Sebuah Manajemen untuk Klub Perawat Merek Warisan

museum_overview_fallback_1000x340Di dalam area Mercedes-Benz Museum Mercedesstr. 100 70372 Stuttgart,  Jerman yang begitu tersohor,  Manajemen pabrikan Mercy menyediakan sebuah ruangan khusus untuk Mercedes-Benz Classic Club Management. Sesuai namanya, divisi tersebut dimaksudkan untuk ‘merawat’ heritage brand Mercedes-Benz dengan cara mengakomodir kegiatan klub-klub penggemar mobil-mobil klasik keluaran Mercedes-Benz. Di seluruh dunia, klub penggemar ini jumlahnya sekitar 80-an dengan anggota lebih dari 90.000 orang.

“Para anggota klub tidak terpisahkan dari brand  kendaraan berlogo bintang tiga sudut ini. Mereka adalah duta kami untuk melestarikan kekayaan warisan otomotif dari merek Mercedes-Benz, sambil membawa sejarah hidup dengan berbagai presentasi publik melalui mobil klasik yang mereka miliki,” demikian paparan menyentuh dari manajemen yang menggambarkan penghargaan terhadap para kolektor/komunitas penggemar mobil-mobil klasik Mercy sebagaimana kami kutip dari situsnya. Jelaslah, melalui pernyataan tersebut manajemen mengakui para kolektor/anggota klub merupakan bagian dari komponen PR yang potensial untuk menyebarkan ‘marwah’ merek Mercy ke seluruh dunia dan merawat keaslian koleksi kesayangan mereka sesuai profil awal sejarahnya.

Untuk memperkuat ikatan antara klub-klub dengan merek mobil tertua di dunia tersebut (lahir tahun 1884), manajemen mengoordinir berbagai kegiatan. Setiap bulan Oktober, misalnya, mereka mengadakan President Meeting yang dihadiri semua perwakilan klub di seluruh dunia.  Secara aktif mereka juga mendukung peran para anggota klub sebagai duta, pengganda, dan pelanggan, sebagai bagian dari perlindungan aset budaya otomotif dari produsen motor tertua di dunia itu.  mercedes-benz_museum_6

Maka jika membuka website mereka, anda akan mendapatkan informasi yang jelas mengenai apa yang dikerjakan manajemen,  mobil-mobil vintage dan klasik –yang sudah pasti dicintai para anggota klub,  forum diskusi tentang teknologi bahkan juga pengaturan kunjungan dan acara untuk klub. “Jadi mengapa tidak mengirimkan email atau menelepon kami? Kami harap anda bersenang-senang menjelajah website, dan mengendarai mobil vintage anda,” undang mereka simpatik.

Membawahi 64 klub dari berbagai varian Mercy dan region, Mercedes-Benz Club Indonesia (MBIna) menjadi federasi komunitas penggemar mobil Mercy terbesar di dunia. Federasi ini terbentuk pada tahun 2004 atas inisiatif Bambang Hariyadi, Tubagus Syamsul Hidayat,  Ridwan Pohan & Dharma Adsasmuda yang mewakili Mercedes-Benz Tiger Club Indonesia  (MTC) & Mercedes-Benz Classic Club Indonesia (MCCI).

“Pada event president meeting di bulan Oktober, perwakilan setiap negara memresentasikan uniqueness masing-masing. Dulu Indonesia memang dipandang sebelah mata sebagai negara di dunia ketiga, namun pada tahun 2008 mereka mengakui MBIna merupakan komunitas dengan member paling banyak,” papar Raditya Girindra Wardhana, Ketua Umum MBIna.

Bahkan dari sejarahnya, Mercedes seharusnya memang tidak mengabaikan posisi Indonesia. Tahukah anda, 8 tahun setelah Karl Benz (pendiri Mercedes-Benz) mulai memproduksi mobil pertamanya di dunia, seorang raja Jawa telah terdaftar sebagai salah satu pembeli awal. Seperti pernah dikisahkan Menpora KRMT Roy Suryo, Sri Sunan Pakubuwono dari Solo tercatat sebagai pemilik mobil pertama di Indonesia ketika tahun 1894  membeli Benz Pheaton asal Jerman seharga 10 ribu gulden.  Mercedes-Benz-Museum-StuttgartPadahal asal tahu saja, Ratu Juliana di Den Haaq baru membeli mobil itu dua tahun kemudian. “Masuknya mobil pertama ke Surakarta pada 1894, membuat Indonesia berada dua tahun di depan sang penjajah Belanda, yang baru menerima mobil pertamanya di Den Haag pada 1896,” kata Roy.

Untuk mendapatkan mobil bermerek Benz (sekarang Mercedes Benz)  yang sesuai dengan pesanannya, sang raja harus indent setahun sebelum barang terkirim ke tanah Jawa. Mobil tersebut bermesin 1 silinder, dengan bahan bakar 2,0 liter, bertenaga 5 Horse Power (HP) dan menggunakan roda yang terbuat dari kayu dan ban mati (ban tanpa udara), serta dapat memuat delapan orang.  Roy menceritakan, untuk membeli mobil tersebut, Pakubuwono X menggunakan jasa John.C.Potter, seorang penjual mobil alias sales pertama di Indonesia. Potter-lah yang mendapat kepercayaan untuk mengurusi pengirimannya dari Eropa. mercedes-benz_museum_2

Mobil Benz Phaeton milik Paku Buwono X terakhir terlihat di muka umum pada 1924, sewaktu akan dikapalkan ke Belanda melalui pelabuhan Semarang untuk diikutsertakan dalam pameran mobil RAI. Namun setelah pameran –karena Belanda kalah perang dari Jepang dan kemudian Indonesia Merdeka– keberadaan mobil tersebut seakan “terlupakan”. Hampir 90 tahun kemudian baru tercium keberadaan mobil bersejarah itu di sebuah rumah pribadi yang akhirnya dijadikan museum di Den Haag. Seperti dikatakan Raditya, saat ini pemerintah tengah berusaha memulangkan mobil bersejarah tersebut ke Indonesia melalui Duta Besar RI untuk Belanda.

2 thoughts on “Sebuah Manajemen untuk Klub Perawat Merek Warisan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: