Komunitas Mari Nyanyi

Lagu untuk Anakanak Indonesia

(siapa mau berkontribusi?)

Jakarta di sudut utara. Heryani, Kepala Taman Kanak-Kanak (TK) di Kawasan Cilincing, cemas dengan perkembangan murid-murid di sekolahnya selama sepuluh tahun ke belakang. Anak didiknya tidak memiliki asupan lagu anak yang cukup, karena lagu-lagu yang bisa ia ajarkan adalah koleksi sangat lawas yang dikuasainya sejak masih kanak berpuluh tahun silam. “Padahal lagu ibaratnya ruh kedua bagi anak-anak,” bisiknya gelisah. Pikirannya semakin resah tatkala ingat bukan sekali dua ia memergoki murid-murid balitanya menyanyikan lagu dewasa dengan syair yang kurang senonoh.

Masih di Jakarta pada sisi selatan, Djito Kasilo seperti berjalan sendiri ketika mulai menjalankan gerakan “Mari Nyanyi”. logo print copyProfesional advertising yang berlatar pendidikan psikologi itu merasa prihatin dengan krisis lagu anak yang terjadi di Indonesia saat ini. Nyaris tidak muncul lagu baru, sehingga anak-anak terpaksa menyanyikan lagu-lagu dewasa yang membuat mereka “dipaksa matang” sebelum waktunya.

“Coba bayangkan, siapa yang tidak miris mendengar anak umur 3 tahun menyanyikan lagu Cinta Satu Malam?” ujarnya getas. Lagu anak terakhir yang dia ingat muncul satu dekade silam ketika Tasya menyanyikan “Anak Gembala”. Itupun hasil recycle lagu lawas ciptaan AT Mahmud. Secara lirik dan tema, banyak di antara lagu-lagu anak-anak yang sudah tidak relevan dengan zaman.

Kondisi semakin parah lantaran tidak ada lagi stasiun televisi dan radio yang menyediakan acara anak-anak. Tidak ada lagi tayangan televisi semacam “Trala Trilili”, “Cilukba” atau “Kring Kring Olala” yang populer di era tahun 90-an. Lagu anak sama sekali tidak punya wadah untuk tampil di hadapan publik.

Maka tanpa banyak bicara, Djito yang punya cukup banyak pengalaman sebagai komposer di beberapa drama operet televisi era tahun 1990-an, menciptakan lagu-lagu ber-cord sederhana, easy listening, dengan lirik mendidik yang cocok untuk kebutuhan anak-anak. Satu kamar sempit di apartemen kediamannya sengaja dirombak menjadi sebuah studio rekaman bersahaja. di studiomini

“Setiap hari saya buat satu lagu anak lalu saya unggah ke situs Marinyanyi.com agar orang bebas mengunduhnya. Gratis..tiss,” ujarnya kepada MIX sembari mengajak masuk ke ruangan serupa kubus berukuran sekitar 1,5X1,5 meter persegi yang ada di dalam kamar. Kubus itu dibatasi partisi berlapis karpet abu-abu yang berfungsi sebagai peredam suara. Sebuah mic kuno terdiam beku di atas meja yang memenuhi setengah kubus itu, terdesak sebuah recorder tua dan peralatan mixing sederhana.

Di Marinyanyi.com, pengunjung bebas mengunduh lagu-lagu anak ciptaan Djito. “Mereka bahkan bisa memesan lagu sesuai tema yang diinginkan,” lanjutnya meyakinkan. Sebagai orang periklanan, Djito mengatur secara cermat agar ‘produk’ ciptaannya pas pada positioning sebagai tools of education segmen anak-anak Indonesia. Karena itu ia menciptakan tiga karakter bernama “Bubu” si bentuk bulat berwarna biru, “Sisi” si segitiga merah muda, dan “Koko” sang bentuk kotak berwarna kuning. Para bentuk ini mendapat tugas menyanyikan lagu-lagu yang diciptakan Djito. Harapannya, sambil mengunduh lagu di dalam situs, orang tua bisa memanfaatkan ketiga karakter tersebut untuk mengajarkan bentuk-bentuk dasar geometrik dan warna kepada anak-anaknya.ayahdjito Untuk dirinya sendiri, Djito menciptakan brand “Ayah Djito” yang berperan sebagai ayah Busiko (Bubu, Sisi dan Koko).

