Ketika Komunitas Bicara tentang Rokok

Ini cerita tentang perseteruan antara dua kelompok komunitas yang bertolak belakang. logo terimakasih tembakauYang satu menjadi penyerang agresif, satunya membangun pertahanan gigih.  Komunitas Anti Rokok   versus Komunitas Kretek. kampanye anti rokok

Belasan tahun terakhir, komunitas yang concern untuk memerangi rokok bermunculan seperti kumpulan cendawan di sudut lembab. Di sana ada KARI (Komunitas Anti Rokok Indonesia), Komunitas Anti Tembakau, Komunitas Keren Tanpa Rokok (didukung Yayasan Jantung Indonesia), Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT), Aliansi Masyarakat Anti Rokok, dan masih banyak lagi.

Sebutlah nama KARI, terbentuk pada 2008 dengan anggota anak-anak muda yang mengaku peduli dengan kondisi kesehatan dan lingkungan bangsa Indonesia khususnya. Mereka yang bergabung dalam komunitas ini mengaku memiliki visi untuk menghentikan tingkat peredaran rokok di kalangan masyarakat, menekan jumlah konsumsi rokok, menciptakan lingkungan yang bersih dari asap rokok, serta mengajak masyarakat Indonesia—bahkan dunia—untuk hidup sehat tanpa rokok. 

Selain orang yang memang sudah anti rokok dari awalnya, banyak juga anggota KARI merupakan perokok yang sudah ‘tobat’ dan berniat berbagi pengalaman dalam melawan kecanduan nikotin. Ada juga kalangan guru yang ingin menularkan semangat anti rokok kepada anak didiknya. Banyak juga yang bergabung karena prihatin terhadap gaya hidup orang-orang terdekat yang kecanduan rokok. “Pendeknya, mereka yang sudah merasakan pahit getirnya rokok dan menyadari barang ini tidak ada gunanya. Sebenarnya para perokok itu sadar bahayanya kok, hanya saja tidak mudah untuk berhenti,” ujar Sidik Hanggono, Ketua sekaligus pendiri KARI.

Pembentukan KARI berawal dari aksi saling dukung untuk mengampanyekan bahaya merokok pada sebuah grup milis. Karena dukungan makin banyak, para penentang rokok itu kemudian masuk ke jejaring sosial Friendster dan pada 28 Desember 2008 resmi memproklamasikan bendera komunitas. Tak lama, mereka memutuskan pindah ke grup online Facebook ketika media sosial ciptaan Mark Zuckerberg ini mulai riuh.

Sampai sekarang tercatat ada lebih dari 6.000 member KARI yang bergabung secara online. Menurut Ricki Cahyana, Sekjen KARI, mereka berasal dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, pelajar dan tokoh agama. Dan mereka saling memberikan dukungan melalui berbagai literatur bahaya merokok di dinding Group KARI di Facebook. KARI1Dalam waktu tidak terlalu lama, KARI  juga berkembang di beberapa kota seluruh Indonesia.

Komunitas ini telah melakukan berbagai aktivitas untuk menyebarkan pesan-pesan mengenai bahaya merokok ke berbagai lapisan masyarakat. Antara lain dengan masuk ke sekolah-sekolah di kawasan Bogor untuk memberi penyuluhan kepada para siswanya. Agar kaum remaja lebih terlibat, mereka juga pernah mengadakan lomba poster  tentang bahaya merokok.

Untuk acara kopdar (kopi darat) yang lebih besar, KARI biasanya bergabung dengan komunitas sejenis dan kemudian membesut aktivitas bersama. Kegiatan yang agak rutin adalah seminar dengan mengundang  beberapa pakar kesehatan sebagai pembicara. Masih dalam kebersamaan itu, mereka juga pernah melakukan program edukasi ke sebuah perkampungan di wilayah Duren Sawit (Jakarta) di mana hampir seluruh penduduknya merokok. Termasuk ibu-ibu dan beberapa anak di bawah umur.  

Kekompakan antar komunitas penentang rokok ini memang pantas dipuji.  Secara reguler mereka mengadakan Campaign on the Street pada setiap bulan Mei untuk memperingati hari Tanpa Tembakau Sedunia. Saat turun ke jalan seperti itu, mereka selalu membagi-bagikan brosur tentang tidak bergunanya perilaku merokok, serta penyakit apa saja yang mengancam perokok dan orang-orang di sekitarnya.

Dari tahun ke tahun tema kampanye mereka terkesan makin provokatif.  Jika pada 2011 tema yang diangkat KARI Bogor adalah “Keep Our Health with Say No Smoke”, setahun kemudian mereka terang-terangan ‘menantang’ pelaku industri rokok dengan tema “Intervensi Perusahaan Rokok.”

Dengan tegas Sigit mengatakan, penutupan pabrik rokok memang menjadi target KARI. Menurutnya,  berbagai kompensasi yang dilakukan pabrik rokok tersebut tidak sebanding dengan dampak kerugian yang dialami masyarakat. Apalagi banyak iklan atau promosi rokok yang tidak ada batasannya sehingga membuat banyak anak-anak usia sekolah menjadi perokok aktif. GERANK - HTTS 2013 (18)“Itu target jangka panjang sedangkan target jangka pendeknya adalah menekan jumlah perokok terutama anak-anak,” tegasnya.

