Jokowi (1)

 “PERSONAL BRANDING, terbukti mampu menyulap loyang hingga terlihat emas. Waktu yang akan membuktikan apakah emas itu benar-benar emas atau sekadar sepuhan yang akan luntur ketika yang bersangkutan tidak mampu bersikap konsisten, hingga terjadi gap yang semakin lama semakin besar antara image yang ditampilkan dengan genuine personality-nya. Setelah tiga tahun berlalu, artikel yang saya tulis di tahun 2012 ini memberi pelajaran berharga tentang betapa “sakti”nya strategi personal branding untuk membius massa dan mempengaruhi sejarah bangsa…”

Jokowi - The Spirit of Java (foto : Tribun News)

Jokowi – The Spirit of Java (foto : Tribun News)

Pamor Joko Widodo semakin melejit ketika ia dinilai sebagai walikota terbaik di tengah kosongnya teladan kepemimpinan di tanah air.  Secara sadar, Jokowi ternyata menerapkan prinsip bisnis dalam membangun personal brandingnya. 

 

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo menuduh Walikota Solo Joko Widodo  ‘cari muka’ ketika memindahkan plat nomor AD 01 A dari kendaraan dinas Camry tuanya pada mobil Kiat Esemka rancangan siswa-siswa SMK Surakarta.  Secara tersirat, Pak Gubernur seperti ingin mengatakan bahwa bawahannya itu telah memanfaatkan mobil Kiat Esemka sebagai bahan komunikasi politik karena mengharapkan muncul pencitraan. Yaitu  tentang sosok Jokowi – begitu brand yang kemudian menempel kuat pada Joko Widodo –  yang apresiatif dan

Jokowi di atas kap mobil Esemka  (foto :Tribun News)

Jokowi di atas kap mobil Esemka (foto :Tribun News)

mendukung karya anak bangsa. 

Jika Bibit seorang teoritikus, demikian duga Gunawan Permadi yang ditulis pada blog Suara Merdeka di  hari ketiga tahun 2012, mungkin ia akan mengatakan kalau keputusan Jokowi menggunakan Kiat Esemka sebagai mobil dinas itu lebih merupakan bagian dari komunikasi politik simbolik dan bukan sebagai keputusan kebijakan public. Pasalnya, elemen-elemen simbolik terasa lebih kuat dibandingkan elemen-elemen rasional. Pertimbangan-pertimbangan rasional teknis, seperti  aspek uji kelayakan dan sertifikasi produk, berada di belakang pertimbangan-pertimbangan pesan simbolik seperti apresiasi atas kreatifitas, nasionalisme, kebanggaan anak bangsa dan semacamnya.

Alih-alih menyetujui pendapat  Pak Gubernur, public mati-matian membela langkah  sang Walikota. “Dukungan Jokowi bukanlah sekadar cari muka, tapi membantu menaikkan kepercayaan diri anak bangsa untuk berdiri di kaki sendiri, di rumah sendiri. Bukan selamanya menjadi budak di negeri merdeka ini,” begitu tulis  seorang bloger Banyumasan bernama Triyanto.

“Silakan tanya orang Solo, yang cari muka siapa, yang merakyat siapa. Jokowi  jadi walikota dua periode ga pernah pasang baliho muka,” tulisnya emosional seraya membandingkan baliho, banner dan spanduk dari pejabat bersangkutan yang  tersebar sampai ke kecamatan-kecamatan. Si penulis selanjutnya bertanya apakah yang bersangkutan takut tersingkir pamornya di mata rakyat, dikalahkan oleh seorang walikota? “Ya, wajarlah, lha wong Jokowi sudah terbukti kok..”pungkasnya telak.  

Jokowi Mencium Tangan Bibit Waluyo (ffoto : VivaNews)

Jokowi Mencium Tangan Bibit Waluyo (ffoto : VivaNews)

Nyatalah, sikap Jokowi yang tidak memperlihatkan perlawanan atas tuduhan atasannya telah mendapatkan pembelaan spontan dari para pendukungnya. Beberapa tokoh dari lingkungan kampus semacam sosiolog Imam Prasodjo dan Ari Dwipayana, juga sependapat jika manuver Jokowi dengan Esemka-nya bukanlah cari muka. Dari kalangan politisi, Sekjen Golkar Idrus Marham juga urun pendapat bahwa aksi Jokowi bukanlah bentuk pencitraan.  Secara riil, dukungan berbagai lapisan masyarakat mengalir dalam bentuk ribuan pesanan terhadap mobil Kiat Esemka. 

Boleh saja public melakukan pembelaan mati-matian untuk melawan pendapat yang mengatakan Jokowi tengah melakukan pencitraan. Namun jika dilihat  dari sudut pandang ilmu komunikasi, tetap bisa dilihat bahwa Jokowi telah membangun brand-nya secara intens sejak terpilih di periode pertama tahun 2005. Memang bukan dalam bentuk baliho atau pencitraan vulgar yang banyak dilakukan para pencari kekuasaan. Namun melalui kerja nyata dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang sudah seharusnya menjadi proporsi seorang pejabat public.

 

Brand Building dengan Melayani 

Jokowi nyapu pasar

Tahap pembangunan brand Jokowi dimulai dengan misi mengubah mental birokrat dari dilayani menjadi melayani. Proyek pertamanya adalah program pengurusan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dalam satu jam dengan biaya Rp 5000,- saja.  Proyek ini sukses besar dan  langsung menjadi referensi semua pemerintahan daerah di tanah air kendati untuk itu Jokowi membayar cukup mahal. Empat orang  camat dan lurah bawahannya dilemparkannya dari jabatan karena tidak mendukung program sejak awal, lantaran tidak yakin system itu bisa dijalankan.

Setelah itu dengan kesadaran penuh Jokowi melakukan pencitraan untuk wilayah pemerintahannya, bukan diri pribadi. Jokowi pemda soloSolo dibranding dengan “the Spirit of Java”.  Kantor kelurahan dan kecamatan dibenahi agar tidak terlihat kumuh. Bukan hanya dari bangunan fisik, aparat-aparat yang mengoperasikannya pun diharuskan berpenampilan rapi dengan standar pelayanan semodern bank.

Pengurusan izin birokrasi dilakukan secara one stop service, dengan cepat dan ada kepastian kapan izin bakal keluar. Semua transparan, termasuk besaran biaya, tanpa ada suap-menyuap. Tak heran jika ia juga diakui sebagai pejuang yang berhasil mengubah system birokrasi yang selama ini subur dengan kultur korupsi. Lebih spekatakuler lagi, Jokowi juga diberitakan tidak pernah mengambil jatah gaji bulanannya.

Brand Jokowi akhirnya dikenal public dengan positioning sebagai pribadi yang sederhana dan dekat dengan rakyat. Dalam akun twitter @jokowi_dodo yang memilliki hampir 100 ribu follower, ia mencantumkan biografi dalam kalimat ,”Pengennya sederhana dalam kesederhanaan.”   Prinsip ini juga berulangkali ia tegaskan dalam berbagai wawancara,”Simple saja. Saya prinsipnya hanya bekerja untuk rakyat.”

Tak sekadar jargon, kebersahajaan itu juga ia perlihatkan dalam pola konsumsinya ketika memutuskan untuk tetap memakai mobil dinas tua bekas pendahulunya. Melalui kesederhanaan itu ia  lebih mudah melakukan pendekatan kepada rakyat. Pendekatannya yang bersahaja dan  ‘nguwongke’ menjadi factor penting keberhasilannya dalam memindahkan ratusan pedagang kaki lima (PKL) yang sudah puluhan tahun berjualan dan tinggal di Banjaransari tanpa kekerasan. Para pedagang PKL itu sukarela membongkar sendiri lapaknya,  dan kemudian pindah ke tempat baru dengan hati gembira. jokowi-pkl 

Tak ada pentungan dan tameng satuan pamong praja (Satpol PP) apalagi letusan pistol polisi. Sehingga lebih dari itu, ia sekaligus berhasil megubah citra Satpol PP yang sangar dengan citra yang lebih mengayomi. Sentuhan pengayoman tersebut makin terasa saat ia memasang beberapa pamong praja perempuan yang lebih luwes.

