Blunder Zigzag Komunikasi Gita Wirjawan

Dari nyaris tidak dikenal, nama Gita mulai terdengar sejak diangkat Presiden sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tahun 2009.  mimpi presidenKendati masih terdengar sayup-sayup,  sosok Gita mulai mencuri perhatian –walaupun di lingkungan terbatas— ketika menerbitkan kebijakan internal yang mewajibkan setiap pegawai BKPM memiliki nilai TOEFL minimum 600 agar lebih luwes bernegosiasi dengan pihak asing. Entah berkaitan langsung atau tidak, sejak keluarnya policy tersebut, tingkat investasi Indonesia meningkat setiap kuartal.

‘Brand’ Gita Wirjawan semakin mengudara ketika terpilih sebagai Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PBSI). Tidak lama setelah itu, prestasi bulu tangkits yang sempat lesu perlahan-lahan bangun lagi. Dua perbaikan yang dilakukan Gita di PBSI adalah perampingan struktur organisasi, dan  keluarnya kebijakan yang mengatur kebebasan pihak sponsor langsung berhubungan dengan atlet. Selain meningkatkan kesejahteraan para atlet, kebijakan tersebut juga bisa memacu persaingan positif di antara mereka. Maka tidak heran kalau atlet Taufik Hidayat yang menantu Agum Gumelar kemudian menjadi pengikut Gita.

Yeah….. dan sekarang, siapa yang tidak kenal Gita Irawan Wirjawan? Penduduk media sosial sudah hafal dengan kerajinannya mondar-mandir di timeline. Di twitter, setiap kita buka timeline, selalu muncul daftar orang yang dianjurkan untuk kita follow, dan account @gitawirjawan menjadi salah satunya. Sejak beberapa bulan silam, banyak pegiat yang menyebutkan nama Gita dalam lalu lalang komunikasi di media sosial. Baik itu terkait sepak terjangnya di pemerintahan, atau hanya menyikapi aktivitasnya sehari-hari. Pun banyak yang berkomentar tentang mereka yang mengomentari Gita. Kemudian, ada lagi yang mengomentari mereka yang berkomentar terhadap komentator Gita. Pendeknya, dari satu topik, pembicaraan itu berbiak ke mana-mana karena selalu ada yang pro dan kontra.

Timeline Facebook tidak kalah heboh dihiasi sponsored story mengenai Gita Wiryawan. Untuk versi desktop (personal computer/PC atau laptop), iklan ini ditambah dengan akses tautan ke beberapa portal media, yang dilekatkan di sebelah kanan halaman timeline berisi berita. Iklan-iklan ini sering dihias dengan tagline “cantik” yang membangkitkan rasa penasaran untuk meng-klik dan membaca apa yang diiklankan.

Beberapa website berita juga tidak  luput dari ‘jajahan’ branding Gita Wiryawan. Pada berbagai portal itu, sangat terasa bahwa merek Gita Wirjawan tengah dikibarkan –oleh tim suksesnya–sebagai tokoh idola, serba bisa dengan aspek kehidupan yang sempurna.gita piano Gita yang lulusan Harvard, Gita yang pemain piano klasik, Gita yang konon masih ada ikatan darah dengan Gus Dur, Gita yang begini, Gita yang begitu……

Untuk keperluan branding pula, tim sukses melahirkan website gitawirjawan.com. Dalam situs tersebut, tim sukses terlihat berupaya menampilkan sosok Gita agar masyarakat lebih mengenal siapa dirinya, bagaimana pemikirannya, visi misi, dan rencana untuk Indonesia ditampailkan secara garis besar.

Selain melalui website, tim Gita juga terlihat berupaya melibatkan publik untuk mengemukakan opininya tentang profil pria usia 49 tahun ini sebagai tulisan berbayar. Strategi ini tampak melalui sebuah surat terbuka dari sebuah Agency PR terkemuka yang MIX temukan dalam sebuah milis kreatif. Begini bunyi tawarannya;

Dear friends,

Langsung aja ya. Ada tawaran paid review dari Gita Wirjawan. Diminta tidak membahas capres tapi lebih ke personal branding dia. “Siapa sih Gita?”, gitu deh kira-kira. Mereka minta 2 blog post dgn perincian: 1 diarahkan & 1 dibebaskan (silakan mengutarakan pendapat pribadi).

