PR – Ajinomoto

Membongkar Stigma yang Sudah Berkerak

Ini cerita  nyata tentang upaya membongkar stigma negative yang sudah berkerak selama lebih dari 30 tahun. Tokoh utamanya memiliki merek dagang Ajinomoto, raksasa sekaligus perintis industry seasoning MSG di dunia.

Iklan Ajinomoto

Iklan Ajinomoto

Adegan dimulai  tahun 1968 oleh seorang peneliti senior di National Biomedical Research Foundation Maryland bernama Dr. Robert Ho Man Kwok.  Alkisah, dokter ahli  itu merasa mual, pusing, haus (mulut terasa kering), rasa kebas di bagian belakang leher yang secara bertahap menjalar pada kedua lengan dan bagian belakang tubuh setiap kali usai makan di restoran Cina.

Pengalaman itu kemudian ia publikasikan pada surat pembaca di  The New England Journal of Medicine, sebuah jurnal ilmiah kedokteran di Amerika Serikat. Secara pribadi, dia menduga, gejala –yang  kemudian disebut sebagai Chinese Restaurant Syndrome (CRS) – itu diakibatkan oleh konsumsi garam, angchui (anggur masak), kecap asin,dan juga monosodium glutamate (MSG) yang biasa dibubuhkan dalam hidangan-hidangan di restoran Cina.  

Tanpa sebab yang jelas, sindrom restoran Cina itu menyebar luas, terutama melalui media masa. Namun sialnya, seperti dikisahkan oleh Fachrurozy, Departemen Manager PR Ajinomoto Indonesia,  secara eksklusif fenomena tersebut selalu hanya dikaitkan dengan MSG.  Maka sejak tahun 1969, stigma negatif  terkait dengan keamanan produk MSG berkembang seperti virus. Menyebar ke seluruh dunia dan menempel ketat sampai sekarang.

Ajinomoto tercatat sebagai perintis industry MSG di dunia. Awal mulanya adalah penemuan sebuah sumber rasa gurih dari kaldu rumput laut oleh Dr Kikunae Ikeda pada tahun 1908 yang kemudian dinamakan Umami. Istilah ini  merupakan bahasa Jepang yang berasal dari kata “umai“. Artinya sama dengan “savoury”, “deliciousness,” “brothy.”  

Dr. Kikunae Ikeda

Dr Kikunae Ikeda, penemu rasa Umami

 

Setahun setelah penemuan itu, diproduksi bumbu masakan yang menjadi sumber rasa umami dengan merek dagang Aji-No-Moto. Dan pada tahun 1980-an, rasa umami diakui dunia sebagai rasa dasar ke-5, berbeda dari rasa dasar (asam, manis, asin, pahit) yang telah dikenal sebelumnya.

Dengan kepeloporan masyarakat Jepang, produk-produk bumbu masakan berbasis MSG  ini berkembang dan menyebar ke seluruh dunia. Sehingga selama 100 tahun penemuan,  Ajinomoto telah digunakan luas di hampir 100 wilayah dan negara.

Di Indonesia,  Ajinomoto sejatinya telah beredar sebelum proklamasi kemerdekaan. Namun produksi resmi di tanah air dimulai dengan pendirian pabrik MSG di Mojokerto pada tahun 1969 . Tahun yang sama dengan mulai merebaknya isu mengenai keamanan MSG di dunia barat.

Entah berkaitan dengan isu atau tidak, beberapa tahun kemudian, Sasa dan Miwon menyusul langkah Ajinomoto dengan mendirikan  pabrik di Jawa Timur. Masing-masing di Gresik (Miwon) serta Probolinggo dan Sidoarjo (Sasa). Pada praktiknya, sampai sekarang ketiga merek itu merupakan pemain utama MSG di Indonesia. Sementara sekitar tujuh merek MSG lainnya hanya mengekor lantaran kapasitas produksi yang tidak terlalu besar.

Ketiga merek besar itu bersaing ketat, baik dalam berebut pasar domestic maupun internasional. Apalagi ketika mereka sama-sama melakukan ekspansi dengan membuka perusahaan baru. Ekspansi ini dilakukan karena dua sebab. Pertama, permintaan MSG terus meningkat dari tahun ke tahun. Dan kedua, mereka juga mulai menyasar pasar ekspor.

