Bondan Winarno – Melepaskan Diri dari Naga Berkepala 9

Serial : “The Boss as Brand Ambassador”

Jika mendengar nama Bondan Winarno, mungkin sebagian orang akan langsung mengidentikkannya dengan acara wisata kuliner. Barangkali mereka tidak tahu bahwa pria bernama lengkap Bondan Haryo Winarno ini pernah menggeluti dunia jurnalistik—diawali sebagai juru kamera di Pusat Penerangan Departemen Pertahanan Keamanan RI hingga pernah menjadi pemimpin redaksi di beberapa media di Indonesia, seperti koran Suara Pembaruan, majalah bisnis SWA dan Tabloid Mutiara.

7379_ribuan_ragam_kuliner_nusantara_dalam_satu_buku_
Pria kelahiran kelahiran 29 April 1950 ini telah menulis lebih dari 25 judul buku, dan ratusan kolomnya dimuat di berbagai media terkemuka seperti koran The Asian Wall Street Journal, Kompas, majalah Tempo, dan lain-lain. Salah satu bukunya, “Bre-X”, dianggap sebagai buku panduan wartawan investigasi. Ia juga pernah menjadi pengusaha di Amerika Serikat, serta menjadi konsultan Bank Dunia.
Namun Bondan Winarno sekarang lebih dikenal sebagai street-food warrior dengan misi memajukan kuliner tradisional Indonesia. Dengan branding tokoh kuliner Indonesia inilah, Bondan saat ini berjuang menjadi anggota legislatif dari daerah pemilihan DKI Jakarta II (Jakarta Selatan, Jakarta Pusat dan Luar Negeri).
Identitas yang beragam—yang melekat pada namanya, diakui Bondan tidak menguntungkan untuk personal branding-nya.bondan-winarno-putih “Ini awal kerancuan itu. I have been a jack of all trades, but master of none. Sehingga tidak ada branding yang jelas. Ibaratnya, naga berkepala sembilan. Apakah saya seorang jurnalis? Apakah saya seorang pengusaha? Apakah saya seorang development specialist? Apakah saya seorang konsultan manajemen? Apakah saya seorang novelis/cerpenis? Ketika televisi membuat saya populer karena program kuliner, tiba-tiba branding saya pun berubah. Maka, makin kacaulah branding saya,” ujar Bondan dalam wawancara tertulis di sela-sela kesibukannya sebagai caleg.

 

cropped-pak-bondan-header
Namun demikian, tidak ada upaya khusus darinya untuk sengaja membangun atau membentuk personal branding tertentu baginya. Kalaupun apa yang ia lakukan dapat dianggap sebagai upaya personal branding, katanya,

Ia sendiri tidak tahu persis kapan memulainya. Itu dilakukan secara natural saja. “Saya rasa saya memulainya tanpa menyadari bahwa saya telah melakukannya, Saya tidak melakukan rekayasa untuk memproyeksikan sesuatu yang bukan sosok asli saya. Saya hanya berusaha jujur bertindak—dalam arti tidak dibuat-buat karena tujuan pencitraan. Kalau orang tidak tahu latar belakang saya seutuhnya, dan hanya tahu saya sebagai tukang makan-makan, ya sudahlah. Istilah yang tepat: just go with the flow. Saya mengalir saja. Seperti air yang selalu morphing (berubah bentuk) mengikuti wahana yang menampungnya,” tutur Bondan.

 

Bondan menjelaskan ketika Tom Peters mulai memperkenalkan coinage ini sekitar 1997, Ia baru sadar bahwa selama ini ia telah membuat orang mem-branding dirinya. Dan ia juga langsung menyadari bahwa branding dirinya kacau, bahwa tiap kelompok masyarakat punya branding yang berbeda tentang Bondan Winarno.
“Ketika itu memang muncul kesadaran untuk mulai mencoba mendefinisikan personal branding untuk diri saya sendiri. Tetapi, kemudian saya berpikir bahwa saya sudah terlambat melakukannya, di samping saya juga tidak punya target untuk “memasarkan” diri saya sendiri. Sekarang saya sadari bahwa saya salah. Buktinya, saat ini lebih banyak orang mem-branding saya sebagai chef atau cook,” ujar Bondan.

