Mercedes Benz Tiger Club

Bulan Januari ini, Walikota Banda Aceh menunggu kedatangan rombongan touring Mercedes-Benz Tiger Club (MTC) dalam acara tahunan komunitas. Menurut rencana, klub MTC akan mengawali journey dari Bukit Tinggi menuju Kilometer Nol di Titik Ba’u Sabang, ibukota Pulau Weh yang berada di ujung barat negara kepulauan Indonesia. Tentu saja perjalanan tersebut akan melintasi  Kodya Banda Aceh serta Kabupaten Aceh Utara. Mercedes-Benz_Tiger_Club_Indonesia_01

 

Bukan hanya Walikota Banda Aceh yang sudah bersiap menyambut kedatangan MTC, Bupati Aceh Utara dan Walilkota Sabang juga siap dengan rundown acara yang menyenangkan bagi para peserta touring. Bukan sebuah touring biasa karena ketiga Pemda sudah siap memfasilitasi muhibah mereka, sekaligus menjadikan event komunitas tersebut sebagai sarana destination branding wilayah itu.

 

“Yang jelas pak Walikota (Banda Aceh) ingin menitipkan pesan bahwa Aceh aman dan memiliki banyak potensi wisata semacam diving dan keindahan alam yang layak dikunjungi,” tutur Rudy Rozaldi, Ketua Umum MTC periode ke-7 yang baru saja dipilih. Dua pemimpin daerah yang lain (Sabang dan Aceh Utara) juga menitipkan misi serupa  yang berhubungan dengan pengembangan wisata setempat.

 

Mercedes-Benz_Tiger_Club_Indonesia_02Pihak komunitas sendiri menegaskan bahwa mereka juga tidak ingin menjadi wisatawan ‘cuma-cuma’. Rudy menjelaskan bahwa komunitas mereka memiliki kebiasaan merangkai event touring dengan aktifitas bakti sosial di daerah sasaran. Aktifitas  seperti itu juga mereka lakukan enam bulan selepas bencana tsunami Padang di Kabupaten Pariaman beberapa tahun silam.

  

“Ini bukan touring biasa  karena kami  bangga akan mengkhatamkan pulau Sumatera,” Ade Rahardjo, seorang fotografer profesional yang aktif di komunitas MTC, mengembalikan pembicaraan. Nada bicaranya terkesan bercanda namun sebenarnya serius kalau mengukur jarak yang akan mereka tempuh. Dia memilih kata ‘mengkhatamkan’ karena touring yang mereka rencanakan kali ini merupakan kelanjutan  journey sepanjang lintas Sumatera yang sudah mereka rintis sejak dua tahun silam. Pada tahun 2011, belasan mobil Mercedes-Benz Tiger W123 yang anggun berhasil menyelesaikan jarak sekitar 3.000 kilometer untuk rute Jakarta – Bukittinggi – Jakarta.  

 

MTC memiliki agenda touring minimal empat kali dalam satu tahun. Empat perjalanan itu bisa dikombinasikan antara touring jarak jauh (di atas 1.000 kilometer) atau jarak dekat. Touring jarak dekat biasanya dilakukan dalam rangkaian family gathering. “Touring selalu menjadi agenda yang kami tunggu-tunggu,” ujar Rudy lagi. MTC_Indonesia_09Maklum saja, itulah momen perjalanan yang lumayan panjang untuk memamerkan ketangguhan mesin di balik keanggunan body mobil klasik buatan Jerman tersebut. “Hari-hari kan nggak bakalan kita pakai. Paling dua minggu sekali untuk ngumpul sama teman-teman club di sekitar Jakarta saja,” tambahnya. 