Jokowi  adalah figure pemimpin yang percaya pada kekuatan komunikasi-dialog sebagai senjata andalan. Untuk mendekati para PKL tersebut, ia  berpuluh kali mengundang perwakilan para pedagang.  Pada awal-awal pertemuan ia tidak pernah membicarakan relokasi sama sekali di hadapan para pedagang yang selalu didamping awak LSM. Dan baru pada perjamuan ke 54 –sekali lagi ke-54-  ia mulai mengutarakan niatnya.

Sejumlah konsep ia utarakan tentang masa depan PKL nantinya. Semua jelas, di mana mereka akan diberi tempat, bagaimana infrastrukturnya, bagaimana pembiayaannya, sampai ke peluang omsetnya. Butuh sejumlah negosiasi lagi untuk meluluhkan hati para PKL dan  menundukkan kekerasan LSM pendamping. Dan ketika kesepakatan tercapai, kekuatan dialog itu menancapkan monumenya melalui arak-arakan ribuan PKL yang boyongan ke lokasi baru.

Jokowi yang berlatarbelakang eksportir produk kayu menjadi makin populer sebagai pemimpin yang berpihak kepada rakyat karena kebijakannya untuk memberdayakan dan merevitalisasi pasar tradisional ketimbang supermarket besar. Berdasarkan perhitungan praktisnya, pasar2-370x269pasar tradisional dinilai lebih memberi manfaat bagi hajat hidup orang banyak dan memberi peluang pemasukan besar buat pemerintah daerah. Pilihan ini kembali harus dibayar mahal karena ia harus berseteru dengan Gubernur Bibit Waluyo yang ingin merubuhkan bangunan bersejarah Saripetodjo menjadi sebuah mal.  

Beruntung keyakinannya terbukti benar. Sejak dibangun dan ditata kembali, sumbangan pasar tradisional melonjak menjadi Rp 12 miliar pada tahun 2008 dan melompat lagi sampai Rp 19 miliar tahun berikutnya. Jauh lebih besar dibandingkan  kondisi sebelum revitalisasi yang rata-rata hanya berkisar Rp 7 miliar per tahun. Pendapatan tersebut juga melampaui sector perhotelan yang kontribusinya masih berkisar Rp7 miliar, terminal Rp2,8 miliar, iklan Rp 4 miliar dan parkir Rp 1,8 miliar.

Jokowi juga terus mengembangkan Solo menjadi kota wisata dengan mengembangkan sector kuliner dan wisata budaya sebagai andalan. Termasuk memberdayakan pasar Klewer sebagai ikon wisata belanja. 300712_SOLO_TURIS_BUR3Keberhasilan Solo menjadi tuan rumah Konferensi Organisasi Kota-Kota Warisan pada Oktober 2006 dan tuan rumah Festival Musik Dunia pada 2007 membuktikan bahwa  Solo layak menjadi kota MICE.

Memenangkan Massa yang Heterogen

Mengelola kota Solo yang akrab dengan tradisi kekerasan, Jokowi memilih tidak menonjolkan identitas keyakinan secara berlebihan. Ia tidak pernah menuliskan huruf H di depan namanya, dan hubungannya dengan wakilnya yang bernama FX  Rudyatmo pun terkesan harmonis. Terbukti ketika kebijakan Esemka-nya dipojokkan oleh Bibit, Rudyatmo-lah yang maju ke depan menjadi ‘bemper’ Jokowi melawan serangan wacana.