 

Ditambahkannya, bagi orang-orang yang punya disiplin sebagai pembelajar, mereka punya branding yang baik terhadap sosok dirinya. “Bagi saya, itulah yang terpenting. Kenapa saya harus risau dengan orang-orang yang ‘sok tau’ tapi sesungguhnya tidak banyak tahu? Saya merasa tidak perlu buang-buang waktu untuk melakukan personal branding terhadap orang-orang yang memang bukan target saya.”bondan-blangkon

Diakui Bondan, untuk urusan kuliner, teman-teman di Komunitas Jalansutra menjadi bagian dalam pembentukan personalbranding Bondan Winarno. Tetapi, dalam urusan pencalegan, Bondan tidak melibatkan mereka.

Dalam usianya sekarang yaitu 64 tahun, Bondan mengaku tidak membuat target yang rigid. Dirinya selalu melihat kesempatan baru untuk bermanfaat dan menjadi saluran berkat, dan itulah yang Ia lakukan berlandaskan semangat dan prinsip yang dipegangnya selama ini—On My Honor, I Will Do My Best.

Terkait dengan pencalonan dirinya sebagai Caleg untuk Anggota DPR-RI, diakui Pak Bondan ia menemui kesulitan sehubungan dengan branding-nya yang kacau. Namun ia juga melihat kesempatan untuk memperkenalkan dirinya lagi.

“Karena itulah saya harus berusaha keras menjangkau sebanyak mungkin orang untuk memperkenalkan kembali diri saya dalam perspektif baru. Saya sengaja memilih topik gizi yang melekat pada kuliner karena merasa saya punya kredibilitas dalam isu pangan. Saya merasa saya bisa bermanfaat untuk “mendakwahkan” isu gizi bagi masyarakat luas,” kata Pak Bondan.
Tidak tanggung-tanggung, Bondan menyatakan dirinya siap melakukan “serangan udara” maupun “serangan darat” dalam menggunakan channel komunikasi untuk memperkenalkan lagi dirinya pada masyarakat. bondan-gerindra“Saya tidak memasang banner atau memaku poster di pohon. “Serangan udara” dilakukan melalui blog, Facebook, Twitter, targetted SMS, wawancara radio/TV/media, dan lain-lain. Serangan darat dilakukan dengan menyapa sebanyak mungkin orang di dapil (daerah pemilihan) saya (Jaksel/Jakpus/LN). Tiap hari saya dua kali turun ke masyarakat. Saya menyapa orang-orang yang sedang makan siang atau makan malam. Setiap meja saya datangi, memperkenalkan diri sambil mengemukakan visi-misi saya untuk berjuang mewujudkan Indonesia Bergizi. Kalau belanja ke supermarket, saya membawa 10-20 reusablebags yang saya bagi-bagi kepada ibu-ibu yang menyapa saya atau minta berfoto.”
Bagi Bondan, Twitter @PakBondan paling versatile. Ia bisa menjawab dan menulis Twit ketika sedang di dalam perjalanan (di dalam taksi, di ruang tunggu bandara, dan lain-lain) lewat gadget berukuran kecil. Per Maret 2014, Twitter @PakBondan memiliki 424K Followers. Dan sebagian besar yaitu 99% tweet ia lakukan sendiri. Kadang-kadang saja admin ikut menjawab. Bondan - koki
Untuk Facebook, per Maret 2014 ini fans-nya sudah mencapai 9.119 jempol likes, Bondan mengungkapkan ia menggunakan admin yang mengelola Fan Page (fb.com/BondanHaryoWinarno). Sesekali ia ikut menjawab/merespon. Admin juga mengelola website http://www.bondanwinarno.com. Pengintegrasian juga dilakukan dengan bantuan admin.

Ditanyakan tentang keberhasilan personal branding yang ia lakukan, Bondan menyerahkan penilaiannya kepada orang lain untuk menilainya. “Saya silakan orang lain saja yang menilai keberhasilan atau ketidakberhasilan saya. Bagi saya, bukan hasilnya yang terpenting, melainkan proses dan upaya yang saya lakukan untuk mencapai hasil itu,” kata Pak Bondan.
(Naskah : Agne Yasa, foto-foto : Internet)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s