Apa Kabar Packaging Indonesia?

Tren packaging dunia cenderung kembali pada pesan mengenai naturalism dan minimized volume. Bagaimana di Indonesia?

 

Packaging 1(Kontes Best Packaging gawean Majalah MIX – Marcomm semula diadakan setiap tahun. Namun setelah mengamati perkembangan packaging di Indonesia yang ternyata tidak berputar terlalu cepat, penyelenggaraan event dibuat lebih jarang. Event terakhir kami besut tahun 2010 dengan menyertakan beberapa juri dari kalangan professional, akademisi dan pelaku komunikasi. Antara lain Daniel Surya (ketika itu) Country Director the Brand Union Indonesia, Dr.Dudy Wiyancoko, Ketua Divisi Riset Desain Produk Industri FSDR ITB,  Dr. Nugraha Edhi Suyatma, Pakar Rekayasa Teknologi Pangan dan Kemasan IPB, serta Andi S Boediman, Chairman International Design School. Juga Ilyani Sudrajat (YLKI)  dan tak lupa Edhy Aruman dari Majalah MIX.

           Dalam kurun hampir tiga tahun, kemungkinan besar  sudah terjadi cukup banyak perubahan desain kemasan pada berbagai produk. Karena itu, seperti harapan yang disampaikan kepada Dr Dudy Wiyancoko, memang sudah seyogyanya Majalah MIX-Markom kembali menyelenggarakan kontes yang sering ditanyakan oleh para pelaku industri tersebut.

Indonesia Best Packaging Award 2010

Indonesia Best Packaging Award 2010

          Tiga tahun lalu – sebagai ‘serdadu batalyon’ MIX-Markom- saya mendapatkan tugas untuk menyarikan konten seminar “Tren Packaging Indonesia” yang mengawali event Packaging Award 2010.  Sudah berlalu sekian tahun, tren itu tampaknya belum terlalu jauh bergeser. Berikut artikel lawas saya yang dimuat sebagai suplemen di Majalah MIX pertengahan 2010 yang masih relevan untuk dibaca).

Dalam seminar   Trend Packaging Indonesia itu, Daniel Surya membeberkan pengamatannya bahwa salah satu tren yang mulai mengemuka dalam packaging di dunia adalah kecenderungan produsen untuk mengklaim jika produknya memiliki ingredient dan bahan kemasan yang paling natural. Contoh kesadaran akan tren ini tampak pada produk Hand & Body Lotion,Bengkoang Whitening dari Mustika Ratu. Sejak diluncurkan tahun 2000 dengan sangat sadar produsen kosmetika tersebut menonjolkan gambar bengkoang segar dalam label kemasannya. Gambar bengkoang itu semakin diperjelas ketika tahun 209 mereka memutuskan melakukan sedikit penyegaran dengan mengganti desain labelnya. 

Lotion Mustika Ratu - informasi jujur, tidak multitafsir, ergonomis

Lotion Mustika Ratu – informasi jujur, tidak multitafsir, ergonomis

Pada dasarnya, kemasan memang harus memberikan informasi yang jujur dan sesedikit mungkin multitafsir. Ini dipenuhi oleh Whitening Mustika Ratu,” nilai Dudy. Syarat seperti itu, menurutnya, hanya bisa sedikit longgar untuk produk yang positioningnya diarahkan  produk lifestyle semacam cologne Mustika Puteri.   

Begitupun diingatkan bahwa keberadaan kemasan tidak berhenti sekadar pada masalah grafis. Di sana ada factor bentuk dan fungsi yang tidak boleh diabaikan. Kata Dudy, produk tetap memiliki tugas untuk mendekati konsumen dengan kemasan yang ergonomis.

Masih mengambil contoh lotion, Dudy menilai secara umum brand Mustika Ratu dianggap memenuhi keharusan-keharusan kemasan produk hand body lotion. Antara lain kemasan mutlak harus bisa dibuka dengan mudah, lubangnya harus kecil agar tidak mudah tumpah dan badan kemasan harus sangat fleksibel bila ditekan. Juri yang lain, pakar rekayasa teknologi pangan dan kemasan Dr Nugraha Edhi Suyatma memberikan apresiasi atas inovasi system membuka dan menutup pada kemasan produk ini. 

Tren lain yang tidak kalah riuh, lanjut Daniel,   adalah kecenderungan produsen untuk  me-minimize  volume kemasan. Pengurangan ukuran dipertimbangkan akan memberikan kesan lebih sehat karena diasumsikan akan mengurangi pola konsumsi pada konsumen. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian karena pola konsumsi konsumen akhirnya malah menjadi lebih sering.