Selama lebih dari  40 tahun beredar di Indonesia, Ajinomoto mengembangkan produknya dengan berbagai varian produk seasoning dengan berbagai brand. Antara lain yang cukup dikenal adalah   Masako , Sajiko dan Saori. Saat ini seperti diungkapkan Ozy, begitu Fachrurozy biasa disapa,  Ajinomoto berhasil mencengkeram pangsa pasar sekitar 31% dan berada di urutan kedua setelah Sasa.

 

Tidak Termakan Isu

Isu mengenai kesehatan yang dikaitkan dengan MSG  sebenarnya juga merebak di Indonesia, tepatnya mulai terasa sekitar tahun 1978. Namun berbeda dengan kejadian di dunia barat, menurut pengakuan  Ozy, isu tersebut sama sekali tidak berpengaruh terhadap penjualan Ajonomoto.  Penjualan Ajinomoto di Indonesia senantiasa stabil dari tahun ke tahun, dengan kisaran pertumbuhan sekitar 9% per tahun selama setengah dasawarsa terakhir.

Jika dikaitkan dengan trend Penjualan, dari tahun-ke tahun penjualan kami terus meningkat. Ini tentu sangat kontras dengan persepsi yang masih ada pada key opinion leader,” ujar Ozy.  Dikatakan juga, permintaan pasar –baik di pasar tradisional maupun modern market, terhadap produk MSG senantiasa tinggi.  Dan tampaknya, potensi pasar itu juga sangat disadari oleh produsen dari Cina sehingga banyak pemain MSG dari sana yang mengekspor produknya ke sini.

Keadaan ini sangat berbeda dengan peristiwa tahun 2001 ketika bertiup isu yang mempermasalahkan kehalalan Ajinomoto. Sekadar mengingatkan, ketika itu para ulama sampai harus bersidang untuk membahas hukum-hukum fikh sebelum akhirnya memutuskan haram berdasarkan sikap kehati-hatian sesuai dengan syariat Islam.

Isu itu menurut Ozy telah menurunkan penjualan Ajinomoto secara drastis. Namun kondisi bisa diatasi setelah tiga bulan kemudian LPPOM MUI menerbitkan sertifikata halal yang baru dari LPPOM MUI. Keluarnya sertifikat baru itu kemudian  ditindaklanjuti  Ajinomoto dengan melakukan komunikasi secara aktif kepada masyarakat,  sehingga beberapa tahun kemudian penjualan bisa dipulihkan.

Kendati mengaku  sampai saat ini isu keamanan MSG  tidak memberikan pengaruh terhadap penjualan produk, Ajinomoto Indonesia tampaknya tetap menganggapnya sebagai bahaya laten yang setiap saat bisa membahayakan posisi mereka di peta industri seasoning dunia. Ozy berargumen, sebagai perusahaan yang memproduksi MSG di Indonesia dan juga produsen terbesar dunia, mereka mempunyai tanggung jawab moral pada masyarakat untuk meluruskan persepsi negatif tentang MSG.

Secara terstruktur mereka kemudian menyusun strategi PR guna membalikkan stigma negatif tersebut. Strategi yang dipilih adalah melalui pemaparan fakta-fakta ilmiah.  Dalam hal ini mereka berusaha menjalin kerjasama dengan berbagai key opinian leader yang datang dari lingkungan ahli gizi, dokter, guru, kalangan ilmiah, termasuk media massa, dengan pemaparan hasil-hasil penelitian terbaru tentang MSG.  

Media yang digunakan biasanya berupa symposium ilmiah, baik dalam skala nasional maupun di daerah-daerah , dengan mengundang para ahli baik dari luar maupun dalam negeri. Model symposium ini mulai mereka lakukan sejak tahun 2009.   Setahun sebelumnya mereka juga sudah merintis beberapa aktifititas bermodel seminar.  Menurut Ozy, dalam setahun paling tidak Ajinomoto mengadakan seminar 20 kali di berbagai kota seluruh Indonesia.