 

Berdiri 12 Maret 14 tahun silam, MTC menjadi klub Mercedes-Benz di Indonesia yang cukup beruntung karena memiliki hubungan langsung dengan pabrikannya di Stuttgart GmbH (Jerman). Keberuntungan itu berhubungan dengan keberadaan mereka sebagai komunitas varian Mercedes-Benz yang paling awal berdiri di Indonesia. Sebelumnya ada juga Mercedes-Benz Classic Club Indonesia (MCCI) yang juga sudah mendapat pengakuan serupa. Namun ketika Mercedes-Benz Jeep Indonesia (MJI) mengajukan pendaftaran serupa, pabrikan di Stuttgart akhirnya minta agar penggemar Mercedes di Indonesia membentuk federasi untuk membawahi semua klub penggemar Mercedes-Benz yang ada di Nusantara. Sebagai catatan, saat ini ada 62 klub penggemar Mercedes-Benz di seluruh Indonesia, baik yang terbentu berdasarkan wilayah (region) maupun berdasarkan  tipe Mercy koleksinya. 

 

Proses pembentukan MTC sendiri dirintis oleh Denny Agust Putranto dan Fernando Reza di sebuah bengkel di bilangan Patimura – Kebayoran Baru pada tahun 1998. Bersama beberapa  orang penggemar Mercedes-Benz tipe W123 lainnya, mereka sering berkumpul di areal Parkir Timur Senayan—tepatnya di dekat bundaran air mancur patung panah yang diapit lapangan baseball dan Istora  Senayan.  Komunitas otomotif ini kemudian memilih nama W123 – Jakarta sebagai call sign.  Mereka membina hubungan baik dengan dengan klub W123 Der Familie Wagen yang sudah lebih dahulu lahir di Bandung, melalui beberapa aktifitas sosial bersama. mbw123bdg-camp-banyak-tiger

 

Hubungan baik kedua komunitas inilah yang menjadi embrio terbentuknya sebuah organisasi yang  lebih teratur dengan AD/ART yang jelas, setelah 10 orang di antara mereka berkomitmen untuk membentuk klub dengan nama Mercedes-Benz Tiger Club (MTC) dan sepakat untuk memilih tanggal 12 Maret 1999 (= sesuai dengan filosofi kode tipe kendaraan 123) sebagai hari lahir. Di tahun yang sama pula, Musyawarah Nasional MTC pertama kali diadakan di Hotel Atlet Century Senayan dan berhasil memilih Iwan Diah sebagai Ketua Umum periode 1999-2000.

 

 

Heritage Brand

Member MTC beragam, mulai dari kalangan mahasiswa sampai sampai beberapa orang yang berumur di atas 60 tahun. Untuk wilayah Jakarta, sampai naskah ini ditulis,  jumlah anggotanya ada 295 orang, sementara untuk seluruh Indonesia terdaftar sekitar 600-an member yang tersebar di 7 chapter MTC. Jakarta, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Malang, Surabaya, dan Medan.  Setiap chapter memiliki AD/ART sendiri, namun setiap bulan mereka wajib membuat laporan untuk MTC Pusat mengenai penambahan anggota dan kendaraan, serta  kegiatan yang dilakukan.   

 

Salah satu member istimewa adalah Menteri Pemuda dan Olahraga KRMT Roy Suryo yang terdaftar awal di MTC Chapter Yogyakarta. Selain hoby memelihara kucing, seperti pernah diceritakan mantan anggota DPRRI dari fraksi Demokrat ini kepada MIX, ia memang memiliki beberapa koleksi Tiger W123 yang selalu ditimang-timang. Roy Suryo, ungkap Rudy, termasuk ‘rajin’ mendukung  kegiatan MTC minimal secara spirit.  Jika  diundang dalam event istimewa di MTC ia juga selalu datang lengkap dengan iring-iringan voorijder yang meriah. mercedes-benz-tiger-200-tahun-1977

 

Yang unik, kebanyakan member MTC sudah memiliki preferensi brand Mercy Tiger yang turun temurun masa kanak-kanak.  Ikatan emosional Rudy misalnya, tumbuh bersamaan dengan umur karena orang tuanya dulu memiliki sebuah W123 yang selalu mengantar keluarga mereka ke mana-mana.

