marketing community – Indo Runners

Dengan pengelolaan yang professional,  komunitas ini berkembang layaknya sebuah brand dengan bargaining positioning yang kuat dan equitas terjaga.

ir-bundern HI

 

Komunitas : “Brand tidak peduli pada kita, loyalisnya. Mereka hanya mau memanfaatkan kita untuk bikin buzz ketika event. Malah kadang-kadang hanya dijadikan ajang jualan.”

Pemilik Brand : “Mentang-mentang membernya banyak, komunitas suka arogan. Maunya macam-macam.”

Dua sudut pandang  di atas kerap saya temui kala berbincang dengan komunitas maupun pemilik brand dalam proses penulisan rubric ini. Kedua belah pihak seakan berada pada kepentingan yang berlawanan sehingga hubungan menjadi tidak tulus. Padahal kenyataannya mereka saling membutuhkan.  

Namun kondisi seperti itu hampir tidak kami temui dalam hubungan antara komunitas Indo Runners dengan beberapa pemilik brand yang pernah menjalin kerjasama.   Pada umurnya yang ke-4 sekarang, komunitas ‘lari gaya’ ini tegak berlari dengan harga diri tinggi karena  pemilik brand pun bersedia menempatkan mereka pada positioning  terhormat.

Tentu saja hal itu bukan kebetulan. Berbeda dengan komunitas lain yang biasanya menggelinding berdasarkan passion membernya,  Indo Runners dikelola dengan serius layaknya sebuah brand. Maklum saja, di komunitas ini berkumpul beberapa aktifis branding, marketing, media, advertising dan komponen-komponen marcomm lainnya. Sebutlah nama Reza Puspo, pendirinya, adalah seorang praktisi media. Berkumpul juga di sana nama-nama seperti  Yomi Wardhana (praktisi advertising), pasangan  pasangan Yasha Chatab (konsultan branding dan PR) – Maylaffayza (violis) dan Aki Niaki, seorang olahragawan yang memiliki dedikasi tinggi.

Indo Runners awalnya hanyalah sebuah lomba virtual yang dibuat Reza Puspo di sebuah situs brand alat olah raga. Lomba ini ternyata menarik minat banyak orang untuk berpartisipasi hingga akhirnya terbentuk komunitas lari. Mulanya jumlah mereka tidak sampai 30 orang yang sebagian besar hampir tidak mengenal satu sama lain. Namun mereka memiliki satu kesamaan : tarhasut semangat  kebebasan berlari yang selalu ditiupkan Reza, yang selalu digembar-gemborkan jitu untuk membunuh kejenuhan kota. “Pada dasarnya kami selalu ingin menyebarkan virus lari seluas mungkin,” ujarnya berulang-ulang. Dengan tagline “Mari Lari” Reza dan kawan-kawan tak bosan mengajak audience untuk ikut dalam gerakan olah raga sehat yang murah dan tidak sukar dijalani. 

Tak beda dengan  gerakan sosial untuk menggalang opini masyarakat, Indo Runners berkembang semakin besar karena penggunaan jejaring sosial yang makin marak di Indonesia.  “Media sosial –terutama facebook-  sangat efektif untuk menyebarkan virus lari sebagai olah raga dan gaya hidup yang menyenangkan,” ujar Yasha suatu Jum’at sore di fX Mall . Maklum saja, di laman biru milik Mark Zukerberg itu mereka leluasa untuk ‘narsis habis’, memamerkan kostum-kostum atraktif – bahkan cenderung ekstrim—yang mereka pakai ketika beraktifitas lari.