Ada yang  menyebut Solo sebagai kota bersumbu pendek karena mudah meledak dan bukan sekali balaikota dibakar massa lantaran terjadinya konflik social.  Namun Jokowi mampu memenangkan hati hampir semua komponen masyarakat. “Di sini segala yang ekstrim ada, lengkap. Ekstrem kiri ada, ekstrem kanan banyak. Tapi ternyata jika kita memberi contoh yang baik, masyarakat juga akan mengikuti,” ujarnya yakin.

Kearifannya menghasilkan kecintaan public yang kental dan terwujud menjadi sikap ikut bertanggungjawab ketika ada problem yang menimpa kota.

Memenangkan Massa Heterogen (foto : Kompas)

Memenangkan Massa Heterogen (foto : Kompas)

Dalam rintik gerimis awal Januari 2012 lalu, ratusan warga Solo beramai-ramai mengantarkan Jokowi dan Rudyatmo ke gedung PLN untuk melunasi tunggakan listrik setelah terjadi pemadaman lampu sepanjang jalan utama kota Solo.  Menegaskan dukungan serta sikap ikut bertanggungjawab karena tunggakan itu bermuara pada mekanisme APBD yang belum disetujui, sejumlah anggota DPRD ikut dalam rombongan dan mengawasi penyerahan lima kantong hijau berisi uang senilai Rp8,9 miliar. Tak pelak adegan ‘teatrikal’  tersebut mendapat blow up puluhan media, yang selalu haus terhadap setiap  berita-berita gurih   seputar Jokowi.

Citra Jokowi pun melesat beriringan dengan naiknya pamor kota Solo. Branding Jokowi terbangun seiring dengan tumbuhnya kepercayaan masyarakat. Melalui prestasi yang ditoreh, ia tidak perlu membayar media untuk pencitraan.  Kepemimpinan Jokowi pun diakui hampir semua elemen bangsa, sehingga pemerintah tak ragu memilihnya sebagai walikota terbaik 2010.  PDIP – partai yang mengusungnya – kemudian mengusungnya sebagai salah satu kandidat gubernur DKI Jakarta. 

jokowi- tukang becakJokowi sendiri ternyata punya kesadaran penuh dalam membranding personalnya.  Seperti pernah ditulis Republika,  karena percaya pada prinsip  tersebut Jokowi sengaja tidak memasang wajahnya pada berbagai baliho atau spanduk pencitraan yang umum dilakukan para kandidat legislative maupun eksekutif dalam menuju kursi kekuasaan. Jokowi memilih branding melalui penataan PKL, perubahan manajemen pelayanan administrasi publik hingga penataan kawasan. Dan terbukti, langkah yang terkadang kontroversial itu, membuat dia lebih populer lagi.  Dan setelah manajemen produk dan branding terbangun, prinsip terakhir yang dia terapkan adalah manajemen customer. Layani masyarakat sebaik-baiknya.

”Terapkan saja tiga itu, di bisnis, ya itu, di politik juga itu,” pungkasnya. Tiga cara ini terbukti membuat Jokowi berhasil mempertahankan jabatan Walikota untuk periode keduanya yang seharusnya berlangsung sampai 2015 nanti. Dengan jumlah suara yang mencapai 91 persen saat Pemilu 2010 lalu, Jokowi menunjukkan kemapanan kepemimpinannya yang ditopang kepercayaan masyarakat Solo. Dengan cara itu pula, Jokowi sukses memenangkan suara rakyat Jakarta sehingga wong Solo ini dipercaya memimpin DKI sebelum masa jabatan walikotanya berakhir. (Tulisan ini pernah dimuat di Majalah MIX – Marcomm) 

Image-Jokowi-Goodbye-SOLO-Welcome-to-JAKARTA– nantikan ulasan personal branding Jokowi (2) : Menuju DKI-1 – berikutnya-

 

4 thoughts on “Jokowi (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s