatkan blogger dan buzzer di samping pelaku media social dan jurnalis. Saat “Drive Test Telkomsel 2014” ke Surabaya pada 9-10 Juni 2014. saja, misalnya, mereka mengajak 22 blogger dan buzzer bersama 55 orang jurnalis media konvensional. Jumlah ini meningkat tajam dibandingkan event serupa tahun lalu yang hanya menyertakan 6 orang blogger.

Perlakuan pemilik brand terhadap blogger, buzzer dan jurnalis dalam event brand biasanya tidak pernah dibedakan. Kursi undangan juga tidak pernah dipisahkan. Namun yang terjadi, keduanya jarang bisa bersatu layaknya air dengan minyak. Masing-masing biasanya segera mencari komunitasnya sendiri, sehingga komunikasi horisontal antar dua kelompok itu jarang terjadi.

Cara berkomunikasi keduanya juga berbeda. Wartawan konvensional biasanya cenderung hati-hati, dengan konten pertanyaan formal, serius dan kalau perlu harus disertai angka. Maklum saja, mereka dituntut untuk mendapatkan berita dengan news value tinggi agar lolos seleksi sidang redaksi, demi memenangkan space yang terbatas.

 

Kondisi tersebut berbeda dengan pembawaan para blogger yang biasanya “bekerja” seolah tanpa beban. Mereka memiliki spontanitas tinggi, baik ketika bergaul di antara sesamanya mapun saat mengajukan pertanyaan kepada nara sumber. Konten pertanyaan para blogger juga cenderung ringan dan santai. Kalaupun melontarkan pertanyaan agar serius, levelnya sering dianggap terlalu normatif oleh media konvensional. Maklum saja, mereka tidak dituntut screening macam-macam untuk tayang.

Blog adalah media merdeka dengan aturan suka-suka.   Blogger bebas menulis sepanjang apa saja dan tidak terikat aturan macam-macam layaknya kode etik jurnalistik yang selama puluhan tahun menjadi panduan suci bagi wartawan konvensional.   Maka tidak heran kalau Matthews menyebut mereka berada di dunia abu-abu, bukan dunia hitam putih milik jurnalis. Bloggers don’t have these rules. No one is requiring they adhere to a strict code of ethics or editorial schedule. They call the shots,” ujarnya.

 BLOGGER-EVENTAldin mengaku maklum dengan cara berkomunikasi blogger yang lebih personal dan tidak sekaku media konvensional. Namun seperti halnya penulisan media konvensional yang “diarahkan” melalui press release, pemilik brand berupaya melakukan “pengarahan” terhadap tulisan dan tweet para blogger dan buzzer agar tetap sejalan dengan pesan merek yang ingin disampaikan. “Tapi gaya penulisan dan bahasanya boleh sesuai dengan style masing-masing,” tambahnya.

  Secara strategic, lanjutnya, keberadaan para blogger dan buzzer itu difungsikan sebagai strategi branding untuk meningkatkan rangking Telkomsel di mesin pencari SEO (search engine optimization). Untuk itu mereka berani merekrut blogger dan buzzer dengan bayaran khusus. Pengamat media sosial yang cukup kondang dengan akun twitter @ndorokakung alias Wicaksono pernah mengungkapkan, para buzzer yang ia kenal menerima bayaran mulai dari Rp 100.000 per twit hingga satu sepeda motor untuk kontrak sebagai buzzer.

Kabar lain menyebutkan, satu kicauan Agnes Monica konon dihargai Rp 20 juta pada tahun 2014 lalu, Sherina Rp16 juta, sementara tarif twit Raditya Dika Rp 5 juta hingga Rp 7 juta. Pandu Wirawan, CEO Brightstars, perusahaan konsultan pemasaran digital menyebut angka yang kurang lebih sama untuk buzzer artis, mulai dari kisaran Rp3 jutaan hingga Rp 20 juta per twit. Buzzer bisa memasang harga karena pengguna internet di sini terbilang kelas berat dengan rata-rata penggunaan 5 jam sehari dan 35 jam per minggu.

superblogger
Di luar itu, seperti dituturkan Ahmad Suwandi, Managing Partner Content Is The King, perusahaan penyedia konten, buzzer yang bukan dari kalangan artis bisa menerima bayaran Rp 2 juta hingga Rp 5 juta per minggu. Buzzer bisa memasang harga, timpal Pandu, karena pengguna internet di Indonesia terbilang kelas berat. Rata-rata pengguna sekarang bisa menghabiskan 5 jam sehari dan 35 jam per minggu di depan layar.