Waktu Jakarta International 10K misalnya, mereka selalu sepakat ikut berlari dengan dengan warna tersendiri. Ada yang berkostum Mario Bross, memakai pangsi Betawi ala si Pitung, baju kimono, hingga berperan ala tokoh kartun Smurf  dan berbagai karakter lainnya. Dengan kostum yang unik seperti itu, sangat mudah bagi pemakainya untuk menarik perhatian peserta maupun penonton pada umumnya.  Tak jarang mereka mendapatkan ajakan foto bareng layaknya seorang selebriti. ir-kupu2 

Secara khusus Yasha mengamati sense of belonging para member terhadap Indo Runners  sangat berkaitan dengan simbul-simbul dan logo komunitas. Simbolisasi melalui  keunikan kostum itu, selain  membawa pesan bahwa lari merupakan olah raga yang menyenangkan, sekaligus juga  berperan sebagai tools branding yang efektif.

Message itu  menyebar sebagai viral karena mereka tidak pernah lupa mengunggah foto-foto mereka di media sosial dengan saling menandai satu sama lain. Tagging inilah yang banyak menarik minat teman-teman member untuk bergabung dalam Indo Runners.  Di sinilah media sosial menjadi sarana komunikasi yang  terbuka, menghubungkan banyak pihak secara menyenangkan. Dengan pola seperti itu,  member komunitas Indo Runners sekarang telah mencapai lebih dari 3.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia.

Yasha mengamati, conversation threading komunitas Indo Runners di media sosial  didominasi oleh aspek lifestyle dan sosial. “Itu yang terlihat  paling mencolok. Topik-topik  yang berkaitan dengan teknik lari, misalnya, hampir tidak mendapatkan respon.  Termasuk threading yang berisi testimony,” ujarnya.   Dari situ ia berani menyimpulkan bahwa hampir setiap member komunitas itu memiliki kesadaran untuk menyebarkan message gerakan yaitu lari sebagai sebuah gaya hidup.

Maylaffayza — istri Yasha, penyanyi dan pemain biola ternama yang juga produser music– ikut memainkan peran penting sebagai juru bicara komunitas. Ia banyak melakukan promosi mengenai Indo Runners kepada fans-nya secara online dan offline.

            Sesuai kebutuhan untuk selalu fashionable, kebanyakan yang bergabung di Indo Runners adalah adalah para eksekutif muda pada kisaran usia 25-40 tahun. “Rata-rata bukan first jobber. Mereka memiliki karakter open minded, dan punya passion  besar untuk bergabung dengan orang-orang baru,” tambah Yasha lagi.

Minat besar untuk bertemu dengan orang-orang baru membuat  membuat interaksi di kalangan member komunitas terjalin dalam soliditas tinggi. Maka jangan heran kalau mereka sempat  dua kali ‘mantu’ akibat  terjadinya hubungan ‘inbreeding’ antar  member yang dipertemukan dalam event lari.   Seorang member bahkan menuliskan kisah itu dalam sebuah buku berjudul “Dunia Asmara para pelari.”

ir-mantu

Indo Runners  memiliki agenda  lari setiap  hari minggu (Sunday Morning Run) dan Kamis malam (Thursday Night Run).  Aktifitas rutin ini selalu dimulai dari lobi fX Life Xnter Sudirman, yang akhirnya menjadi semacam markas dan meeting point komunitas.  Thursday Night Run dimulai pada pukul  19.30, sementara Sunday Morning diawali pukul 06.00 pagi.

Satu kali lari, mereka bisa menempuh jarak tiga sampai sembilan kilometer. Namun bagi yang merasa kurang, jarak itu bisa ditambah sesuai dengan kemampuan.   Jalur berlari sudah tetap, menyusuri Jalan Jenderal Sudirman, kawasan Gelora Bung Karno,  Jalan Asia Afrika, lalu kembali ke titik awal.

