Pasar Lansia – Marketing Research

***** Di banyak negara maju seperti Jepang, Jerman dan Italia, jumlah penduduk usia di atas 65 tahun sudah melampaui jumlah anak-anak usia di bawah 14 tahun. Kondisi ini merupakan peringatan sekaligus peluang bagi para produsen, peritel dan pemasar untuk mendukung usaha-usaha dalam memenuhi kebutuhan mereka.*****

youngatheart

 

Ketika populasi lansia meningkat, papar Todd Hale, Senior Vice President, Consumer & Shopper Insight Nielsen, pada saat yang sama daya beli mereka meningkat pula lantaran memiliki lebih banyak waktu untuk berbelanja dibandingkan penduduk yang lebih muda. Namun sayangnya, para pelaku bisnis kurang memahami dan mendukung kesehatan serta kesejahteraan konsumen lansia.

Berdasarkan Survei Global Nielsen mengenai Aging kepada 30.000 responden yang memiliki akses internet di 60 negara, 51% konsumen global mengatakan mereka tidak melihat iklan produk yang merefleksikan konsumen lansia. Padahal, setengah dari mereka mengaku tidak mudah menemukan label produk yang gampang dibaca. Sekitar 43% dari responden global juga mengaku mendapatkan kesulitan untuk menemukan lokasi kemasan yang mudah dibuka.

Sekitar 45% lansia mengaku tidak dapat menemukan produk makanan yang mengandung nutrisi diet spesial (45%), makanan kemasan dalam porsi lebih kecil (44%), atau label kemasan yang mencantumkan informasi gizi yang jelas (43%). Responden global juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan bantuan dari industri jasa seperti perumahan (46%), transportasi (44%), finansial (44%), asuransi kesehatan (39%) dan layanan antar makanan (36%).

Informasi Nielsen juga menunjukkan bahwa 1 dari 3 responden yakin jika toko-toko ritel tidak memenuhi kebutuhan konsumen lansia dengan menyediakan lorong belanja khusus untuk produk-produk kebutuhan konsumen lansia (34%), menyediakan jalur khusus untuk konsumen lansia difabel (33%), atau memberikan bantuan untuk membawakan tas belanja (36%).lansia di lorong supermarket Kira-kira 1 dari 4 responden dari seluruh dunia mengatakan bahwa toko-toko ritel tidak dilengkapi dengan bangku untuk duduk (29%), area parkir yang cukup untuk konsumen lansia/difabel (25%), toilet untuk konsumen lansia/difabel (23%), rak-rak toko yang mudah digapai (23%) atau jalan yang landai dan pintu yang aman untuk konsumen lansia/difabel (22%).

Kekhawatiran Lansia Terjadi di Semua Wilayah

Di Amerika Utara, produk, jasa dan fasilitas toko yang memenuhi kebutuhan demografik lansia meraih persentase tertinggi untuk memenuhi kebutuhan responden. Sekitar 51% dari mereka menyediakan informasi nutrisi yang jelas pada label kemasan, 52% menyediakan makanan untuk kebutuhan diet khusus, 51% memberikan penerangan yang cukup, 53% menyediakan toilet yang aman bagi konsumen lansia/difabel. Sebanyak 36% di antara merka juga menawarkan keranjang belanja elektronik, 34% menawarkan pilihan belanja online layan antar. Dan 34% di antara mereka punya kesadaran untuk menyediakan lorong toko yang lebar sebagai akses yang nyaman bagi konsumen lansia/difabel, dan 33% di antara mereka diakui telah memberikan layanan pelanggan yang ramah..