Saat ini, masih kata Sigit,  KARI telah mendapat dukungan dari sejumlah Pemerintah Daerah, khususnya Dinas Kesehatan di Indonesia, seperti Aceh, Medan, Pekanbaru dan Lampung. Tercatat ada 19 propinsi yang sudah memberikan dukungan terhadap aktivitas KARI untuk terus melawan bahaya merokok. Bukan itu saja, KARI juga telah menjalin kerjasama dengan Komisi Nasional Anak dan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk melawan bahaya merokok. Sigit berpendapat, dukungan yang semakin banyak terhadap KARI karena mereka memiliki visi  yang sama untuk menyelamatkan Indonesia dari bahaya rokok.

 

Komunitas Kretek

Komunitas-komunitas dengan gerakan anti rokok memang semakin mendapatkan panggung di Indonesia bahkan dunia. Bukan hanya dalam sebuah organisasi formal, berbagai lapisan masyarakat tidak pernah segan bergabung dengan gerakan ini karena dipandang idealis. KOMUNITAS-KRETEK-PENENTANG-RPP-TEMBAKAUNamun dengan keyakinannya sendiri, perokok fanatik berani menentang arus dengan mendirikan Komunitas Kretek.  Tak jarang kedua kelompok itu berseteru seru di panggung digital (semacam twit war). Bahkan pada 2013, keduanya pernah melakukan aksi provokasi pada hari yang sama di Jogjakarta. Untungnya masing-masing mengambil sudut kota yang berbeda.  

Sesuai namanya, Komunitas Kretek berisi para perokok yang tidak terlalu percaya bahwa efek rokok sebahaya yang didengung-dengungkan dalam kampanye anti rokok. Mereka mengritisi  adanya berbagai kepentingan politik, ekonomi,  maupun dunia farmasi di balik resolusi Hari Tanpa Tembakau Sedunia (31 Mei).  “Para aktivis Komunitas Kretek mencatat banyak hal di balik hari anti-tembakau itu. World No Tobacco Day bukan agenda kesehatan semata,” ujar Gugun el-Guyanie, Koordinator Komunitas Tembakau Yogyakarta, dalam sebuah acara pertengahan tahun lalu.

Gugun menuding,  perang anti tembakau sebenarnya merupakan agenda beberapa perusahaan farmasi dunia.  Dalam WHO Tobacco Free Initiative pada 1998, misalnya, 75% pendanaan berasal dari Multi National Company (MNC) Farmasi. Begitu juga Konferensi Dunia tentang Tembakau dan Kesehatan (WCTOH) ke-11 di Chicago, menurutnya  digerakkan oleh dana dari MNC farmasi. Demikian pula dengan FrameworkConventionon Tobacco Control (FCTC), instrumen hukum internasional pengendalian tembakau yang efektif berlaku sejak 2005.kom kretek surabaya

Jangan main-main, komunitas ini didukung beberapa nama berwibawa. Sebutlah nama Mohamad Sobary yang juga merupakan perokok berat. Dalam epilog-nya di buku ‘Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek’, Sobary menulis, “Andai komunitas anti kretek menang dalam pro-kontra ini, hanya akan membukakan monopoli kretek di tangan bangsa asing, yang sudah lebih dari 20 tahun mengincar mata dagangan itu untuk dimiliki sendiri dan dimonopoli di tingkat dunia.” Sedang Zamhuri dari Pusat Studi Kretek Indonesia (Puskindo) menuturkan bahwa kretek khas Indonesia sangat disukai warga (konsumen) luar negeri. “Kretek ini tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kesehatan,” ujarnya yakin.

Komunitas Kretek lahir di Jember—salah satu sentra tembakau di Indonesia—pada Oktober 2010.  Dibentuk setelah beberapa inisiatornya mengadakan bedah buku karya Wanda Hamilton berjudul “Nicotine War :  Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat”  di belasan kota. Tujuan mereka adalah melakukan pembelaan secara terbuka terhadap tembakau, satu dari sedikit komoditas pertanian generasi terakhir yang masih menjadi milik rakyat Indonesia. Lebih spesifik lagi, membela rokok kretek sebagai produk turunannya.

Secara terorganisasi, pembelaan Komunitas Kretek terhadap tembakau dan rokok kretek berlangsung pada dua objektif besar. Pertama, melindungi sumber-sumber ekonomi yang menjadi sumber penghidupan orang banyak agar tetap di tangan rakyat. Kedua memunculkan wacana tandingan untuk melawan—istilah mereka—penggerojokan wacana yang dilakukan industri asing (dalam hal ini industri rokok putih dan farmasi internasional).

Perlawanan wacana ini antara lain dilakukan melalui penerbitan buku-buku berbasis rasionalisasi atas pembelaan terhadap tembakau dan rokok.  Judul-judulnya cukup menarik seperti  Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Kriminalisasi Berujung Monopoli, Perempuan Berbicara Kretek, Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek, Muslihat Kapitalis Global: Selingkuh Industri Farmasi dengan Perusahaan Rokok AS, dan Tembakau, Negara, dan Keserakahan Modal Asing.