Kamis malam dianggap sebagai saat yang paling pas untuk lari bersama komunitas. Nyatanya, moment lari bersama pada hari itu selalu berhasil menghadirkan 40-60 peserta sekalipun orangnya silih berganti.  Peserta sebanyak ini niscaya sulit didapatkan jika mereka mengambil waktu Jumat malam, atau hari Sabtu, karena orang-orang pasti lebih suka berakhir pekan bersama keluarga.Selain pertimbangan  iklim yang lebih bersahabat, pemilihan waktu di malam hari juga dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa olah raga bisa dilakukan kapan saja.  Termasuk bagi mereka yang sulit bangun pagi di akhir pekan. 

ir-logoMereka aktif berperan  dalam lomba-lomba lari (5k, 10k, 21k, dan 42k) di Indonesia dan seputar Asia.  Selain itu  Indo Runners juga sering  mengadakan acara-acara unik dengan tema tertentu. Misalnya Kawin Lari, Christmas Run, New Year’s Run, Batik Run (dalam rangka hari Batik Indonesia pada 2 Oktober 2012 lalu).  Pada saat Batik Run, para anggota diminta untuk mengenakan pakaian batik dan dipilih pemenang melalui foto yang menerima suara terbanyak di halaman Facebook komunitas.

Tak ingin menjadi tren sesaat, para pegiat Indo Runners sekarang tengah menggodok sebuah  payung hukum untuk menjadikan komunitas ini dalam bentuk yayasan bernama ‘Mari Lari’.  “Kalau tadinya lebih casual, sekarang kami mencoba lebih organize. Hal ini juga untuk tujuan sustainable komunitas yang harus dijaga dari awal,” ujar Yasha. “Kami ingin mengajak semua orang untuk berlari,” tegasnya lagi memberi tanda kutip ketika menyebut semua orang. 

Reza dan para pegiat Indo Runner bertekad  tetap akan memperluas basis komunitas melalui platform social media. Namun bukan sekadar interaksi on line, mereka juga akan lebih memperkuat aktifitas offline, antara lain dengan kopi darat para member yang lebih serius.   

Sejauh ini para penggiatnya memang sudah berusaha mengelola Indo Runners tak berbeda jauh dengan model pengelolaan sebuah merek. Mulai dari menetapkan positioning, segmentasi, targeting, placement, sampai dalam memilih contact point dan tools marketing untuk membesarkannya.   

Dengan kecermatan tersebut, Indo Runners mampu tumbuh dan besar secara terarah, dengan positioning yang mantap. Mereka memiliki bargaining positioning yang kuat ketika berhadapan dengan pemilik brand yang ingin menjalin sebuah kerjasama. Mereka bahkan mengemas sebuah platform kerjasama dalam bentuk technical advice ketika  melakukan aksi ‘jualan’ kepada para sponsorhip potensial.

Untuk lebih memperkuat ekuitas tersebut, mereka juga selektif dalam memilih mitra kerjasama.  “Intinya harus saling membesarkan. Karena itu kita juga pilih-pilih dalam melakukan kerjasama dengan partner yang reputable dan secara pemberitaan bagus,” papar Yasha lagi.

 

Box :

Beberapa Model Kerjasama Indo Runners dengan pihak III

·         Jakarta Sports Week  dengan fX Sudirman

 

            “Bicara olahraga adalah bicara sebuah keputusan dalam gaya hidup, fashion dan trend. Dengan menjadikan olahraga sebagai pilihan gaya hidup masyarakat, melalui Jakarta Sports Week ini kami berharap fX Sudirman bisa terus menjadi destinasi yang dikunjungi secara regular baik masyarakat umum maupun komunitas pelari dan pesepeda sebagai pusat kebutuhan gaya hidup mereka,”kata Denny  Maruhum Pasaribu, VP of Marketing & Commercial PT Plaza Lifetyle Prima, pada press conference Jakarta Sports Week di fX Sudirman, Jumat (31/8/2012) malam.

ir-maylaffayzafX memberikan dukungan penuh pada kegiatan ini. Acara lari malam hari bernama Grand Thursday Night  tersebut menjadi night run pertama di Indonesia  berjarak 5 km yang menggunakan kemeriahan cahaya dari hasil glow stick, powder light, dan material lain sebagai bagian dari kostum peserta.  Sebelumnya pada bulan Februari 2012,  fX juga menggandeng Indo Runners dengan event Female Night Run yang diikuti kurang lebih 150 peserta.