 

Cinta yang begitu dalam membuat mereka menjaga koleksinya dengan hati-hati layaknya anak kesayangan. Rata-rata member MTC hanya mengeluarkan W123 milik mereka pada akhir pekan ketika lalu lintas lengang, atau ketika ada janji bertemu dengan komunitas.

 

Layaknya kelakuan para kolektor, kadar kecintaan anggota MTC terhadap W123 miliknya kadang terlihat kurang masuk akal bagi orang biasa. Passion mereka terhadap W123 begitu kuat, hingga masing-masing member paham koleksi member yang lain. “Kalau ada 123 melintas di jalanan, kami pasti akan saling lirik, apalagi kalau sebelumnya belum dikenal. Mobil seperti ini kan sudah jarang,” tutur Ade. Di jalanan pun, kalau mereka melihat ada sebuah Tiger W123 dengan stikerl MTC sedang berhenti lantaran terlihat menghadapi sebuah persoalan, mereka pasti akan berhenti untuk menanyakan masalahnya.

 

Emotional bonding para kolektor W123 juga  tidak mengenal batas wilayah. Ade menceritakan, mobilnya pernah bermasalah di wilayah Cirebon dalam perjalanan menuju Semarang. Melalui database komunitas, Ade mencari kontak member MTC chapter Cirebon yang secara spontan memberikan rekomendasi sebuah bengkel terpercaya di wilayah itu. Ketika mobil mulai dibongkar, orang yang ditelpon tadi muncul  dan memberi jaminan kepada bengkel kepercayaannya bahwa mobil Ade bisa ditinggal sementara dikerjakan.  TigerLongPernah juga dalam perjalanan ke Kuningan, alternator W123 Rudy jebol dan secara ikhlas seorang member yang berdomisili di sana meminjamkan sparepart miliknya agar bisa berjalan sementara sebelum masuk ke bengkel. Padahal mereka belum saling kenal sebelumnya.  “Klub Mercy banyak. Tapi brotherhood seperti ini hanya saya temukan di MTC. Dan ini sudah  teruji 14 tahun,” ujarnya tanpa terkesan jumawa.

 

Pemahaman semacam itulah yang membuat bonding di antara member MTC terjalin erat dan memberikan perasaan nyaman sehingga kadang-kadang mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama klub ketimbang keluarga. “Istri saya pernah mengeluh ; kayanya waktu  buat gua makin dikit, ya. Kamu lebih banyak di klub daripada buat keluarga…hahaha,” tutur Rudy dengan tawa berderai.

 

Keluhan seperti itu ternyata juga dilontarkan keluarga member yang lain hingga akhirnya para istri malah bersepakat untuk berkumpul di antara mereka sendiri membentuk sebuah arisan atau pengajian bersama. Dengan demikian, keeratan para aktifis MTC akhirnya menular antar keluarga. “Mungkin mereka pikir daripada suami gua nggak jelas kemana, mendingan ngumpul di sini,” tambahnya sekali lagi sambil terkekeh.

 

Apa yang dilakukan para MTC-ers ketika berkumpul?MTC_Indonesia_01 Sebenarnya tidak jauh-jauh dari omongan mengenai product knowledge mobil tua itu dan seputar program yang mereka rencanakan. Interaksi tersebut masih dilanjutkan dalam dunia digital melalui dua milis yang mereka buat. Milis tertutup member MTC biasanya diisi dengan diskusi program-program, sementara milis yang terbuka banyak berisi diskusi seputar tukar-menukar informasi produk dan spare part.

 

Hubungan member MTC nyaris tidak diikat secara finansial karena kas mereka juga tidak diisi oleh iuran bulanan yang hanya senilai Rp 15.000 setiap bulan. Namun Rudy kalau ada bencana atau rencana bakti sosial, Rudy membanggakan member-nya yang cepat tanggap bereaksi. Waktu kejadian tsunami Aceh sembilan tahun lalu misalnya, dalam kurun 8 jam sejak kejadian mereka berhasil mengumpulkan dana ratusan juta rupiah. 

Foto2 : internet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s