Facebook untuk Terobosan Distribusi
Ada kebutuhan, ada produk (dengan proposisi yang kuat), harga murah (bahkan gratis), ada place, apakah otomatis terjadi transaksi? Ternyata tidak. Lagu anak “jualan” Ayah Djito tidak langsung “laku”. Website marinyanyi.com tetap sepi pengunjung. websitePadahal selain bebas mengunduh lagu tanpa biaya, pengunjung juga ditawari untuk request lagu sesuai tema yang mereka inginkan.

Djito pun berusaha mencari terobosan distribusi. Ia kemudian mengintegrasikan website-nya dengan media sosial. Maka sekarang jika berkunjung ke akun Facebook Djito Kasilo, Anda akan menemukan gambar sampul berwarna biru dengan tulisan “Jangan biarkan anak-anak matang dini karena pengaruh lagu dewasa. Unduh gratis lagu anak di http://www.marinyanyi.com.” Untuk gambar profilnya, Djito masih memasang foto diri agar sosoknya makin familiar dan mudah dikenali.

Lambat laun akun Djito Kasilo makin dikenal orang. Banyak yang menambahkan Djito dalam friendlist-nya. Namun jangan kaget, sebagian besar di antara mereka bukan teman-temannya dari kalangan advertising dan industri kreatif. Kebanyakan adalah guru TK semacam Heryani yang menjadi pembuka kisah ini. Lainnya datang dari kalangan orang tua, ibu-ibu, dan bapak-bapak muda yang masih memiliki anak kecil.

Di Facebook Djito merasa lebih leluasa bergerak dibandingkan Website. Sifat interaktif social media yang massive membuat ribuan guru TK dari seluruh Indonesia bisa berdialog dengan jelas tentang tema apa yang mereka inginkan. “Soalnya kadang-kadang request mereka tidak jelas. Lewat Facebook lebih enak dialognya,” tambah Djito lagi.

Tidak sengaja, akun Djito akhirnya menjadi tempat berkumpul para guru TK di seluruh Indonesia. marinyanyi FBDjito mengaku tidak bermaksud mengistimewakan mereka ketimbang teman lain di dalam friendlist-nya. Namun kenyataannya, segmen inilah yang paling bersentuhan dan memiliki kepentingan dengan anak-anak yang menjadi target gerakan Mari Nyanyi-nya. Dari interaksi itu Djito mendapatkan pengetahuan bahwa saat bernyanyi—yang artinya saat mereka dalam keadaan bergembira, anak-anak akan berada pada puncak kecerdasan. “Itu artinya kita bisa memasukkan beragam hal positif seperti etika dan pendidikan lingkungan pada saat yang tepat,” tambahnya. Dari para guru TK pula Djito mendapatkan banyak insight untuk menciptakan lagu-lagu baru yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak.

Bahkan untuk lebih memahami dunia ajar-mengajar anak TK, Djito menyempatkan diri ikut kursus pendidikan guru TK. Dari sana ia mendapatkan pengetahuan penting tentang kurikulum pengajaran yang menyangkut penjadwalan tema. Dari timeline itulah Djito kemudian mencoba menyusun semacam kurikulum tema lagu dalam Website-nya. Bulan ini misalnya, dipersiapkan lagu bertema diri sendiri (yang kemudian bisa diterjemahkan dalam lagu tentang panca indra). Dua minggu kemudian marinyanyi.com muncul dengan tema lingkungan di mana Ayah Djito mengeluarkan lagu tentang ayah-ibu, pohon, rumah dan semacamnya.