Btw penawaran ini bukan datang dari tim sukses tapi dari agency berbadan hukum. Jadi semua blogger akan ttd kontrak sehingga ada kepastian. Pikir-pikir dulu dengan bijak. Kalau memang berminat, saya butuh beberapa datanya dan dibalas dengan JAPRI:

 

Dalam sebuah kunjungan di kampus IAIN Surabaya bulan November 2013 lalu, Gita mengaku harus kerja keras memanfaatkan waktu 5-6 bulan untuk membangun pencitraan di tengah masyarakat. Selain berdialog denngan sejumah mahasiswa, pada kesempatan itu Gita juga menyempatkan diri untuk bertemu dengan sejumlah pedagang pasar, selain melakukan konsolidasi dengan sejumlah tim suksesnya.pasar induk 

Agresifitas komunikasi Gita sepertinya tidak sia-sia. Hal ini setidaknya bisa dilihat dari naiknya awareness Gita Wirjawan di benak penjelajah dunia maya. Para onliner semakin semakin paham bahwa Menteri Perdagangan kita memiliki ambisi untuk maju sebagai salah satu kandidat presiden RI pada pemilu 2014.  Menyusul ambisi serupa yang sudah ditunjukkan oleh Dahlan Iskan, Anies Baswedan, Jenderal Pramono Edhie ketika mengikuti konvensi Calon Presiden (Capres) Partai Demokrat beberapa bulan silam.

Lembaga riset Katapedia merekam, Menteri Perdagangan ini menjadi salah satu peserta konvensi  paling agresif dalam melakukan sosialisasi di media sosial, terutama Facebook dan Twitter. Dalam rilisnya  awal Desember 2013, mereka memaparkan bahwa Gita mendapatkan angka tertinggi 40,76%, diikuti oleh Dahlan Iskan 25,26% dan Marzuki Alie 15,77%.

Direktur Katapedia, Deddy Rahman, mengungkapkan para pengguna media sosial cukup tertarik dengan langkah Gita yang pernah tampil bersama grup band papan atas Tanah Air, Slank beberapa waktu sebelumnya.  ‘Manuver’ Gita berkolaborasi dengan Slank pada acara Jakbluefest membuat popularitas tokoh lulusan Harvard University ini  terus melonjak di dunia maya.  Para buzzer (akun pendorong) yang merupakan pendukung Slank banyak melakukan mention, berkicau, hastag, atau mengomentari aksi mereka. Popularitas Gita di media sosial pun pada akhirnya ikut terangkat.

Monitoring lebih lengkap yang dilakukan Politicawave juga memperlihatkan tren serupa. Rekaman mereka terhadap Twitter, Facebook, blog, berita online, dan Youtube  tentang para peserta Konvensi Partai Demokrat memperlihatkan tingkat elektabilitas yang tinggi untuk Gita dan Dahlan Iskan. Persaingan kedua menteri Kabinet Indonesia Bersatu  jilid II itu cukup seru di media sosial. Keduanya saling salip, meninggalkan Anies Baswedan, Marzuki Ali, bahkan Pramono Edhie Wibowo yang digadang-gadang oleh keluarga Cikeas.

Empat kategori yang diamati Politicawave adalah adalah tingkat pengenalan (trend of awareness), elektabilitas calon presiden (candidat electability), pembagian tingkat pengenalan antar calon presiden(share of awareness), dan pembagian pengguna sosial media (share of citizen). Dari empat kategori tersebut, hasil semuanya menempatkan Gita dan Dahlan di posisi teratas. Hasil monitoring tanggal 22 – 28 Desember 2013 misalnya, trend of awareness Gita cenderung menanjak yakni 1.357 poin. Sementara Dahlan anjlok dengan hanya mendapat 702 poin, diikuti Marzuki Alie 290 poin. Untuk share of awareness yang diambil dari jumlah percakapan media sosial, Gita mendapat prosentase 25,5% dan Dahlan 39,7%. Sedangkan share of citizen yang dihitung dari jumlah unit pemilik akun (unique account) rasionya Gita 25%, dan Dahlan 40,5%.


