Ketika Advertisers Melirik YouTube

YouTube menjadi contact point yang menjanjikan bagi pengiklan. Survei eMarketer menunjukkan 75% agensi iklan sepakat iklan video online lebih efektif ketimbang iklan di TV tradisional. Persoalannya,  bagaimana mendorong audience YouTube secara sukarela mau menerima pesan-pesan iklan?

Bener2 nggak seneng ane sama iklan di YouTube sekarang. Masa harus nonton iklannya full baru ke videonya :Voodoo:

5036ffffc899b1345781759blockadsinyoutube-hackingworldBukan apa2 sih, masalahnya klo iklannya makan kuota ya jelas aja yg buka YouTubenya pada ngeluh dan marah2. Gak ada space lain apa, sampe di dalem video juga dimasukkin iklan gak jelas kyk gitu, ane juga gak niat beli produk yg ada di iklannya kok”

Ane jg tau nih masalah pemilik2 web yg plg umum kali yak, biaya server jg gak murah apalagi buat sekelas YouTube + Googlenya yg mau nyari profit dr YouTube sendiri, makanya harus pake iklan, tp sebenernya kalo mau iklannya rada d minimalisir kita bs make add ons browser bawaan kek ABP, dijamin iklannya ilang dah :D”

Tiga komentar di atas, kami cuplik dari puluhan thread di forum.indowebster.com yang berlangsung sejak Juli sampai Desember 2013. Thread panjang timpal menimpal terjadi setelah sebuah akun memasang tautan info berjudul “Penyebab Banyaknya Iklan di YouTube”. Berita tersebut memuat alasan Krishna Zulkarnain, Kepala Marketing PT Google Indonesia mengenai banyaknya iklan di YouTube—situs video buatan Google yang paling banyak diakses.

Krishna tidak membantah mereka mulai menyediakan space untuk iklan pada 2012 yang membuat visitor semakin sering dihadang dengan berbagai bentuk advertising: mulai dari masthead banner yang muncul di landing page, hingga iklan yang muncul pada saat kita membuka video.

Pihak Google Indonesia sendiri sebenarnya juga menyadari mulai banyak keluhan dari user perihal iklan yang semakin ‘membabi-buta’ di YouTube. Tapi jika iklan ini dihilangkan, kata Krishna, tentu tidak ada lagi sumber penghasilan Google dari YouTube yang sejak awal diformat sebagai tayangan gratisan untuk para visitors. “Semua produk di Google, termasuk YouTube, tidak berbayar. Justru karena kami ingin membuat seluruh konten yang ada di YouTube dapat dinikmati secara gratis, maka kami membiarkan iklan dipasang di sana,” tegasnya. “Pilihannya cuma dua, pengguna atau pengiklanlah yang membayar,” lanjutnya. Maka dari itu perusahaan yang kini memiliki kantor perwakilan di Indonesia ini berusaha agar terus dapat menggratiskan setiap produk Google kepada pengguna.

Sejak beberapa tahun terakhir, media sharing video YouTube menjadi contact point yang dianggap menjanjikan oleh para pengiklan. Mengutip data yang diungkapkan Krishna, dalam sebulan minimal enam miliar jam video yang diunggah ke YouTube global. Kendati belum banyak di antara penduduk Indonesia yang memiliki komputer atau koneksi internet broadband yang diperlukan untuk menikmati streaming video, mereka yang memilikinya ternyata sangat aktif. Menurut Adam Smith, Product Development Director Asia Pasific di YouTube, anak perusahaan Google, karena perilakunya, angka yang sedikit itu bisa meraup jumlah tampilan cukup banyak.

“Kami melihat banyak pertumbuhan di Asia, dan kami juga menyadari kian banyak warga Indonesia yang menonton YouTube,” ujarnya pada satu kesempatan. Smith tidak mengungkap angka pertumbuhan jumlah penonton, tapi ia melihat sudah cukup banyak pengguna YouTube di Indonesia untuk memikat para pengiklan.

Para netizen Indonesia, sejauh ini telah membuktikan diri mampu berkibar di dunia maya. Jumlah pengguna Facebook dan Twitter di sini adalah salah satu yang terbanyak di dunia, meski komputer dan koneksi internet belum meluas ke seluruh lapisan masyarakat. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang, di mana 95%-nya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial.

Pada umumnya, para pengiklan melihat YouTube sebagai saluran alternatif untuk menyiasati kendala minimnya slot iklan di televisi yang sangat mahal.youtube-geek-week-featuring-michelle-phan-song-by-santigold-small-1 Jika di televisi hitungannya bisa detik, maka di YouTube mereka bisa leluasa menyentuh audience dalam hitungan menit. visitor ikut aktif menyimak, tidak hanya mata namun juga telinga. Menyimak iklan dari YouTube tentu lebih menghibur ketimbang misalnya melihat atau membaca artikel dan teks. Menyimak video juga tidak perlu konsentrasi terlalu tinggi, bisa dilakukan sambil bersantai, namun lebih memancing orang untuk berimajinasi, dan efeknya pun lebih mempengaruhi si penyimak.