Peritel di wilayah Asia-Pasifik dan Timur Tengah/Afrika memperoleh persentase tertinggi dalam hal “sangat memenuhi kebutuhan” konsumen lansia, yaitu dalam hal kemasan produk yang mudah dibuka (keduanya 54%),menyediakan bangku untuk duduk (29% dan 25%), bantuan untuk membawakan tas belanja ( 24%dan 27 %), serta rak toko yang mudah di gapai (30% dan 33%). Sebanyak 23% peritel di Asia Pasifik dan 27% di Timur Tengah/Afrika juga lebih bersahabat terhadap lansia lantaran promosi produknya mengarah untuk kebutuhan keluarga kecil.

lansiabelanjaSebaliknya, lebih dari setengah responden Eropa dan Amerika Latin mengaku mengalami kesulitan untuk menemukan produk yang mudah dibaca (61% dan 54%) dan mencantumkan informasi nutrisi yang jelas pada label kemasan (53% dan 54%). Sebanyak 46% dari orang Eropa dan 48% dari orang Amerika Latin yang disurvei menyatakan mereka tidak dapat menemukan produk makanan yang memenuhi kebutuhan diet spesial.

Di Eropa, 45% yakin bahwa toko tempat mereka berbelanja tidak dilengkapi dengan lorong-lorong khusus untuk produk kebutuhan konsumen lansia/difabel, dan lebih dari setengahnya tidak dapat menemukan keranjang belanja elektronik (59%) atau mendapatkan bantuan untuk membawa tas belanja ke mobil (52%). Sebanyak 49% konsumen lansia di Amerika Latin yakin bahwa toko-toko ritel tidak menyediakan bangku untuk duduk, 45%-nya mengeluh tiadanya lorong khusus untuk produk khusus lansia, dan 43%-nya menyayangkan tidak adanya tempat antrian pembayaran khusus untuk mereka.

”Sebenarnya para peritel dan produsen hanya perlu mendengarkan permintaan tolong dari konsumen lansia di setiap bagian dunia untuk menciptakan diferensiasi produk dan jasa,” ujar Hale. Hanya melalui improvisasi seperti memperbesar ukuran huruf pada label produk dan penunjuk arah, pengaturan posisi produk untuk usia tertentu pada rak yang mudah digapai, layanan yang ramah, Hale yakin pebisnis sudah bisa membangun loyalitas mereka dalam jangka panjang.

Lansia Tertarik Shopping Online
Lebih dari sepertiga (37%) responden global mengatakan telah memanfaatkan layanan belanja online siap antar, dan sebanyak 54% mengaku akan mencoba layanan tersebut bila telah tersedia. 32% responden global telah menggunakan kupon online untuk belanja grosir, denganpersentase di Asia Pasifik (41%) dan Amerika Utara (38%) melebihi rata-rata global. Tiga perempat responden di Amerika Latin, 64% di Timur Tengah/Afrika, 61% di Eropa, dan 54% di Asia Pasifik dan Amerika Utara menyatakan mereka bersedia menggunakan kupon online untuk berbelanja.

Belanja melalui online dan mobile juga telah dilakukan oleh hampir seperempat (23%) responden global. Sementara tiga dari empat responden di Amerika Latin menyatakan bersedia menggunakan layanan belanja online bila ada. Demikian juga dengan 6 dari 10 responden di TimurTengah/Afrika (63%), Asia Pasifik (62%), Amerika Utara ( 62%) dan Eropa (61%).

1224137_older_people__learning__education__computer__teaching1Hampir setengah (46%) dari responden global menyatakan mereka mengalami kesulitan dalam mendapatkan layanan dan bantuan bila menyangkut kebutuhan usia lansia. Setengah dari responden global berencana tinggal di rumah bersama pasangan (38%) atau dengan bantuan perawat profesional (12%). Ketergantungan pada keluarga di usia tua paling kuat terlihat di Timur Tengah/Afrika. 45% di antara mereka berharap dapat tinggal di rumah bersama pasangan dan 27% berencana untuktinggal bersama anak mereka. Angka ini mendekati rata-rata global yaitu 15%.

Sebanyak 23% responden di Amerika Utara berencana untuk tinggal di suatu fasilitas yang dilengkapi dengan bantuan untuk lansia, untuk level global angka ini hanya sebesar 15%. 17% konsumen di Asia Pasifik berharap untuk tinggal di panti jompo, melampaui peminat panti jompo di seleuruh dunia yang jumlahnya hanya 13%. *

Foto-foto : internet

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s