Yang paling jadi perhatian adalah indeks elektabilitas  yang  mengacu pada 4 hal yakni sentiment index, EMSS (earned media share of voice by sentiment), net reputation, dan unique user. Sentiment index adalah indeks yang mengukur margin perbandingan antara sentimen tiap kandidat dibandingkan dengan keseluruhan kandidat. Sementara EMSS adalah perbandingan antara mention positif atau negatif dengan jumlah user. Net reputation (NR) adalah nilah bersih dari bilangan reputasi brand (kandidat) di dalam media sosial. Sedangkan unique user adalah jumlah unit pemilik/pengguna akun. Mengacu pada empat hal di atas, Gita dinilai unggul dan lebih efektif dibandingkan Dahlan. Sentiment index Dahlan 2,19 vs Gita 5,84; EMSS 36,32 vs 31,72; Net reputation 83,68 vs 86,98, dan akun unik 8.570 pengguna vs 5.294 pengguna.

“Kalau membaca hasil indeks elektabilitas ini, Gita lebih efektif dari Dahlan. Sebab, dengan jumlah akun yang lebih sedikit tapi menghasilkan dampak yang positif dan hasilnya signifikan,” kata Yose Rizal, Direktur Politicawave. Nilai dari pembicaraan di media sosial yang dilakukan Gita, menurutnya memiliki trend yang sangat bagus. Yang menarik, kata Yose, Gita dan timnya melakukan ini dalam waktu singkat yakni dalam tempo waktu 2 bulan. Apresiasi serupa juga sempat dilontarkan oleh pengamat politik Pasca Sarjana Universitas Indonesia (UI), Audy Wuisang yang  menilai kinerja tim media sosial Gita cukup solid dan efektif sehingga mampu menembus dominasi nama-nama besar seperti Prabowo dan Jokowi. konvensi demokrat

Media sosial, selama dua pemilu terakhir, telah dimanfaatkan oleh para politisi sebagai instrument politik karena dinilai bisa mempengaruhi preferensi pemilih. Rata-rata penghuni media sosial, menurut Audy, merupakan kelompok kritis namun jika pelaku berhasil mendapatkan dukungannya, mereka akan sangat militan dan  sukarela untuk turut mempengaruhi opini publik. Ruang online juga merupakan alat komunikasi yang besar karena kemampuannya mencapai pemirsa di seluruh geografi , demografi dan status sosial.

Menggaet Segmen Muda

Dari pihak Gita Wirjawan sendiri, Michael Umbas yang menjadi anggota tim media, mengaku jika mereka tidak putus-putus mengambil langkah untuk mengangkat elektabilitas Menteri Perdagangan. Sambutan media sosial, menurutnya, tidak lepas dari banyaknya isu terkait anak muda yang konsisten mereka lemparkan ke publik. Yah, Gita dan tim suksesnya memang terlihat memberi perhatian khusus kepada segmen muda ; generasi melek politik, sangat terekspose oleh gadget dan sosial media, yang besarannya diperkirakan bisa mencapai 20-30 juta pemilih.  

Gita boleh saja berdalih aksinya bersama Slank menyanyikan lagi “Apatis”, “Ku Tak Bisa” dan “Tujuh Mantra” murni untuk menyalurkan hobi nyanyinya. Yang tak bisa ia bantah, Slank memiliki Slankers (komunitas penggemar Slank) yang fanatik dengan jumlah jutaan. Strategi sang Menteri Perdagangan untuk menggaet segmen muda ini makin terlihat jelas ketika tiba-tiba ia muncul di “Inbox”, program musik anak muda di stasiun televisi swasta SCTV pada sekitar bulan September. Di sana ia sempat memainkan keyboard mengiringi Wali Band, bahkan sempat berjoged bersama audience. inbox ok

Beberapa akun di media sosial memberi sentimen negatif atas aksi ini, namun dengan sigap, Ade Armando, anggota KPI yang masuk dalam tim pendukung Gita merespon dengan pembelaan berapi-api setelah sebelumnya menekankan profesinya sebagai pengajar ilmu komunikasi. Selain berusaha mementahkan tuduhan bahwa Gita melakukan aktifitas kampanye pada jam kerja, Ade berargumen acara semacam Inbox merupakan program penting dalam memajukan industri musik Indonesia. Dan produk musik adalah salah satu barang perdagangan penting dalam ekonomi global saat ini, begitu katanya.  

