Market Place – Festival Hari Pasaran

Mereka menyebutnya pasar, walaupun menurut ukuran orang awam aktifitas jual beli itu lebih sering disebut sebagai bazaar. Kalau ramai mereka  bisa mengumpulkan 40 sampai 50 pedagang, namun jika skalanya kecil 15 pedagang pun sudah bisa jalan. Mengadopsi pola pasar tradisional, contact point dadakan ini tidak menetap (biasanya di lapangan terbuka) dan harinya juga tidak tetap.

fasilitas bazaar

Peserta kegiatan yang disebut  “Festival Hari Pasaran (FHP)” ini beragam.  Mulai dari pengusaha pakaian (penjual perlengkapan bayi sampai mukena anak-anak), pengusaha kuliner (penjual somay, kue kering, donat, minuman ringan dan lain-lain), pedagang pakaian muslim dan semacamnya. Bisa dibilang para peserta FHP ini kebanyakan adalah pengusaha kecil yang memiliki semangat tinggi untuk berwirausaha.

Menurut Zaim Saidi, Direktur Wakala Induk Nusantara (WIN) yang menjadi  inisiator dan koordinator Festival Hari  Pasaran,  sudah lebih dari 120 kali FHP diadakan di berbagai tempat sejak tahun 2009. Selain di Jabodetabek, mereka juga sering berkeliling di beberapa kota besar seperti Medan, Jogjakarta, Surabaya, Bandung, Cirebon dan lain-lain.

Berbeda dengan pasar pada umumnya di mana pedagang harus menyewa tempat, FHP dirancang sebagai contact point of sale gratis bagi pesertanya. Padahal untuk ikut bazaar sekecil apapun, pedagang  biasanya dipungut biaya sewa lapak sekitar Rp500 ribu.  Di FHP, WIN bahkan menyediakan fasilitas pendukung seperti meja display, tenda, lampu kalau dibutuhkan bagi peserta.

Yah.. FHP memang lebih condong sebagai proyek sosial untuk membantu wirausahawan kecil ketimbang aktifitas komersial.  Zaim mengaku aktifitas tersebut merupakan upaya untuk ‘menciptakan’ pasar dalam pengertian market place, tempat di mana secara fisik orang bisa keluar masuk untuk  melakukan aktifitas jual beli. “Koridornya seperti jaman Nabi (Muhammad SAW), di mana pasar itu seperti masjid. Terbuka untuk umum, tidak boleh disewakan dan tidak boleh dikuasai pribadi,” tegasnya.

FHPJakartaPola pasar yang selalu berpindah dan pada hari yang tidak tetap, menurut Zaim sebenarnya tidak beda dengan konsep pasar di waktu lampau yang bisa dikenali dari sejarah namanya.  Misalnya Pasar Senen, Pasar Minggu, Pasar Jum’at dan lain-lain. Juga pasar di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang namanya merujuk pada hari pasaran seperti Pasar Pon, Legi, Kliwon, Wage dan Pahing. “Makanya dulu juga ada tradisi karavan dan kabilah. Dan pola itu pulalah yang membuat ekonomi bergerak,  melalui pergerakan pedagangnya,” tambah Zaim.

Secara system Zaim yakin, akses langsung kepada pasar akan memangkas rantai tata niaga yang  karena panjangnya membuat harga mahal sampai di tangan konsumen. Padahal di sisi lain, kebanyakan produsen hanya menerima harga jual yang murah. Dan memang, peserta FHP kebanyakan adalah produsen kecil yang tidak memiliki akses  ke pasar modern. Konsep ini sekaligus diarahkan untuk membangun  jaringan bisnis diantara pesertanya, mulai dari produsen, grosir, pedagang (pengecer).

Ada satu misi penting di balik ketekunan Zaim dan kawan-kawan menyelenggarakan FHP : sosialisasi penggunaan dinar dan dirham sebagai alat tukar sehari-hari.  Dibandingkan  uang kertas, kedua mata uang itu dipandang memiliki sistem perlindungan (hedge) yang lebih kuat dan solid  karena memiliki nilai komoditi berdasarkan logam mulia yang dikandungnya.  Termasuk melindungi surutnya modal pedagang dari gerusan inflasi. Pedagang-pedagang yang ikut dalam  FHP itu akhirnya berhimpun dalam paguyuban Jawara (Jaringan Wirausahawan dan pengguna Dinar Dirham Nusantara).

Gerakan sosialisasi dinar dan dirham ini juga ditularkan kepada masyarakat umum dalam program komunitas Kampung Jawara.  Di lingkungan Tanah Baru, Depok, tempat kantor WIN berdomisili, ada sekitar  100 pedagang yang sudah bersedia menerima dinar dan dirham sebagai alat transaksi. Mulai dari  toko kelontong, minimarket, toko computer, warung nasi, warung pulsa, bahkan untuk membayar sekolah dan langganan Koran.transaksi-pembelian-dirham-dinar-di-baitul-mal-wat-tamil-_130702103634-752

Di  Cilincing, Jakarta Utara, ada sekitar 80-an warung yang menerima pembayaran dalam mata uang dirham. Penduduk di kampung nelayan itu sudah tidak aneh melakukan transaksi dengan mata uang dirham hasil edukasi yang dilakukan melalui pembagian zakat berbentuk dirham.Dinar_Dirham_Web Salah seorang pengurus WIN memperkirakan saat ini setidaknya telah beredar 4-5 ribu dirham (atau setara dengan Rp350 juta) yang berputar-putar hanya di kampung Jawara pra sejahtera tersebut.

Di luar itu, WIN juga berusaha membangun wilayah edukasinya ke basis-basis pasar tradisional. Beberapa pedagang di pasar Tebet dan ITC Fatmawati  ada yang mulai akrab dengan pembayaran dirham. Beberapa di antaranya bahkan non muslim dari etnis Tionghoa. Di Cirebon, Kasunanan menjadi lokomotif gerakan karena dari mereka sekaligus mengambil otoritas sebagai salah satu penerbit dirham/dinar, tak beda dengan kesultanan Ternate.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s