·         Luas (Lari untuk Amal Sosial) – kerjasama dengan Allianz

Program Allianz Jakarta Heart Run 10K diadakan dalam rangka memperingati hari raya Idul Adha 1433 H. Event  diadakan di area Car Free Day, Jalan Jenderal Sudirman – Jl. MH Tamrin, dan juga didukung oleh Yayasan Jantung Indonesia.

LUAS merupakan program amal dari komunitas Indo Runners. Pada event LUAS kali ini setiap kilometer yang ditempuh dinilai sebesar Rp 10.000 oleh Allianz Indonesia. Event diikuti 400 orang peserta, mengambil start dan finish di fX Sudirman.  Setiap pelari diberikan kesempatan untuk lari sejauh mungkin dari pukul 05.00 WIB hingga 09.00 WIB.  Hingga acara selesai, LUAS berhasil mengumpulkan 3.803 Kilometer atau sebesar Rp 38.030.000 untuk didonasikan kepada Rumah Zakat.

Head of Market Management Allianz Life Indonesia, Karin Zulkarnaen, mengatakan, melalui acara ini Allianz ingin memperkenalkan olahraga lari sekaligus mengajak masyarakat untuk berbagi. “Allianz ingin memperkenalkan olah raga lari di masyarakat. Hari ini bertepatan dengan Idul Adha, kami juga ingin menyumbangkan setiap satu kilometer sebesar Rp 10 ribu. Ini juga untuk motivasi kita, bahwa lari bukan hanya untuk sehat tapi juga untuk berbagi,” kata Karin.

 

·         Run Rhino Run – dengan WWF  (12 Juni 2013)

Lomba lari 10K Jakarta dengan tujuan untuk meningkatkan kepedulian publik bagi konservasi badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon.   Diikuti oleh 50 pelari utama yang terpilih dari kompetusi online di jejaring sosial.  Selain ke-50 pelari terpilih, kegiatan yang didukung oleh Balai Taman Nasional Ujung Kulon ini juga terbuka bagi masyarakat dan pemerintah setempat.

Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) memiliki arti khusus bagi WWF Indonesia, karena awal keterlibatan yayasan konservasi ini diawali dengan penelitian mamalia langka ini pada tahun 1962. WWF Indonesia berpendapat upaya konservasi yang dilakukan hanya akan berhasil apabila mendapat dukungan dari masyarakat luas, sehingga satwa ini bisa terselamatkan serta menjadi kekayaan dan kebanggaan bangsa Indonesia ini. Salah satu kegiatan kampanye publik yang dirasa tepat adalah kegiatan lari lintas alam di kawasan penyangga Taman Nasional Ujung Kulon dengan menggandeng komunitas Indo Runners. Food,Fashion&trailFunrun

“Kawasan penyangga Taman Nasional Ujung Kulon memiliki potensi untuk menjadi lokasi yang menarik bagi pecinta olahraga lari,” ungkap Yasha Chatab dari Indo Runners. Yasha menambahkan, Indo Runners berharap dapat memasyarakatkan olahraga lari dengan kegiatan yang kreatif, beragam dan bermanfaat. Pengalaman berlari di kawasan ini akan menimbulkan keinginan untuk menjaga kelestariannya, dan diharapkan peserta akan menyebarkan pesan ini ke publik yang lebih luas.

Kegiatan lari ini menawarkan lintasan unik dan alami, melewati pedesaan dan pantai di kawasan penyangga Taman Nasional Ujung Kulon.  Selain kegiatan lari, peserta terpilih memperoleh pemaparan mendalam mengenai konservasi dan habitat Badak Jawa, kehidupan masyarakat di kawasan penyangga dan potensi ekowisata yang dimiliki oleh kawasan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s