Secara lebih sistematis, strategi menggaet segmen muda dilakukan Gita dengan merekrut sejumlah tokoh muda untuk memperkuat Barisan Indonesia (Barindo) yang dia pimpin. Ia merangkul sejumlah tokoh intelektual muda dan atlet muda, sehingga sejumlah pihak menduga ia sedang membangun citra muda, intelek dan ulet di panggung politik nasional.

Gita Wirjawan terpilih sebagai Ketua Umum Barindo dalam Musyawarah Nasional di Surabaya, bulan Agustus 2013. Di antara tokoh yang direkrut Gita sebagai pengurus Ormas adalah aktifis dan intelektual muda Fajar Riza Ul Haq (Direktur Ma’arif Institut) sebagai Sekjen, dan mantan atlet bulu tangkis nasional Taufik Hidayat sebagai Ketua Bidang Sosial dan Budaya. Barindo merupakan salah satu  ormas yang pernah menjadi tim sukses pengantar SBY ke kursi presiden. Ormas ini bahkan juga pernah dikibarkan sebagai partai politik.

Kelihatannya strategi yang sempurna. Namun di segmen ini, tim sukses Gita sempat juga tersandung sentimen negatif  waktu mencoba masuk ke Kaskus. Saat beriklan di media sosial tersebut, beberapa kaskuser memosting thread yang mempertanyakan keberadaan iklan Gita yang tercantum di home website, tepatnya di belakang kotak pencarian. Thread tersebut kemudian dihapus oleh admin Kaskus dengan alasan dikomplain oleh pihak tertentu — yang diduga konsultan Gita– sehingga menimbulkan protes dari para Kaskuser. Maklum saja, sejak berdiri pertama Kaskus sudah memosisikan dirinya sebagai freedom of speech. Maka layak jika kemudian muncul komentar-komentar resah tentang preposisi brand Kaskus ;“Setuju gan, Kaskus freedom of speech sekarang sudah bergeser menjadi control of speech by money.”

Berkumpulnya masyarakat di forum Kaskus, menurut Ethnographer Amalia Maulana adalah cerminan dari egalitarian, tidak ada pangkat dari anggota forum lebih tinggi dibanding yang lain sehingga bisa mengontrol content dan komentar. Pembaca tulisan-tulisan di media sosial seperti Kompasiana dan Kaskus diharapkan bisa menyarikan sendiri mana yang benar-mana yang ngawur, mana aspek penting dan tidak penting dari sebuah topik yang dibahas rame-rame. “The wisdom om crowd; pesan yang masuk dibalas dengan pesan lain, kalau perlu ditumpuk berton-ton dengan pesan baru, tapi jangan dihapus” tulisnya dalam sebuah kolom di harian ibukota. Maka, lanjut Amalia, penghapusan thread dan komen, apalagi yang berkaitan dengan isu bakal capres, jelas menurunkan simpati para Kaskuser. Kaskuser pun menagih janji brand.

Blunder strategi komunikasi Gita dan timnya ternyata tidak berhenti pada kerumunan di Kaskus. Beberapa penghuni Facebook mengeluh karena merasa ‘terperdaya’ waktu meng-klik judul berita tentang Jokowi, misalnya, tautan portal tersebut ternyata tetap berhubungan dengan seorang Gita Wirjawan. Akibatnya, mereka mengaku kapok meng-klik timeline itu lagi.

Kontroversi tentang komunikasi Gita ternyata juga tidak berhenti pada laman media sosial. baliho jogja Iklannya di televisi yang sangat hectic saat event Konvensi Demokrat juga menuai banyak kritik, bahkan ada yang menilai contentnya terkesan sangat pencitran. Polemik ini bertambah gencar dengan model komunikasi yang tidak jelas dalam memisahkan antara jabatannya sebagai Memperindag dengan sebagai pribadi yang nyapres. Iklan Kampanye “Cinta Produk Indonesia” yang menampilkan potret Gita sebagai Memperindag, misalnya, dikritik karena berpotensi mengalami benturan kepentingan dengan inisiatif dirinya ketika mengikuti konvensi Partai Demokrat.

