One just isn’t enough for …

Bahkan seorang Victoria Beckham pun jatuh cinta pada histeria belanja fashionista di negeri ini. “One just isn’t enough for the ladies here in Jakarta! x vb @onpedder #plazaindonesia #VBTour,” tulisnya dalam akun @victoriabeckham tanggal 13/5 lalu.

Dalam tweet tersebut, ia menyertakan foto dirinya duduk berdampingan dengan sosialita Sita Satar di butik On Pedder Jakarta, dikelilingi 8 tas koleksi Victoria yang telah dibeli oleh sang sosialita. on pedder Seri yang dibeli Sita antara lain: Seven Patent Buffalo White, Exclusive Mini Soft, Mini Soft Bi Colour Fold Over, Exclusive Quincy Yellow and Grey, Harper Shoulder Bag Buffalo Pink, dan Exclusive Quincy Store Blue. Total pembelanjaan Sita pada hari tersebut, seperti kami kutip dari Liputan6.com di Butik On Pedder, mencapai 200 Juta rupiah. Tas rancangan Victoria berlabel harga pada kisaran Rp 20 juta- hingga Rp 50 jutaan per item.

Victoria datang ke Jakarta untuk menghadiri peluncuran koleksi aksesori terbaru, kolaborasinya dengan On Pedder butik asal Hongkong. Rangkaian koleksinya terdiri dari hand bag, clutch bag dan kacamata. Sebelum berkunjung ke Indonesia, istri pesepakbola David Beckham itu sudah terlebih dahulu mendarat di Singapura dengan misi yang sama. Namun sambutan konsumen Singapura, dikabarkan tidak sehangat publik Jakarta.

Victoria Beckham berkembang menjadi merek yang memiliki kekuatan untuk “berbicara lantang” –kendati sosoknya sendiri selalu tampil tanpa senyum– sejak masih dikenal sebagai personel Spice Girl di era tahun 90-an. Publik banyak mengenal namanya dengan berbagai sensansi. Mulai sebagai girl power, pernikahannya dengan pesepakbola mahsyur David Beckham, hingga keputusannya untuk merambah mode dunia.

Kekuatan brand personality-nya mampu menciptakan tren yang disukai perempuan dunia, khususnya para pecinta fashion. Bulan September 2008, misalnya, ia memotong rambut dengan gaya Pixie yang sangat pendek, dan kemudian diikuti beberapa selebritas Hollywood seperti Jennifer Lawrence, Anne Hathawai dan Charlize Theron. Dua tahun sebelumnya, potongan Pob rambutnya juga sempat menjadi acuan model para penata rambut yang lebih dikenal dengan potongan rambut A-line ala Victoria.  VB

Victoria juga mengenalkan model sepatu hak tebal (platform shoes) melalui penampilannya di video Spice Girl Wannabe pada tahun 1996. Model ini masih populer sampai sekarang karena membuat pemakainya tampil lebih semampai bak supermodel. Di dalam negeri, beberapa selebrita seperti Syahrini, Julila Perez, dan Mulan Jameela kerap terlihat mengenakan alas kaki model ini.

Untuk busana, gaya Victoria menjadi panutan ketika memakai gaun model Peplum, rok pendek yang berkibar di sekitar pinggang dan membuat pemakainya terlihat ramping berisi. Juga model rok pensil yang ia keluarkan sebagai koleksi busana di tahun 2009 dan terlihat dipakai oleh Gwyneth Paltrow, Blake Lively, dan Michelle Williams dalam beberapa acara bergengsi. Dan jangan lupa, Victoria pula yang mampu mengubah kesan kuno desain korset menjadi busana high fashion seksi melalui rancangan gaun Pushup keluarannya.

Bagi pecinta fashion dan fans Victoria, bisa membeli produk langsung dari sang desainer adalah sebuah cerita seru. Bukan semata ingin memiliki produknya, mereka berburu tas sang pesohor juga karena ingin bertatap muka, serta mendapatkan tanda tangan langsung dari sang Diva. Dalam setiap pembelian di Jakarta kemarin, selain mendapatkan tandatangan, pembeli juga akan memperoleh fotonya bersama Victoria yang akan dikirim pihak On Pedder karena mereka tidak diizinkan menggunakan perangkat pemotretan pribadi.

Namun sensasi dari experiental marketing itu ternyata tidak terlalu membias pada sosialita pada segmen lebih atas. Menurut Ari Prastowati, pengamat perilaku sosialita Jakarta, produk-produk fashion milik Victoria yang simple dan hanya cocok untuk orang-orang bertubuh kurus, sebenarnya menyasar segmen social climber (dengan kisaran usia 30-40-an) yang sedang ‘belajar’ masuk ke dalam komunitas atas. Mereka ingin dilihat dan diakui melalui kemampuan dan simbol-simbol yang dimiliki.

Segmen social climber, lanjutnya, berbeda dengan sosialita kelas A++ yang lebih matang dan memiliki preferensi brand yang lebih tinggi ketimbang produk-produk keluaran Victoria, seperti pada pecinta merek Hermes yang harganya sudah masuk pada kisaran ratusan juta. hermesBahkan untuk produk selevel itu, ungkap Ari, biasanya mereka memiliki koleksi tidak hanya satu. Bisa lebih dari tiga atau empat, minimal untuk warna-warna dasar seperti hitam, coklat dan merah. “Hermes bagi mereka adalah kebutuhan, bukan sekadar simbol untuk menunjukkan siapa dirinya dan siapa nama belakangnya. Mereka sudah nggak mikirin uang (saking banyaknya yang dimiliki) dan tidak pernah mengenal kata menyesal karena salah beli,” papar wanita periang ini panjang lebar.

Karena sudah berpengalamhermesan panjang dalam bersentuhan dengan produk-produk ultra premium, menurut Ari,” Mereka sudah tidak lapar dan penasaran lagi dengan barang bermerek.” Oleh karena itu mudah dimaklumi kalau sosialita matang ini tidak ikut-ikut histeris memborong tas Victoria sekadar untuk bisa berfoto dengan sang diva. “Kalaupun ingin punya tasnya, kan tinggal beli di London,” tambahnya.

Di jajaran tas-tas bermerek kelas atas, produk Victoria disebut Ari belum masuk kategori “Siapa-siapa”. Vicky, ia maklumi tengah berusaha meluaskan pasar di Asia ketika konsumen Eropa masih lesu oleh krisis. Tidak bisa dipungkiri juga, di Eropa sudah banyak kompetitor dengan merek yang lebih mapan. Pasar Indonesia, katanya lagi, adalah sasaran yang empuk digarap karena karakternya mudah silau dan gampang dibujuk untuk membeli. “Memang aneh. Blackberry yang di Amerika bukan apa-apa saja, di sini luar biasa sambutannya,” ujarnya terkekeh.

2 thoughts on “One just isn’t enough for …

  1. Ping-balik: Menebak Kepribadian Seorang Perempuan Berdasarkan Tas yang Dia Kenakan - Avatar IT

  2. Ping-balik: Menebak Kepribadian Seorang Perempuan Berdasarkan Tas yang Dia Kenakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s