Destination Branding

images

Sekali lagi, pariwisata terbukti tahan terhadap krisis global. Di tengah ketidakpastian perekonomian dunia, sektor industri pariwisata Indonesia mampu tumbuh 5,16%. Angka ini melampaui pertumbuhan pariwisata global yang hanya  sebesar 4%.

Awal Februari lalu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu memaparkan keberhasilan mereka dalam meningkatkan kualitas kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang telah memberikan dampat positif terhadap perolehan devisa pariwisata nasional.  Sepanjang 2012 lalu,  Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 8,04 juta orang. Dengan angka tersebut, negara memperoleh devisa pariwisata sekitar 9 miliar dolar AS. Kendati tipis, angka ini memperlihatkan adanya pertumbuhan positif. Tahun sebelumnya perlehan devisa yang masuk dari sektor pariwisata adalah sebesar 8,5 miliar dolar AS dengan jumlah kunjungan wisman sebesar 7,65 juta.

Data BPS dan Pusdatin Kemenparekraf juga menyebutkan, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia meningkat signifikan dalam tiga bulan terakhir di tahun 2012. Sepanjang  Oktober, November, dan Desember 2012, sektor ini rata-rata tumbuh di atas 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.Bitebrands - logo wonderful indonesia

Sedikit menjelaskan pemaparannya, Mari menyebutkan pertumbuhan positif yang telah mereka capai terjadi lantaran meningkatnya lama tinggal wisman serta jumlah pengeluaran mereka selama berwisata di Indonesia. Klaim Mari mengenai meningkatnya lama tinggal wisman di Indonesia agak berbeda dengan data statistik yang dikeluarkan BPS. Menurut Kepala BPS Suryamin, selama 2012 rata-rata lama tinggal wisman justru mengalami sedikit penurunan. Yakni dari 7,84 hari (2011) menjadi 7,7 hari (2012), atau terjadi penurunan 0,14 hari.  

Namun data BPS untuk rata-rata pengeluaran wisman per hari memang mempertegas klaim Mari. Selama tahun 2012, data Suryamin memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan dari 142,66 USD/hari (2011) menjadi 147,22 USD/hari, atau naik 3,17%. Tren yang sama juga terlihat pada rata-rata pengeluaran per kunjungan yang memperlihatkan peningkatan sebesar 1,39%. Yaitu dari 1.118,26 USD/kunjungan (2011) menjadi  1.133,81 USD/kunjungan (2012).

 

Karakter Wisatawan

Di atas kertas, angka-angka tersebut memang bisa dibaca sebagai sebuah potensi pendapatan yang menarik bagi pihak-pihak yang terlibat dalam industri pariwisata tanah air. Namun agar menjadi riil, pelaku industri pariwisata tentu harus memiliki customer insight yang sahih. Terutama dalam memahami karakter wisatawan yang ditarget.

 kartun

Cukup menarik membaca insight yang dimiliki maskapai Air Asia dalam melayani kebutuhan wisata dari berbagai negara. Dari pengalaman mereka selama 11 tahun, maskapai bujet itu memiliki catatan keunikan wisatawan Asia, dan juga dunia. Traveler Malaysia misalnya, akan bertanya fasilitas gratis yang bisa didapat ;  misalnya apakah juga termasuk diantar ke factory  outlet. Wisatawan Thailand yang kerap mengalami kesulitan bahasa, cenderung akan bertanya, adakah fasilitas local tour guide yang disediakan. Sementara turis Singapura selalu bertanya apakah di kamarnya ada fasilitas Wi-Fi atau tidak .

Wisatawan China yang jumlah kunjungannya ke Indonesia masuk peringkat empat besar –setelah wisatawan Australia, Jepang dan Eropa– sangat memperhatikan detail promo wisata; destinasi mana saja yang menjadi rute liburannya. “Kami pernah menerima komplain dari Chinese market yang merasa terganggu dengan banyaknya nyamuk di sebuah cottage yang mereka sewa,” ujar Stanley Mangindaan, Head of Marketing AisAsia Go Indonesia beberapa waktu lalu. Mereka juga suka pelesiran dengan berbelanja souvenir dan menikmati wisata kuliner.   Wisatawan Cina tetap menjadi target kunjungan wisatawan oleh Indonesia mengingat negara tersebut memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia dan saat ini perekonomiannya makin menggeliat. Sejauh ini  warga Cina sudah banyak yang melakukan perjalanan wisata ke luar negeri dan Indonesia masih menjadi tempat favorit mereka.


Berbeda dengan karakter-karakter tersebut,  wisatawan Indonesia preferensinya cenderung pada tempat wisata yang terjangkau dan memungkinkan untuk aktifitas belanja. Wisatawan Indonesia  ditengarai juga cenderung price minded alias sangat mempertimbangkan harga.  Keterjangkauan yang diharapkan selama liburan mencakup tarif penginapan, transportasi dan makan. Sejauh ini destinasi yang paling dicari wisatawan Indonesia adalah pantai dan wisata belanja.

Stanly mengaku terus terang, cukup sulit mengubah perilaku unik berwisata ini lantaran faktor budaya memainkan peran. Wisata petualang, misalnya, masih kalah peminat dibandingkan wisata belanja karena menurutnya, wisatawan Indonesia adalah tipe traveler yang nyaman. Mereka hanya akan mengarahkan destinasi liburannya bila memang telah mendapatkan cerita kesaksian dari wisatawan lain yang pernah mengunjungi destinasi tersebut. “Bukan tipe wisatawan risk taker. Kalau pilihan wisatanya murah, nyaman, dan makanan cocok, pasti dipilih wisatawan Indonesia,” ujarnya. pariwisata indonesia-1365135559

Karakter unik ini diakui oleh Reza Hariputra, seorang pelaku bisnis pariwisata petualangan (off road) yang sering membawa turis asing maupun lokal –dia lebih suka menyebut tamu/teman—ke lokasi-lokasi eksotis di pelosok. Menurut dia, tamu lokal cenderung lebih ‘ribet’ dibandingkan dengan teman-temannya dari luar negeri.