Secara durasi, agresifitas iklan Gita juga menjadi blunder tersendiri karena dianggap over expose. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mengaku sempat menyoroti iklan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan terkait Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2014. Iklan yang didominasi warna biru itu bertuliskan, “Gita 2014” dan tagline “Berani, lebih Baik.” Iklan itu juga menuliskan alamat laman http://www.gitawirjawan.com.

Kesan over expose itu dimanfaatkan oleh politisi PAN M.Hatta Taliwang dengan menulis opini di situs Indoleader yang sudah dihapus, namun masih bisa dibaca di rimanews.com. Ia menulis kesannya saat menemukan kursi-kursi Kereta Api penuh dengan iklan sang Menteri. “Saya tersentak karena seluruh ruang gerbong KA itu seakan miliknya mutlak. Wajahnya dominan dengan kalimat promosi : Pakai Produk Dalam Negeri Mulai Dari kita”, tulisnya.bangku kereta

Kalimat promosi itu, menurutnya, tidak penting. Yang justru menarik perhatiannya adalah kepentingan Gita Wiryawan yang terkesan tancap gas dan agressif “menampang ria” di pelbagai sudut negeri. “Entah berapa dana yg telah dihamburkan GW untuk mempromosi dirinya. Mungkin dia mencoba menempuh rute yg pernah dijalani SBY utk meraih kekuasaan politik, bermodal PENCITRAAN,” tulisnya tajam.

Menurutnya,  pemimpin yang diharapkan Indonesia di masa depan adalah yang jujur. Gelar dan pangkat, serta tampang –seperti yang menempel pada profil Gita, menurutnya tidak penting karena rakyat justru sedang gandrung pada pemimpin sederhana, yang pro rakyat, pronasionalisme.  “Rakyat sudah muak dg pemimpin munafik, korupsi dan egosentris. Itulah cara orang Indonesia melawan. Diam tapi mendasar. Perlawanan kultural.”

Gita, tulisnya lagi,  sedang mendayung ke arah berlawanan dan sepertinya kurang paham dengan lingkungan politik yang mengitarinya. Ditengah kemuakan rakyat terhadap membanjirnya barang barang impor ( sepanjang 2011, Indonesia telah mengimpor 3 juta ton beras, 2,8 juta ton jagung, 1,8 juta ton kedelai, 480 ribu ekor sapi, 3,8 juta liter susu, 150 ribu ton beras ketan dll), dia memandang GITA seperti tidak merasakan itu sebagai beban politik.

Kendati strategis dan krusial, posisi Gita sebagai Menteri Perdagangan memang merupakan sasaran empuk untuk disorot dari setiap sudut. Sebagai pemimpin departemen yang menentukan besaran ekspor impor yang berpengaruh terhadap harga barang di pasar, nama Gita selalu disebut setiap ada kenaikan harga. gita sidak sapiHal ini terbukti dari derasnya kritikan saat terjadi gejolak harga bawang putih, kedelai, juga daging sapi, bahkan jengkol beberapa waktu lalu. sidak kedelai Bukan hanya dari masyarakat umum, kritikan juga berhamburan dari kalangan key opinion leader  seperti para pengamat ekonomi dan politik, dan tentu saja dari para ‘musuh politik’-nya.

“Mengendalikan harga pangan saja gak bisa kok pengen jadi presiden ……” ini komentar rakyat jelata bernama Syeh Barack Pico untuk sebuah status dalam akun “Menimbang Gita Wirjawan” di Facebook.  Sepertinya, memang di sinilah tantangan terbesar dalam strategi komunikasi Gita, karena menjadi pertanyaan mayoritas rakyat Indonesia yang sudah jenuh dengan instabilitas harga-harga pangan. Jawaban Gita, akan menentukan masa depan karir politiknya..

                                        

Foto-foto : Internet

 

 

3 thoughts on “Blunder Zigzag Komunikasi Gita Wirjawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s