Agar lebih valid dalam menggali insight, setiap hari Jum’at Djito sengaja mengalokasikan Facebook-nya untuk berdialog dan menampung usulan-usulan tema lagu untuk minggu depan, dari teman-teman jagad mayanya. “Pernah ada yang menyangsikan seberapa panjang nafas saya dalam merilis (tema) lagu. Sebentar juga paling sudah kering (insipirasi), begitu katanya. Saya diamkan saja karena nyatanya setiap minggu saya selalu mendapatkan bejibun ide dari Facebook,” ujarnya tersenyum tipis.

Akhir 2011, Djito bertemu dengan beberapa mahasiswa advertising yang pernah menjadi muridnya. Omong punya omong, mereka rupanya punya keprihatinan yang sama perihal krisis lagu anak di Indonesia. Anak-anak muda yang berdomisili di Jogja itu kemudian sepakat membantu gerakan Mari Nyanyi dengan peran sebagai penyalur (volunteer) lagu ciptaan Ayah Djito sekaligus membentuk sebuah komunitas.

talkshow Seno M Harjo, DK, Tere, Kak Nunuk21 Desember 2011, portal http://www.marinyanyi.com secara resmi diluncurkan bersamaan dengan penasbihan komunitasnya. Ketika relaunched hari itu, web http://www.marinyanyi.com yang didesain warna-warni sesuai dunia anak, sudah memajang 58 lagu anak karya yang semuanya karya Ayah Djito.

Komunitas Mari Nyanyi memiliki misi untuk mengampanyekan pentingnya lagu anak melalui beragam kegiatan. Sebanyak 11 orang volunteer yang berdomisili di Jogja akhirnya mengristalkan diri mereka sebagai pengurus dengan Ketua Citra Ivana, dan Community Communication Putri Respati. Secara teknis, organisasi ini dibagi dalam beberapa kelompok kerja. Ada Tim Digital yang tugasnya mengelola social media, Website, lagu, komik, animasi dan lainnya. Kemudian Tim Kreatif yang bertugas mengemas acara-acara pentas, publikasi, mendesain, dan konten acara. Dan tim berikutnya, Tim Community Comunication, Tim Volunteer, dan Tim Kesekretariatan Umum.

Pada praktiknya, Ayah Djito dan Komunitas Mari Nyanyi kemudian melakukan kegiatan secara terpisah. “Ayah Djito membuat lagu berdasarkan masukan dari para orang tua dan guru TK dan kemudian diproduksi di Jakarta. Sedangkan kami di Yogya melakukan aktivitas-aktivitas pendukung lain seperti melaksanakan road show, seminar dan workshop, bagi-bagi CD ke TK dan PAUD, serta menyelenggarakan liburan musikal,” ujar Citra dalam suatu wawancara.Fastrack 2

Secara aktif, komunitas Mari Nyanyi selalu mengomunikasikan bahwa lagu-lagu di situs marinyanyi.com bisa diunduh secara gratis dan bebas didistribusikan ke lingkungan sekitar. Mereka mengajak orangtua, guru, atau siapa saja untuk ikut bersama-sama membuat lagu anak dengan cara mengajukan request lagu bertema tertentu dan akan dibuatkan lagunya oleh Ayah Djito.

Kegiatan offline dibesut seimbang dengan kegiatan online. Berkat kerja tulus komunitas inilah Djito tidak keteteran merawat aktivitas online-nya di Facebook dan Twitter. Secara agresif, gerakan Mari Nyanyi bergerilya ke berbagai komunitas yang berkaitan dengan anak semacam grup ASI, bahkan juga menyusup ke grup yang sepintas tidak berkaitan dengan anak semacam grup memasak, grup bidan, dokter gigi dan lain-lain.