Selain mencari informasi di search engine seperti Google, Bing dan Yahoo, YouTube merupakan salah satu tempat favorite para netizen untuk mencari informasi berupa media untuk belajar atau pun menemukan informasi yang diinginkan. Selain itu, YouTube juga merupakan situs pilihan bagi orang-orang untuk refreshing. Maka tidak heran kalau situs ini memiliki pengunjung/traffic yang tinggi dan pasti (target).

Keuntungan lain bagi pemasang iklan, begitu Anda meng-up load sebuah video di YouTube, hanya dalam hitungan menit saja iklan yang Anda unggah sudah terindeks ke semua search engine khususnya Google, Bing dan Yahoo. Benefit lain yang langsung terlihat, pemasang iklan juga bisa mendapatkan respon berupa komentar-komentar (positif maupun negatif) langsung dari audience lantaran sifatnya yang interaktif sebagai media sosial.

“Sebelumnya kami hanya memakai media cetak, radio, dan televisi. Kini kami semakin memanfaatkan media digital, karena semakin banyak warga Indonesia yang terpapar media digital,” kata Ira Noviarti, Vice President Unilever Indonesia, semasa masih menjabat sebagai Direktur Pemasaran Divisi Es Krim PT Unilever Indonesia Tb. (ULI).lifebuoy “Sebagian besar warga lebih suka menonton konten, bukan membaca,” tambah profesional yang di ULI antara lain bertanggungjawab atas Media & Consumer Market Insight tersebut.

Dari riset yang dilakukan eMarketer pertengahan tahun lalu, 75% agensi iklan mengatakan bahwa iklan berupa video online lebih efektif daripada iklan TV tradisional dan hanya 17% yang menyatakan iklan online kurang efektif. eMarketer menyatakan bahwa kepopuleran video digital-lah yang mendorong ekspansi iklan berupa video online. Perkembangan ini terjadi seiring dengan tumbuhnya jumlah views video diantara pengguna internet sebesar 23%.

Para periset tersebut memprediksi bahwa dana pemasaran untuk iklan video digital akan tumbuh 40% menjadi 4,1 miliar dollar AS. Pertumbuhan besar diyakini akan terjadi di video online dan mobile, juga iklan di media sosial. Sementara dana yang dihabiskan untuk iklan televisi akan berkurang dibanding tahun lalu.

Kembali kepada pokok persoalan di atas, potensi besar YouTube ini tentu akan sia-sia kalau para pengiklan kurang jeli berlaku sehingga justru menimbulkan resistensi visitor. Bagaimanapun juga, kata gratis selalu terdengar ramah di telinga orang-orang Indonesia, sehingga mereka merasa terganggu ketika ada iklan di YouTube yang sejak awal mereka kenal gratis.

Sempat ada yang mengusulkan agar Google Indonesia memberlakukan aturan seperti yang terjadi di Google Play Store Android, di mana pengguna harus membayar premium member jika tidak ingin mendapati iklan di berbagai konten. Namun usulan ini sebenarnya belum terlalu perlu jika para pengiklan sadar bahwa respon itu muncul hanya terhadap iklan video yang tidak menggunakan fitur skip ads. Tanpa fitur tersebut, mereka merasa dipaksa melihat iklan tanpa bisa menghentikannya.

Bukan hanya pemilik brand, pemahaman atas needs & wants konsumen YouTube itu pun ternyata juga tidak selalu dimiliki oleh agency media placement. Seorang profesional di sebuah perusahaan F&B memberi kesaksian melalui blog-nya bagaimana awak dari perusahaan media yang melakukan pitching untuk sebuah produk perusahaannya memaparkan rencana promosi placement di TV, Website hingga billboard. Dan terakhir ia mengajukan ide memasang iklan di YouTube yang akan muncul selama 30 detik sebelum video dimainkan tanpa bisa di-skip.

Sang pemilik blog mengaku langsung menentang ide tersebut, dengan argumen memasang iklan di YouTube dengan cara seperti itu, hanya akan berakibat turunnya persepsi masyarakat terhadap brand. Ujung-ujungnya, model ‘paksaan’ seperti itu sama saja kembali ke jaman spot iklan di televisi. Ini sebuah kontradiksi karena pada dasarnya internet merupakan media yang seharusnya bebas, pasar yang tidak terjangkau oleh televisi maupun media cetak.

youtubeYouTube, harus dimaklumi, tetap berhak mendapatkan revenue dengan caranya sendiri. Namun jika iklan yang muncul menjadi kurang selektif terhadap kebutuhan audience, atau perlakuannya tidak beda dengan kemunculan di media televisi, tentu menimbulkan kejengkelan tersendiri bagi visitor karena merasa dipaksa melihat iklan yang tidak sesuai dengan kebutuhan/keinginannya sebelum bisa masuk ke video yang diinginkan. Jadi alih-alih produk kita diperhatikan, brand justru bisa mendapatkan resistensi dan image negatif dari audience.