Slim - memberi kesan 'lebih sehat'

Slim – memberi kesan ‘lebih sehat’

Apapun alasannya, pengurangan volume ini telah ditempuh oleh Sampoerna Avolution yang dua kali menang dalam award MIX tersebut.  Dudy memberikan apresiasi kepada rokok keluaran PT HM Sampoerna, Tbk tersebut  karena lebih berani memperkecil kemasan meski secara perseptual publik kemasan seperti itu tidak mewakili kemasan rokok.  Sejak diluncurkan awal 2007, desain Avolution yang merupakan hasil kerjasama PT HM Sampoerna dengan Landor Agency memang langsung terlihat stand out. Bentuknya yang slim memungkinkan Avolution tampil dalam bentuk vertikal  yang modern dengan menggunakan desain batik khas Sampoerna. “Kami mengusung konsep inovasi pada produk dan kemasannya. Avolution adalah rokok slim kretek pertama di dunia,” ujar Yudy Rizard Hakim, Head of Public Relations PT HM Sampoerna, Tbk kepada majalah MIX ketika itu.

           Karena kerampingan bentuknya -sekalipun merupakan rokok kretek- kadar tar dan nikotin Avolution diklaim sama dengan A Mild (rokok putih), yakni 14 mg tar dan 1.0 mg nikotin. Klaim ini cocok dengan hipotesa Daniel tentang persepsi sehat yang dikemukakan di atas.    

Pertanyaan yang muncul kemudian, pertimbangan apa saja yang mendasari penciptaan kemasan bagi suatu produk dengan karakter tertentu? Retno Pratiwi, yang saat itu memegang posisi Product Manager Mustika Ratu Brand mengungkapkan, proses penciptaan packaging biasa didahului dengan survey untuk mengidentifikasi permintaan pasar. Hasil consummer insight tersebut kemudian diolah oleh bagian Research & Development untuk mendapatkan kemasan yang dianggap paling cocok dengan karakter produk. “Pertimbangan pertama biasanya adalah handling,  yang paling mudah digenggam,”ujarnya. Konsep tersebut biasanya lalu diujicoba kepada konsumen sebelum diputuskan masuk ke pasar secara masal.

          Setelah faktor fungsional, barulah menyusul unsur estetika menjadi pertimbangan. Faktor ini sangat penting terutama untuk merek yang diposisikan sebagai produk lifestyle. Maka tidak mengherankan kalau Avolution yang membidik kalangan premium tampil dengan identitas desain dan warna yang terkesan modern, ekslusif, dan maskulin. Kombinasi warna abu-abu tua dengan font putih yang simple dan modern plus simbul huruf A berwarna merah yang merupakan ciri khas Sampoerna, konon merupakan style yang sangat disukai pria-pria muda.   

 Lifetime Tergantung Segmen

 Pada umur berapa kemasan akan menjadi basi? Pertanyaan ini ternyata memiliki jawaban yang relatif. Untuk produk yang menyasar segmen matang, semacam Lotion Mustika Ratu (sasaran segmen usia 18 tahun ke atas), satu dasa warsa ternyata belum dianggap  cukup untuk membuat kemasan menjadi kuno. Nyatanya, sampai saat ini produk tersebut masih dikemas dalam botol putih gendut yang terlihat gepeng jika dipandang dari samping.  “Kami kira sampai sekarang kemasan produk kita masih tetap yang paling unik dan stand out dibandingkan kompetitor,” tambah Retno percaya diri. 

Puteri Miss Cologne

Puteri Miss Cologne

Retno percaya lifetime packaging sangat tergantung oleh segmentasinya. Maka tidak heran kalau kemasan produk sister company-nya yakni cologne Mustika Puteri pada umurnya yang belum satu dasawarsa sudah berganti kemasan sampai  lima kali. “Untuk cologne, kita harus sangat inovatif karena bermain di dunia remaja. Yang penting kita ikuti pergerakan market,” tambah Martina Tesalonika LG, Product Manager Mustike Puteri. 

         Baik Retno maupun Martina mengaku sejauh ini perubahan packaging produk-produk mereka selalu mendapat respon positif dari pasar. Indikatornya langsung terlihat dari kenaikan penjualan. Ketika baru dilakukan repackaging cologne Puteri di akhir 2009,  menurut Martina, penjualan mereka berhasil naik lebih dari lebih dari 15%  dibandingkan selama selama  kurun 2008-2009.

      Begitupun keputusan untuk mengubah kemasan pantas diperhitungkan dengan sangat berhati-hati. Jika tidak dikomunikasikan dengan baik strategi ini bisa menjadi blunder karena kehilangan identitas awal.

tidak crowded

tidak crowded

       Maka bisa dimengerti, saat Sarimi berganti kemasan dengan warna-warni yang sangat atraktif, gambar Jin jenaka tetap dipertahankan dalam posisi yang makin tegas. Sebagai identitas produk Sarimi, ikon ini bahkan semakin menguat karena dalam komunikasi above the line (iklan)nya ketika itu, ditampilkan dengan personifikasi nyata melalui endorser selebriti Irfan Hakim.

           Kemasan Sarimi Soto Koya Pedas yang dalam penilaian kemarin mendapatkan lima perunggu dinilai Andi S Boediman, salah satu juri yang merupakan Chairman International Design School, mampu keluar dari kemasan mie instan yang saat ini dipandang very crowd karena tampil agak lebih menonjol dibanding merk lainnya. ***

 GreenPackaging

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s