Berkat strategi tautan ini, satu lagu baru ciptaan Djito bisa mendapatkan ribuan respon “like” di Facebook, bahkan ada yang pernah mendapatkan hampir 6 juta secara akumulatif. Namun jumlah jempol di Facebook ternyata tidak linear dengan pengunjung Website, apalagi pengunduh lagu-nya. “Mungkin mereka like cuma karena baca liriknya di FB atau simpati dengan gerakan saya. Saya lihat banyak di antara mereka masuk ke Facebook lewat ponsel yang tidak selalu bisa mengakses Website,” Djito mencoba menganalisis.

Karena masalah seperti ini, komunitas kemudian berinisiatif melakukan “Gerakan Berbagi CD Nusantara” yang waktunya dipaskan dengan Hari Anak Nasional 23 Juli. Melalui berbagai media sosial, Djito dan kawan-kawan mudanya aktif mengajak orang untuk membeli CD kosong, diisi dengan lagu-lagu yang ada di dalam situs marinyanyi.com untuk dibagikan secara gratis kepada siapa saja. Mulai dari orang tua, guru sekolah dan anak-anak. Di sekolah, di jalanan, di panti asuhan, atau di mana saja tempat berkumpul anak-anak.

Responnya menggembirakan. Dimulai dari member komunitas I love Aceh, kesediaan berdonasi kemudian menular pada jaringan komunitas lainnya semisal Save Street Child, Indonesia Berkebun, Akademi Berbagi Semarang, Buku Untuk Papua, Buku untuk Papua Jogja dan Akademi Berbagi Jogja. Selain itu banyak juga individu yang turut serta menyediakan waktu dan tenaganya untuk berdonasi.

di lapangan

Di Jogja, Putri Respati dan sukarelawan lainnya juga kerap mengadakan beragam kegiatan yang sifatnya turun langsung menyosialisasikan lagu anak. “Seminggu dua kali kami datang ke TK, mengajak adik-adik di sana bernyanyi lagu anak yang ada di situs Mari Nyanyi. Saat penerimaan raport kami membuat konser di sekolah agar orang tua menyadari lagu anak penting bagi perkembangan anak-anak mereka,” jelasnya.

Komunitas Mari Nyanyi juga membuka peluang untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, baik perorangan maupun instansi, yang bersedia road show ke berbagai kota di seluruh Indonesia untuk bertemu dengan guru dan orang tua dalam rangka menyebarkan tools of education ini. Motivasinya antara lain muncul dari surat permintaan tema lagu dari seorang guru TK yang mengharukan semacam ini.

“Saya guru di desa Pelita Halmahera Selatan. Desa kami berada di daerah kepulauan yang masih pelosok dan sulit dalam hal informasi. Banyak murid saya yang malas sekolah. Mereka suka bolos dan pulang tanpa ijin hanya untuk berenang di pantai misalnya. Daya serap mereka akan materi pelajaran juga rendah. Selain itu, orangtua kurang mendorong anak untuk belajar di rumah maupun sekolah. Mungkin bisa dibuatkan lagu yang isinya memotivasi anak untuk rajin sekolah dan lagu-lagu yang berisikan materi pelajaran, misalnya rumus matematika, IPA, IPS, dan sebagainya agar anak-anak sekolah mudah mengingat dan memahami materi yang ada. Trimakasih……“

Seiring perjalanan, Djito semakin yakin kehadiran lagu anak penting bagi negeri ini. Ia merasa carut marutnya Indonesia tidak akan bisa diurai pada generasi saat ini. “Harapan itu ada pada anak-anak. Membuat mereka berbahagia dengan bernyanyi artinya mereka dimanusiakan. Jika sejak kecil mereka dimanusiakan kita punya harapan besar pada generasi setelah kita. Bukan tak mungkin perubahan besar dimulai dari mereka yang saat ini menyanyikan lagu anak,” ujarnya pelan.

marinyanyipesan

4 thoughts on “Komunitas Mari Nyanyi

    • Alhamdulillah, kabar baik.
      mbak Bintari masih di MIX Marketing khan ya?
      Saya masih teringat pertemuan kita dan teman-teman waktu gonjang-ganjing Multiply. Saat itu kita meeting di House of Rock-nya bung MartoArt🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s