Lalu bagaimana agar iklan kita efektif memanfaatkan YouTube? Sebagai platform, YouTube sebenarnya sudah menyediakan dua jenis iklan: full ADS dan skip ADS. Full ADS berdurasi tidak lebih dari 15 detik, sedangkan yang memiliki fitur Skip ADS selebihnya. Pada jenis yang kedua, visitor mendapat pilihan untuk tetap menyaksikan iklan sampai habis atau mengabaikannya setelah 5 detik. Sayangnya, tak banyak brand lokal yang memanfaatkan fitur ini. Setiap brand ini masih berpikir layaknya memasang iklan di TV, di mana setiap orang dipaksa untuk melihat iklan hingga habis. Kalau hanya 1-2 kali mungkin tidak masalah, namun saat kita membuka video, iklan tersebut muncul terus tanpa kita bisa skip tentu menyebalkan.

Maka menjadi tantangan bagi brand untuk membuat iklan yang secara kreatif bisa menarik perhatian di 5 detik pertama. Di sini pengiklan tentu harus berfikir seperti halnya pengguna YouTube pada umumnya. Sebagai pengguna, visitor selalu mencari konten yang ‘keren’, maka standar keren ini juga harus diterapkan oleh pengiklan agar visitor bersedia menyimak sampai habis. Untuk itu tentu kualitas visual harus menarik, dan mungkin akhir iklan memberi suasana menyenangkan dan menghibur.

Namun menurut Yuditia Hendrawarman, Digital Marketing Manager Unilever Indonesia, karakteristik netizen berbeda dengan target market umum. Tidak tergantung apakah waktu tayangnya lama atau sebentar, menurutnya, mereka yang sudah biasa dengan dunia online dan digital sangat paham dengan pesan yang biasa disampaikan. Merujuk pada behavior-nya, Endi Febrina Herlambang, Communications Manager P&G Indonesia berpendapat, golongan ini cenderung datang dari kalangan generasi muda kelas lebih menengah dan menengah atas. “Untuk produk yang menyasar umur 50 tahun ke atas, tentu tidak bisa hanya mengandalkan YouTube,” tambahnya. Yang lebih enak, menurutnya, audience media ini lebih mudah di-mapping untuk menyesuaikan segmentasi konten dengan produknya.

Satu hal yang harus disadari benar oleh brand, timpal Yuditia, para pengguna YouTube memiliki keinginan untuk menonton lebih dari sekadar iklan jualan. “Added value menjadi salah satu kunci bagi brand untuk mendapatkan perhatian netizen,” tegasnya. SK-IIContoh-contoh konten semacam ini banyak dimiliki oleh video kampanye-kampanye di bidang sosial, pendidikan atau yang sifatnya lebih ke arah CSR, kendati bukan berarti iklan komersial tidak bisa dianggap tidak menarik.

Di sini brand bahkan bisa sharing content lebih luas, misalnya tips cara pemakaian make up untuk produk SK-II milik P&G. Pada kasus-kasus tertentu, Febri bahkan menemukan cukup banyak audience yang menyukai cuplikan-cuplikan adegan behind the scene dari pengambilan shooting iklan produk. Yang jelas, seperti kata Yuditia, konten, alur cerita, serta pesan yang dibangun dan disampaikan harus bisa membuat orang pada akhirnya berinisiatif meng-klik, menonton dan akhirnya berimbas positif kepada brand (bisa awareness, engagement, hingga selling).

Fakta tentang YouTube

Laporan keuangan Google bulan September 2013 lalu juga patut diperhatikan oleh pemilik brand. Seperti yang dilansir oleh TechCrunch, situs yang dimiliki oleh raksasa internet Google sejak 2006 ini, dalam dua tahun berhasil meningkatkan jumlah penonton mobile berlipat ganda. Di sana terlihat pencapaian YouTube yang mengalami pertumbuhan cukup dahsyat dari sisi penonton melalui perangkat mobile baik itu smartphone maupun tablet yang meningkat menjadi 40% secara keseluruhan. Pada tahun 2012, kedua jenis pengguna ini hanya menyumbang aktivitas sekitar 25% dari total aktivitas menonton di YouTube, sementara tahun sebelumnya bahkan hanya mencapai 6% dari total pengguna YouTube.

  • Lebih dari 800 juta pengguna berbeda mengakses YouTube setiap bulannya
  • Lebih dari 4 milyar jam video YouTube ditonton setiap bulannya
  • 72 jam video diunggah ke YouTube di setiap menit
  • 70% traffic ke situs YouTube datang dari negara di luar Amerika
  • YouTube disesuaikan untuk mendukung 53 negara dan 61 bahasa
  • Pada 2011, YouTube dibuka sebanyak 1.000 milyar kali.
  • Jutaan langganan terjadi setiap hari.youtube-logo
  • Dibuat pada 2007, YouTube saat ini memiliki lebih dari satu juta pembuat video dari lebih dari 30 negara di dunia yang mendapatkan penghasilan dari video mereka.
  • 40% dari pengguna YouTube menggunakan perangkat mobile
  • Lebih dari 1 milyar kali YouTube dibuka dalam satu hari oleh pengguna mobile
  • YouTube tersedia pada 400 juta perangkat
  • Trafik dari perangkat mebile meningkat 3 kali lipat pada tahun 2011

2 thoughts on “Ketika Advertisers Melirik YouTube

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s