“Tentang fee, parameternya berbeda-beda. Ada yang dihargai karena jumlah follower, ada juga per-tweet, per-tulisan, dan sebagainya,” tutur Aldin. Sekaligus ia menegaskan bahwa konfigurasi antara blogger dan buzzer dengan media konvensional pada dasarnya saling melengkapi untuk kebutuhan Telkomsel. Meski saat ini media sosial semakin booming digunakan sebagai tools PR dan promosi, peran media konvensional –termasuk iklan– tetap diperlukan kendati cost-nya lebih mahal dibandingkan berkomunikasi lewat media sosial. Porsi belanja iklan Telkomsel di televisi, media cetak dan online news, ungkapnya, masih dominan dibandingkan placement di media sosial.

 

Keberadaan media (konvensional) di antara Blogger dan Buzzer pada dasarnya saling melengkapi untuk kebutuhan Telkomsel, terutama sebagai perusahaan yang bergerak di industri teknologi dan informasi.

bagan blog komunikasiMeski social media saat ini makin booming digunakan untuk PR ataupun iklan, peran media konvensional tetap perlu dan penting sekalipun cost-nya masih jauh lebih mahal dibandingkan lewat social media. Porsi belanja iklan Telkomsel di TV, cetak dan online news masih dominan dibandingkan placement di social media.

Pertanyaannya, benarkah level blogger di Indonesia sudah sekuat seperti yang ditulis Kristen Matthew? Sayangnya belum ada riset yang meneliti fenomena ini.

Namun Amalia Maulana melihat keberadaan para blogger di Indonesia saat ini telah mengalami pergeseran peran dari brand ambassador ke arah brand endorser. Brand ambassador adakalanya disebut juga sebagai brand evangelist, yaitu pemakai brand yang sangat excited terhadap produk dan services brand, sehingga secara sukarela mau merekomendasikan kepada teman-temannya. Mereka adalah seseorang yang telah mempunyai kedekatan emosional terhadap brand, secara alami, bukan karena adanya insentif tertentu. Brand Ambassador mau menjelaskan hal baik tentang brand yang digunakannya karena brand ini punya peranan penting dalam hidupnya. Dengan demikian, siapa pun bisa menjadi brand ambassador. Baik itu konsumen mapun secara internal orang-orang yang bekerja di perusahaan. Tidak terbatas dilakukan selebriti saja.

 

Konsep ambassador ini berbeda dengan endorser, yaitu siapapun yang mendapatkan insentif dari brand, baik itu bersifat tangible/uang maupun intangible/non uang, dalam menyampaikan berita baik tentang brand.

MIDRANGE1

Endorser membutuhkan dorongan eksternal, dan tidak muncul dari dalam. Peran seperti ini tampak jelas diperankan oleh para fashion blogger yang dalam beberapa tahun terakhir marak direkrut oleh online shop.

Yang cukup cerdik adalah strategi Toyota Astra Motor (TAM) saat mengajak blogger untuk menuliskan pengalaman berlibur mereka sekeluarga bersama Kijang. Atau sebaliknya, para pemilik /pemakai mobil Kijang diminta menceritakan pengalamannya bersama Kijang. Dengan strategi itu, artinya TAM telah memperluas peran pasar (konsumen) dari sekedar user menjadi endorser dan sebaliknya. Melalui blog, audience diajak menikmati pengalaman end-user secara lebih menarik mengingat blogger memiliki gaya penulisan masing-masing.

Sekali dayung, bukan sekadar mendapatkan user insight, strategi itu sekaligus berhasil dimanfaatkan TAM sebagai media untuk mengampanyekan kembali Kijang sebagai mobil keluarga. Secara teknis, kompetisi blogging itu memperkuat jaringan marketing Web 2.0 TAM dengan para blogger sehingga mereka bersedia menjadi agregator situs Toyota Owner Club.  ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s