Bukan hanya menerbitkan buku dan laporan penelitian, Komunitas Kretek juga beberapa kali terlibat langsung dalam aksi-aksi massa berjumlah raksasa yang terkait dengan konstelasi persoalan tembakau dan rokok kretek.

Tak jarang, perwakilan Komunitas Kretek bertemu dengan para pejabat dan petinggi negeri ini, dari eksekutif, legislatif, dan yudikatif untuk mengkritik dan memberi masukan serta gagasan tentang bagaimana kebijakan soal tembakau dan rokok kretek.  Selain itu, Komunitas Kretek juga terhitung sering mengadakan seminar, bedah buku, pelatihan, dan workshop sebagai konkretisasi komitmen untuk mendinamisasi isu tembakau dan rokok kretek.

komunitas-kretek-imbau-masyarakat-tak-takut-merokokSejauh ini, struktur Komunitas Kretek memiliki satu Sekretariat Nasional dan tujuh Sekretariat Wilayah. Medan, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Jember, dan Makassar.

Belakangan, bersama dengan berbagai lingkaran dan organisasi masyarakat lainnya, Komunitas Kretek ikut mendeklarasikan Koalisi Nasional Penyelamatan Tembakau (KNPK) sebagai akselerator dan konfederasi gerakan di medan wacana ini.

 

5 thoughts on “Ketika Komunitas Bicara tentang Rokok

  1. Mari duel ama gue yg perokok 18 btg perhari.

    Caranya:
    4 org relawan dg umur antara 45-55thn, selama 8 bulan lakukan uji kesehatan dg menu harian sbb:

    1.Si A, aku (Beno), merokok 18 btg perhari, makan telor mentah bebek 8 butir.
    2. Si A2, (temanku,Zakaria), tdk merokok aktif,tp sbg perokok pasive, makan 8 butir telor mentah bebek.

    Bandingkan dg

    3. Si B, siapa saja dari PENENTANG rokok, jangan merokok aktif maupun passive, makan 8 butir telor rebus bebek.
    4. Si B2, siapa saja dari PENENTANG rokok, jangan merokok aktif, jadilah perokok pasive, makan 8 butir telor rebus bebek.

    Yg terjadi adalah:
    Si A, tetap segar bugar, dg derajat kesehatan 96%.
    Si A2, tetap segar bugar, dg derajat kesehatan 97%.

    Si A, skrg berumur 54thn. A2, 58thn. Keduanya dijamin tdk akan stroke, gagal jantung, kanker dsb.

    Si B, saya jamin ga bakal bs jalan, dg derajat kesehatannya _+ 56-65%.
    Si B2, saya jamin ga bs jalan, sakit, dg derajat kesehatan nya _+ 55-64%.

    Si B & B2, biaya pembelian telor selama 8 bulan saya bayar 2x lipat. Sukur bila mau meneruskan selama 18 bulan.

    Siapa berani ambil tantanganku?
    Anda dari WHO, Depkes RI ?

    Analisis perbandingan diatas bermakna:
    1. Antara perokok pasive dg aktif derajat kesehatannya hanya berbeda 1-2%.
    2. Antara pemakan telor mentah dg telor rebus, derajat kesehatannya berbeda 30-40%.

    Simpul:
    1 butir telor rebus Jauh lebih berbahaya dibanding dg 1 batang rokok.

    Maka dari itu, Mulutmu harus dijaga, jgn asal bilang “rokok akan membunuhmu”.

    Beno:
    As : 08 5353 78 0909
    IM3: 08 5659 78 7474
    XL : 08 7700 5555 64
    Tri. : 089 657 808 007.

  2. Kami bru mendrikam komunitas anti rokok jga, apapun kata mas beno. Itu sih hak dia, kmi tdk akan mlayani.
    Maaf,,,!! Salam sehat.

    • Kata Gusdur: “Itu saja kok repot”. Sebetulnya kita perlu kembali kepada petunjuk Allah, mana yang betul dan mana yang salah. Kenapa Allah mengharamkan babi, anjing dan ganja/marjuana? Dalam tubuh binatang tersebut terdapat cacing vita yang tidak mati tuntas walau dimasak secara maksimal. Sedangkan ganja dapat merusak pikiran hingga sampai gila. Adapun rokok yang sedang kalian perbincangkan tidak diharamkan Allah kecuali hukumnya “Makruh”. Artinya tidak berdosa kalau merokok dan berpahala kalau mau menghentikannya. Anehnya ada para ustaz gadongan yang coba melawan ketentuan Allah, merokok katanya haram, membunuh orang tua, para sivil, wanita dan bahkan anak-anak macam di Suriah (Timur Tengah) tidak mereka haramkan. Itu adalah fatwa sesat kendatipun mereka kerap menyesatkan pihak lain. Demikian juga fatwa rokok haram, terlalu berlebihan dengan reklame yang membingungkan, he he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s