Aktifitas PR Ajinomoto ke dunia akademis

Aktifitas PR Ajinomoto ke dunia akademis

 

Para ahli gizi dan calon ahli gizi, dokter dan calon dokter menjadi sasaran komunikasi lantaran segmen tersebut dianggap sangat paham dengan ilmu biologi, kimia, gizi dan keseharian. Segmen ini dipandang paling mudah memahami fakta-fakta yang bersifat ilmiah seputar MSG.

Kelanjutannya, para key opinian leader tersebut diharapkan dapat memberikan penjelasan mengenai apa sebenarnya MSG kepada masyarakat umum. Pesannya sangat jelas : jangan takut mengonsumsi MSG karena produk ini aman dan sudah dipakai lebih dari100 tahun. Untuk memperkuat pesan mereka juga selalu mencatumkan aturan pemerintah tentang BTP (Bahan Tambahan Pangan) yang aman,  yaitu Permenkes RI/no 722/Menkes/Per/IX/88 tgl 20/09/1988. “Jika MSG berbahaya, pasti pemerintah juga tidak akan mengeluarkan izin ini dan MSG tdak bisa beredar di seluruh Indonesia,” tambah Ozy berargumen.  

Selain berbagai syimposium ilmiah, untuk segmen umum Ajinomoto juga banyak melakukan sosialisasi ke pasar-pasar. Kegiatan komunikasi  yang memasang tema “Mari Tahu Ajinomoto” itu dilakukan dengan menyebarkan brosur yang mengabarkan bahwa Ajinomoto aman dan terbuat dari bahan alami. Dengan pesan yang sama, kemasan produk Ajinomoto sekarang sudah ditambahkan gambar pohon tebu agar konsumen paham bahwa bahan baku MSG berasal dari alam (natural).

Tahun 2009, bersamaan dengan renovasi kantor yang terletak di Sunter, Ajinomoto juga membangun fasilitas Dapur Umami. Dengan tujuan untuk lebih mendekatkan diri kepada konsumen, di Dapur Umami dibesut berbagai aktifitas off air semacam demo masak yang menghadirkan chef-chef terkenal. Target audience-nya adalah ibu-ibu PKK, dari Majelis Ta’lim dan juga kosumen yang berada di seputar Jakarta. Dalam event tersebut tak pernah lupa Ajinomoto memberikan info untuk meluruskan keamanan dan kehalalan produk MSG. 

Dengan konsep yang sama, tim Ozy juga menjalin kerjasama dengan beberapa rumah sakit melalui juru masak dan ahli gizinya yang diundang ke dapur Umami. Chef-chef ternama didatangkan untuk mengajarkan beberapa menu baru untuk pasien rumah sakit. “Dan tentunya  tetap menggunakan Ajinomoto (MSG) dalam menu masakannya,” tambahnya.

dapur umami

dapur umami

Untuk segmen yang lebih masal, mulai 2010 Ajinomoto meluncurkan iklan Umami.  Anda tentu masih ingat adegan seorang ibu memasak dan berguman,”Mengapa Ajinomoto lebih gurih ya?”  Dan tiba-tiba muncul seorang pria berkostum makhluk angkasa luar yang menggendong bilah tebu sambil berkata,”Itu Umami”.  

Menurut Ozy, TVC  tersebut memang dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada audience mengenai Umami, dan salah satu sumber umami adalah MSG. Obectivenya agar konsumen memahami Umami sebagai rasa dasar ke lima dengan MSG sebagai sumber umami murni, alami dan aman. Selain seri Umami, Ajinomoto juga  membesut iklan yang membawa pesan bahwa Ajinomoto dibuat dari tetes tebu pilihan.

Pada akhirnya Ozy menutup pembicaraan dengan kesimpulan,“Pelajaran yang patut dipetik dari berbagai peristiwa selama ini adalah,kami harus selalu menjelaskan apa itu MSG karena banyak informasi yang salah di masyarakat. Dan di sini peran media tentu sangat penting.”

(artikel ini sudah pernah dimuat di majalah MIX – Markom)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s