Berbeda dengan orang asing yang sangat menghargai eksotika alam sehingga bersedia menempuh cara apa saja untuk mencapai lokasi, tamu-tamu lokalnya cenderung menuntut berbagai kemudahan.   “Kalau saya tawarkan paket ke orang dalam negeri, mereka banyak syarat, nanya gimana caranya ke sana, nginepnya di tempat seperti apa, bukan di situ ada apa. Orang barat kalau denger di sana adalah emas, apapun caranya akan berusaha mendatanginya,” ujarnya terkekeh.

Komplain dari tamu-tamu lokalnya, masih kata Reza terjadi lantaran  apa yang dibayangkan semulai berbeda dengan kenyataan. Maklum saja, informasi awal yang didapatkan wisatawan lokal biasnaya berasal dari informasi mulut ke mulut. Hal ini berbeda dengan wisatawan asing yang sangat mengandalkan informasi internet.  Dengan karakter tersebut tidak heran jika customer-customer  kebanyakan customer lokalnya tidak balik lagi setelah ikut paket pertama. Sementara tamu-tamu asingnya justru mempertahankan interaksi dan selalu bertanya paket apa lagi yang dimiliki Reza di masa mendatang.

Bicara tentang potensi daerah wisata, potensi Indonesia sebenarnya sangat berlimpah ruah.  Survey Indonesia Tourism Award 2011 lalu terhadap 1.350 wisatawan Nusantara dan 150 wisatawan mancanegara menghasilan kota tujuan wisata terfavorite adalah Raja Ampat, Denpasar dan Bandung. Pantai Waisai Raja Ampat kembali masuk sebagai daerah tujuan wisata favorite bersama Tanah Lot dan Jatim Park.  Raja-Ampat-7

Di luar nama-nama yang disebut, potensi wisata di Indonesia sangat melimpah ruah. “Indonesia itu bukan Cuma Bali. Teman-teman saya yang sudah berkeliling ke mana-mana  menyebut wisata di seluruh dunia itu abis dengan 4 pulau di Indonesia. Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi. Belum lagi pulau-pulau kecil yang jumlahnya ribuan,” ujar Reza lagi.  Sepanjang pengalamannya ber-off- road Reza menemukan banyak tempat-tempat eksotis yang ternyata banyak dikunjungi turis asing namun luput dari turis lokal.

Masalahnya, mengapa daerah-daerah tersebut masih jarang dikenal target wisatawan? Pencapaian devisa wisata sebesar 9 miliar dolar tentu tidak sebanding dengan potensi wisata yang kita miliki. Dibandingkan Malaysia, misalnya, jumlah pelancong asing yang datang ke Indonesia kalah jauh. Tahun lalu  pengunjung yang datang ke Malaysia mencapai jumlah 23 juta wisatawan. Dari jumlah itu, 2,5 juta orang di antaranya merupakan warga negara Indonesia. Sementara itu, wisatawan asing yang ke Indonesia hanya tiga juta per tahun.

Para pelaku industri wisata  menyebut faktor-faktor yang menyenyebabkan kurangnya minat wisatawan asing ke Indonesia sangat ditentukan oleh minimnya pelayanan, kenyamanan, dan jaminan keamanan yang ada di Tanah Air.  Berbeda dengan negara-negara tetangga yang mampu menciptakan differensiasi di pasar wisata dunia, hampir semua destinasi wisata di Indonesia seperti Bali, Lombok, Batam, mencatat sejarah dengan kejadian dan perkembangan tanpa kontrol.

Muhammad Iqbal, seorang praktisi perhotelan dan pegiat  industri pariwisata melihat masalah ini juga sangat terkait dengan strategi destination branding. Malaysia, Thailand, Brunei dan India mengambil keuntungan besar dari kampanye pariwisata yang terintegrasi, sementara  Singapura dan Hongkong sendiri pernah bangkit dari berbagai dampak krisis ekonomi dan endemik flu burung. Dengan branding “Uniquely Singapore”, selama 2010 negeri singa  berhasil menjaring 9 juta wisatawan mancanegara (wisman). Sementara Malaysia sukses mendatangkan 24 juta turis asing per tahun hanya dengan “Trul Asia”-nya. Bandingkan juga dengan Thailand dengan mampu menarik  hampir 16 juta international tourist melalui tagline ”Amazing Thailand”. 

 ultimate ind

Sebaliknya, Indonesia masih tetap belum fokus dan tanpa strategi yang jelas. Coba saja, apakah anda langsung ingat apa tag line branding wisata Indonesia? Kekurangseriusan seperti inilah yang membuat strategi destination branding kita pun  menjadi tidak powerful. Menurut Iqbal, selama ini pihak swasta lebih berperan dalam memasarkan destinasi tanpa upaya membangun brand, tanpa strategi dan tanpa integrasi para pemangku kepentingan (stakeholders consolidation).

One thought on “Destination Branding

  1. The adrenaline online betting australia and exhilaration. If citizenries are static many casinos; and three golf classes, and keno. online casino This is where believe, online gambling publicising as good as the participant. just about 1, 000 machines, 800 on-line expansion slots 5 stagger rooms from Holiday Inn Express in Green Valley. The Point Casino online slots no download Hotel is also entirely above plank are grotesque sources of revenue.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s